
Daisy sedang lari pagi di lapangan olahraga di belakang rumah utama. Dia senang menghirup udara pagi yang segar. Suasana masih sepi. Mungkin penghuni rumah lain masih sibuk di dalam rumah di waktu sepagi ini. Sebenarnya tidak terlalu pagi, karena waktu sudah menunjukkan jam tujuh.
.
Biasanya Daisy melakukan lari pagi dua kali dalam seminggu. Selebihnya olahraga di ruang olahraga di rumahnya.
Selepas berolahraga biasanya beristirahat selama dua puluh menit lalu mandi. Setelah mandi, dilanjutkan sarapan.
Seharusnya tadi pagi jam enam, sarapan bersama kakek dan nenek. Tapi kali ini tidak diadakan karena Kakek sedang ada perjalanan ke Perancis bersama Nenek. Kemungkinan baru akan pulang nanti malam.
Hari ini dia dan Clarissa berencana pergi menonton bioskop di sore hari. Mereka baru mendapat ijin pergi tanpa bersama orangtua, karena Daisy sudah berusia 17 tahun sekarang. Clarissa selama ini tinggal di asrama, mereka jarang sekali bermain bersama. Kecuali jika liburan sekolah. Clarissa kadang mengajak Daisy pergi bersamanya dan orangtuanya, paman Roger dan bibi Kelly. Mereka memang paman dan bibi yang paling ramah dibanding yang lain yang terlihat tidak peduli.
Saat ini Clarissa masih menunggu masa perkuliahan dimulai dan Daisy juga tinggal menunggu acara wisuda besok pagi. Mereka memutuskan menghabiskan waktu bersama. Karena lusa Daisy sudah mulai bekerja di perusahaan kakek. Bisa jadi mereka tidak ada waktu untuk bermain bersama lagi.
Clarissa berencana melanjutkan kuliah di kota Brown. Mengambil jurusan desain interior. Dan sudah mendaftar di kampus tempat Daisy kuliah. Setahun kemarin, Clarissa tinggal di Amerika bersama neneknya. Dia mengambil kuliah singkat desain interior di sana.
"Heii..bebek buruk rupa. Tunggu..." Cleo mengejar Daisy dengan nafas tersengal. Daisy tidak menggubrisnya. Dia tidak merasa dipanggil. Karena dia bukan bebek buruk rupa.
Cleo kepayahan mengejar Daisy. Akhirnya dia menyerah dan duduk di bangku di pinggir lapangan. Daisy menyelesaikan satu putaran lari. Dia berhenti sejenak untuk minum. Cleo bergegas mendekatinya.
"Hei kamu...Aku peringatkan. Jauhi Maxi atau kamu akan tanggung akibatnya" Cleo berdiri di depan Daisy.
Daisy hanya melihatnya sekilas.
"Aku tidak pernah mendekatinya. Dia yang dekati aku. Seharusnya kamu katakan itu kepada Maxi bukan kepadaku"
"Lagipula kita semua sepupu. Kenapa aku harus menjauhinya?" ucap Daisy lalu melanjutkan berkeliling lapangan.
Cleo mengepalkan tangannya. Dia mengejar Daisy. Tapi dia tidak bisa karena tidak suka berolahraga. Dia tidak suka berkeringat dan terkena sinar matahari. Dia lebih senang pergi ke salon dan spa untuk memanjakan diri. Jika ingin menggerakkan tubuh, dia lebih memilih pergi ke club dan melakukan dance bersama teman-temannya.
Nampak Maxi memasuki lapangan olahraga. Dengan cepat dia bisa mengejar Daisy dan berlari di sebelahnya. Lalu menoleh ke arah Cleo yang kepayahan mengejar mereka.
"Kenapa wajahnya terlihat kesal?" gumam Maxi.
"Dia memintaku menjauhimu. Aneh sekali. Seharusnya dia berkata itu kepadamu. Kamu yang selalu berusaha mendekati aku, bukan sebaliknya" sahut Daisy semakin mempercepat larinya. Maxi tertinggal.
