NAMAKU DAISY - BUKAN BEBEK BURUK RUPA

NAMAKU DAISY - BUKAN BEBEK BURUK RUPA
29. Aku Akan Kembali


__ADS_3

Daisy baru saja tiba di mansionnya ketika mobil yang mengantar Maxi datang.


"Ini baru jam sembilan, Max. Kamu bilang akan datang jam sepuluh" Daisy memastikan bahwa dia tidak salah melihat jam dengan memeriksa lagi jam tangannya.


"Sengaja aku datang lebih cepat. Apakah aku mengganggumu?" Maxi menatap Daisy.


"Ooh tentu saja tidak. Hanya saja aku belum mandi. Baru selesai berkuda" ucap Daisy seraya mengarahkan tangannya ke arah kuda coklat yang sedang dituntun oleh penjaganya menuju bangunan stable untuk para kuda.


Maxi terperangah. Dia menggamit lengan Daisy seraya menatapnya lekat.


"Kamu...bisa berkuda?" tanyanya. Antara takjub dan tidak percaya bahwa gadis di depannya bisa berkuda.


Daisy mengangguk kebingungan.


"Bukannya hal yang wajar bisa berkuda, Max? Apalagi bagi penduduk kota Amber. Sepertinya bisa berkuda adalah keharusan. Makanya aku sedari kecil sudah berlatih berkuda"Daisy balik menatap Maxi.


"Bukankah kamu juga mahir berkuda?" tanya Daisy.


"Tentu saja. Kami anak laki-laki di keluarga Edoardo harus bisa berkuda" jawab Maxi.


"Tapi para gadis, tidak ada yang ikut berlatih berkuda" lanjut Maxi.


"Aku rutin berlatih di pacuan Edoardo setiap hari senin dan rabu setiap pulang sekolah. Dan aku memang tidak pernah ikut kompetisi"ucap Daisy.


"Latihanku dilakukan di hari-hari saat pacuan sepi. Senin dan Rabu itu" ucap Daisy lagi.


"Aah pantas saja aku tidak pernah bertemu denganmu di pacuan. Aku berlatih setiap hari Sabtu" ucap Maxi.


"Kalau tahu kamu tadi akan berkuda, aku pasti ikut denganmu"gumam Maxi kecewa.


"Mungkin lain kali kita berkuda. Masih banyak waktu kita bersama kan ke depannya" Daisy menghibur Maxi.


"Semoga bulan depan saat kita kembali ke sini bunga bluebells masih bermekaran" ucap Daisy dalam hati.


"Apa lagi keahlianmu selain bermain piano dan berkuda yang aku tidak tahu, Daisy?" tanya Maxi tergelak. Daisy pun sama.


"Aku tidak ahli, Max. Hanya bisa sedikit" sanggah Daisy.


"Nyatanya seperti bermain piano kamu sangat ahli. Sampai tuan Jack Connor langsung terpikat dengan permainanmu"Maxi berucap sambil mencolek pipi Daisy.


"Mungkin aku sedang beruntung terpilih oleh tuan Jack Connor" sahut Daisy.


"Kamu selalu merendah" gumam Maxi berdecak.


Daisy mempersilakan Maxi duduk di ruang tamu. Sementara dia pergi ke kamar untuk mandi dan berganti pakaian.


***


"Kita akan pergi kemana hari ini, Max?" tanya Daisy seraya berjalan di samping Maxi menuju gazebo taman.


Mereka duduk menikmati hidangan teh dan beberapa kue olahan buah khas kota Amber yang sudah disediakan Nina.


"Kita berkeliliing kota Amber saja.Aku ingin tahu lebih banyak tentang kota yang indah ini. Apakah kamu mau?" Maxi berucap. Dia meraih secangkir teh yang sudah dituangkan Daisy dari teko porcelain.


"Dengan senang hati, Max" jawab Daisy.


"Mau tambahan gula untuk tehmu?"tanya Daisy.