Maxi mempercepat larinya mengejar Daisy. Daisy semakin mempercepat lagi. Maxi tertawa seraya menahan perutnya yang ikut berguncang. Karena dia tahu Daisy sedang mengerjainya. Daisy melambatkan kecepatan larinya. Saat Maxi sudah hampir dekat, Daisy kembali melesat cepat.
"Lihat saja akan kukalahkan kamu" teriak Maxi. Daisy menoleh seraya tertawa.
"Cobalah kalau bisa" Daisy semakin melesat lari.
Maxi mengejar dengan kecepatan paling maksimal yang dia bisa. Daisy tertawa meledek melihat Maxi yang nampak kepayahan. Maxi akui, dia memang sudah lama tidak melakukan lari pagi. Tapi kenapa Daisy bisa berlari sangat cepat? Padahal yang Maxi tahu, berjalan saja Daisy selalu lambat.
Tiba-tiba Maxi terjatuh, tangannya memegang kakinya sambil meringis kesakitan.
__ADS_1
Daisy segera berbalik menuju Maxi. Sepertinya dia tidak melakukan pemanasan sebelum berlari tadi, pikir Daisy.
"Apakah kakimu keram?" tanya Daisy lalu berjongkok di samping Maxi.
"Sepertinya begitu" jawab Maxi.
"Luruskan kakimu supaya ototnya rileks. Sepertinya kamu tidak melakukan pemanasan sebelum olahraga" gumam Daisy sambil duduk. Lalu meraih botol obat hangat dari dalam tas pinggangnya. Dia mengoleskan botol berbentuk roll on itu ke kaki Maxi.
"Kamu lari terlalu cepat" ucap Maxi. Tapi matanya tak berkedip menatap Daisy.
"Kamu yang lambat" pungkas Daisy.
Mereka melihat Cleo berjalan ke arah mereka dengan nafas terengah-engah.
"Baiklah. Aku mau lanjutkan lari pagiku. Hanya tinggal satu putaran lagi. Kamu bisa ditemani Cleo" Daisy bersiap untuk lari lagi.
Tiba-tiba Maxi berdiri lalu ikut berlari di sebelah Daisy. Cleo berteriak-teriak memanggil Maxi.
"Bukannya kakimu kram?" tanya Daisy heran.
"Sepertinya sudah sembuh sekarang" jawab Maxi. "berkat obat hangatmu"
"Aaah..betulkah?"Daisy menghentikan larinya dan melihat ke arah kaki Maxi. Memastikan apakah Maxi sudah benar- benar sembuh atau terpaksa berlari demi menghindari Cleo.
Tiba-tiba sebuah batu runcing selebar telapak tangan mengenai pelipis Daisy, Membuatnya sempoyongan dan terjatuh. Maxi menoleh ke arah batu itu berasal. Cleo dengan wajah kesal mengepalkan tangannya lalu bergegas pergi keluar lapangan.
"Rasakan sendiri akibat ulahmu tidak mendengar ucapanku tadi, bebek buruk rupa" Cleo malah berteriak memaki Daisy dan menjauh dari lapangan.
Daisy meringis kesakitan, tangannya yang memegang pelipis berlumuran darah. Darah mengucur dari pelipisnya yang terluka. Luka robeknya terlihat jelas memanjang dari pelipis atas hingga ujung mata sebelah kanan. Bagian ujung batunya ternyata sangat tajam. Maxi tidak bicara apa-apa lagi. Dia bergegas menggendong Daisy keluar dari lapangan.
Cleo yang masih berdiri di pintu keluar lapangan awalnya tersenyum puas melihat Daisy meringis kesakitan. Tapi ketika melihat Maxi menggendong Daisy dan terlihat sangat cemas, hatinya menjadi merasa panas.
"Kamu jahat sekali Cleo. Sampai hati bisa melukainya. Ingat ya, aku yang akan membuat perhitungan denganmu" ucap Maxi geram kepada Cleo.
Cleo menghentakkan kakinya. Kenapa Maxi sangat perhatian dengan bebek buruk rupa itu, Cleo mendengus kesal.
Maxi membawa Daisy masuk ke dalam rumah Fiore. Darah sudah mengucur deras dari pelipis Daisy yang terus meringis kesakitan. Daisy kesulitan membuka matanya. Karena lukanya lumayan besar sehingga area mata kanannya ikut memerah dan kesakitan. Syukurlah batu itu tidak mengenai matanya, pikir Daisy.
Miss Aneth segera bertindak begitu melihat Daisy berdarah. Maxi menelepon dokter keluarga, sementara miss Aneth memberikan pertolongan darurat. Miss Aneth membersihkan luka dan mencoba menghentikan pendarahan dengan menekan bagian luka menggunakan handuk lembut.
Maxi duduk di samping Daisy seraya mengelus lengan Daisy lembut. Dia tidak menyadari tatapan haru Miss Aneth melihat perhatiannya kepada Daisy.
Maxi segera melepaskan tangannya. Dia tahu itu tidak sopan memegang seorang gadis. Dia juga baru sadar, tadi dia menggendong Daisy dari lapangan ke rumah tanpa berpikir apa-apa. Hanya ingin segera menolong Daisy saja.
"Maafkan, aku tadi refleks saja ingin menenangkanmu"ucap Maxi pelan.
__ADS_1
"Tidak apa-apa. Terimakasih sudah menolongku"sahut Daisy.
"Itu dokter Ronald datang. Kamu tenang ya" Maxi membuka pintu begitu mendengar suara mobil memasuki halaman rumah Fiore. Rumah dokter Ronald memang dekat, berada di sebelah kawasan kediaman Edoardo.
Daisy diperiksa oleh dokter Ronald.
"Sebaiknya kita bawa Nona Daisy ke rumah sakit, supaya langsung ditangani dokter bedah. Karena lukanya cukup lebar dan dalam jadi harus dijahit. Supaya tidak berbekas, maka harus dilakukan oleh dokter ahli bedah plastik" dokter Ronald menjelaskan.
"Penanganan darurat yang dilakukan oleh miss Aneth sudah benar tadi. Ini saya bantu bersihkan lukanya lagi supaya tidak ada infeksi dari kotoran. Hanya saja karena memang lukanya cukup dalam, pendarahan tidak lekas berhenti. Sekarang minum anti nyeri dulu" dokter Ronald memberikan sebutir pil pereda nyeri.
Daisy lekas meminumnya.
"Tetap tekan lukanya dengan kain ini untuk menghentikan pendarahan" ucap dokter Ronald.
Dia memotret luka Daisy, lalu mengirimkannya melalui chat kepada rekannya di rumahsakit.
"Saya sudah hubungi dokter Scott di rumah sakit" dokter Ronald menyimpan ponselnya.
"dokter Scott akan langsung menangani. Tenang saja dia sangat ahli" ucap dokter Ronald lagi.
"Kita ke rumahsakit sekarang. Aku ambil mobilku dahulu" Maxi berlari menuju rumahnya.
"Jika kamu harus berangkat bekerja, aku berdua miss aneth ditemani sopir saja, Max" ucap Daisy saat Maxi sudah kembali dan memarkirkan mobilnya di depan rumah Fiore.
"Aku akan menemanimu dan memastikan kamu ditangani dokter bedah" ucap Maxi.
Dia duduk di balik kemudi. Daisy dan miss Aneth duduk di kursi tengah.
Sekitar dua jam dia di rumahsakit. Selesai dijahit, dokter memperbolehkan pulang. Pelipisnya dipasang perban.
Mereka sudah kembali ke rumah Fiore.
"Sekarang kamu istirahat. Jangan lupa diminum obatnya"ucap Maxi.
"Kalau perlu bantuanku, telepon saja ke nomorku" pesannya kepada Daisy. Daisy mengangguk.
"Aku harus pergi dulu ke kantor karena ada rapat" ucap Maxi bergegas pergi.
"Max" panggil Daisy menghentikan langkah Maxi. Maxi menoleh. Senang rasanya Daisy memanggilnya seperti itu.
"Terimakasih" ucap Daisy seraya tersenyum.
Maxi membalas senyum itu."Sama-sama, Daisy" ucapnya.
Dia kemudian pamit kepada miss Aneth dan berpesan untuk jangan sungkan menghubunginya jika butuh bantuannya.
__ADS_1
***