Maxi menggeleng.


"Teh tawar tanpa gula memang sangat nikmat. Citarasa tehnya lebih terasa" ucap Daisy.


Maxi menghirup aroma teh di cangkirnya.

__ADS_1


"Ini jenis white tea, betulkah?" tanya Maxi. Lalu menyesap tehnya perlahan.


"Iya, betul. Kamu rupanya sangat mengenal teh" Daisy ikut menyesap tehnya perlahan.


"Aku belajar selama satu bulan tentang teh dan seni meminum teh kepada seorang ahli teh ternama asal Jepang di kota Brown"ucap Maxi.


"Waah itu sangat bagus, Max. Kamu harus ajari aku kelak" bisik Daisy membuat Maxi tertawa pelan.


"Aku sangsi kalau kamu tidak tahu seni meminum teh, Nona Daisy"Maxi masih tertawa pelan.


"Aku bahkan curiga kamu diam-diam bisa karate seperti Cedro" Maxi tidak dapat menahan tawanya. Dia teringat saat di perpustakaan sebulan yang lalu dia pernah disikut oleh Daisy di perutnya.


"Apakah kamu akan berhenti menyukaiku jika aku memang bisa karate?" tanya Daisy dengan mimik wajah serius.


"Tentu saja tidak, Daisyku. Aku selamanya akan mencintaimu"Maxi tersenyum manis.


"Hanya saja, mungkin aku harus belajar karate kepada Cedro" ucap Maxi pelan.


Daisy terkekeh.


"Aku hanya bisa sedikit gerakan beladiri, Max". Daisy menggigit sepotong kue kering dari gandum rasa buah apel.


"Bisa sedikit gerakan beladiri?" tanya Maxi.


Daisy mengangguk.


"Sama seperti kalimat: bisa sedikit bermain piano?"tanya Maxi lagi.


Daisy mengangguk.


Maxi berdehem.


"Itu artinya kamu sudah pandai beladiri" Maxi mencolek pipi Daisy.


Maxi kembali tertawa dengan ucapan gadis tujuh belas tahun di depannya.


"Iyaaa, aku percaya kamu hanya bisa sedikit untuk banyak hal" Dia meraih tangan Daisy dan menepuknya lembut.


"Oh iya. Kapan kamu akan berangkat ke Inggris? dan ada urusan apa, Max?" tanya Daisy.


"Rencananya tanggal empat belas di bulan depan aku berangkat ke Inggris. Mengurus pengesahan peralihan harta peninggalan dari mendiang kedua orangtuaku kepadaku"jawab Maxi.


"Ayah Luca dan Kakek sudah mengatur semua rencana perjalananku. Juga menyiapkan beberapa pengawal untuk menemaniku di sana"lanjut Maxi.


"Apakah urusanmu di sana memicu aksi orang jahat? Sampai kakek menyiapkan pengawal untukmu" Daisy merasa khawatir.


"Iya, benar. Ada beberapa orang yang ingin menguasai harta-harta itu. Dan berusaha menyingkirkanku sejak aku bayi"Jawab Maxi.


"Aku sangat khawatir, Max" gumam Daisy.


"Tapi urusan ini harus segera kuselesaikan. Setelah sekian lama menunggu. Akhirnya peninggalan kedua orangtuaku tidak akan diganggu lagi oleh orang-orang yang tidak berhak" Maxi menghela nafas selepas bicara.


"Semoga urasanmu tidak ada kendala, Max. Dan cepat kembali lagi ke negara Lotus" ucap Daisy penuh harap.


"Aku akan kembali, Daisy. Untukmu"Sahut Maxi meyakinkan Daisy.


"Aku akan merindukanmu saat kamu pergi nanti" Daisy bergumam pelan.


Dia merasa takut terjadi sesuatu. Dia tidak mau kehilangan lagi orang yang dia sayangi.


"Kamu tenang saja. oke?" Maxi menenangkan Daisy. Dia tahu saat ini Daisy pasti sedang merasakan kekhawatiran.


"Sekarang, mari kita berkeliling kota Amber"Maxi meletakkan cangkir teh dari tangannya ke atas meja.

__ADS_1


Dia menggandeng tangan Daisy menuju mobil type convertible dengan atap yang sengaja dibuka. Karena mereka ingin menikmati udara sejuk dan hangatnya matahari. Mereka duduk bersebelahan di kursi depan. Maxi megendarai sendiri mobil tersebut.


Hari ini tidak ada Gabriella yang menemani karena hari ini memang jadwal libur.


Saat mobil mereka keluar gerbang, sebuah mobil berwarna silver melintas perlahan dan penumpang di kursi belakang membuka kaca jendela. David. Dia melihat ke arah Maxi dan Daisy lalu menganggukan kepala dengan sopan.


Maxi membalas anggukan kepalanya.


"Rupanya tuan David Ferguson" ucap Maxi.


"Oh iya Max. Tadi aku bertemu dia di hutan saat berkuda"ucap Daisy. Maxi terdiam sesaat. Lalu menoleh ke arah Daisy.


"Kamu bertemu David Ferguson di hutan?"Dadanya terasa bergemuruh. Sangat aneh, pikir Maxi.


Daisy mengangguk."Iya, saat aku sedang berkuda melihat hamparan bunga bluebells, dia juga ternyata sedang berkuda di sana"


"Dia orang baik dan ramah, Max. Dia memintaku memanggilnya dengan panggilan Dave"Ucap Daisy.


Maxi mencoba menenangkan gemuruh di dadanya.


"Kamu tahu, dia memanggilku Daiz. Sama seperti panggilan ayah kepadaku waktu kecil" lanjut Daisy.


Maxi kembali mengatur nafasnya.


"Apa lagi yang dia katakan padamu, sayang?" tanya Maxi.


Daisy menoleh. "Sayang??" tanya Daisy.


"Iya,sayang. Apakah aku tidak boleh memanggilmu seperti itu?" tanya Maxi pelan.


"Tapi sangat aneh jika kamu memanggilku seperti itu saat ini. Kita belum menikah, Max"


"Aku sangat suka saat kamu menyebutku Daisyku. Itu sangat manis, Max" Daisy tersenyum senang.


Dia baru menyadari bahwa Maxi cemburu kepada David.


"Baiklah, Daisyku. Apakah David Ferguson mengatakan hal lain kepadamu?" Maxi bertanya sambil tersenyum manis.


Gadis di depannya memang sangat polos. Selalu baik kepada siapapun. Dia sangat memakluminya.


"Tidak ada hal penting, Max. Tidak mungkin dia membahas soal bisnis di dalam hutan kan?"


Maxi terkekeh. Maksudku bukan itu, pikirnya.


"Dia hanya sedikit bicara tentang kisah bunga bluebells." ucap Daisy.


"Kamu tenang saja, Max. Yang aku sukai hanya kamu" bisik Daisy seraya tersenyum manis.


Maxi seketika menjadi gugup.


"Kamu cemburu, Max." Daisy tergelak.


"Iya, aku cemburu. Karena aku mencintaimu, Daisyku"ucap Maxi.


"Terimakasih, Max" Daisy menepuk tangan Maxi perlahan.


"Apakah kita jadi jalan-jalan berkeliling kota Amber? atau mau tetap di sini membahas tuan David Ferguson?" Daisy menggoda Maxi.


"Tentu saja kita akan jalan-jalan. Ayo kita jalan sekarang"Maxi menyalakan mesin mobilnya.


Fyiuuhhh...Maxi menghembuskan nafasnya. Rupanya begini rasanya cemburu. Sangat tidak enak dan melelahkan.


Dia melirik Daisy yang ternyata sedang memandangnya seraya tersenyum. Seketika rasa tak enak itu hilang entah kemana.

__ADS_1


***


__ADS_2