
Daisy berjalan di belakang Kakek dan Nenek saat memasuki halaman belakang rumah utama. Di sana sudah berkumpul semua anggota keluarga Edoardo. Tiba-tiba nenek Luisa menoleh lalu menggamit tangan Daisy untuk berjalan di sampingnya.
Daisy yang terkejut segera menguasai diri dengan tetap berjalan dengan anggun.
Semua mata terkejut melihat Daisy. Penampilan Daisy yang baru membuatnya terlihat sangat cantik. Juga kedatangannya bersama kakek dan nenek. Karena selama ini, kakek dan nenek tidak pernah sedekat itu kepada cucu yang lain.
Beberapa mata nampak tidak suka. Seperti Marie, Joane dan Cleo. Namun ada beberapa mata yang terpesona menatap Daisy, diantaranya Maxi, Yazid dan Cedro. Ketiga laki-laki muda itu menatap tidak berkedip. Bahkan hingga Kakek dan Nenek duduk di kursi mereka dan Daisy juga duduk dikursinya, ketiga laki-laki muda itu masih terpesona.
Daisy duduk di sebelah Clarissa. Dia baru sampai dari Amerika tadi malam. Clarissa dan Daisy berpelukan.
"Aku kangeeen....." Clarissa mencubit kedua belah pipi Daisy. Daisy meringis.
"Aku juga merindukanmu, Clarissa" ucap Daisy.
"Tapi ngomong-ngomong kamu sangat cantik. Luar biasa" ucap Clarissa menatap Daisy takjub.
"Aku hanya melepas kacamataku dan membuka kepang rambutku saja" bisik Daisy.
"Tapi itu membuat kecantikanmu terpampang nyata, Daisy Fiorella" ucap Clarissa membuat Daisy tertawa pelan.
"Dan lihaat..cara berpakaianmu juga berubah. Tidak lagi memakai celana lebar dan kemeja panjang yang nyaris kebesaran. Kamu sangat stylish" Clarissa berdecak kagum.
"Aku bahkan memakai pakaian peninggalan ibuku. Ini tetap kemeja dan aku pakai rok panjang"
"Tapi ini terlihat sangat stylish. Aah ibumu memang sangat cantik dan anggun seperti seorang putri. Aku rasa kamu mewarisi kecantikannya" ucap Clarissa.
"Dari mana kau tahu wajah ibuku?"tanya Daisy
"Di ruangan kerja kakek. Ada sebuah album foto berisi foto-foto ayah dan ibumu. Juga foto-fotomu dan adikmu. Aku melihatnya sekitar sembilan tahun yang lalu saat masih bisa menyelinap" bisiknya. Membuat Daisy menahan tawa. Sepupunya yang satu ini memang penyelinap ulung sewaktu kecil.
Di masa-masa sekolah dasar, Daisy beberapa kali dikejutkan dengan kehadiran sepupunya ini di kamarnya. Tujuannya meminta Daisy membantunya mengerjakan tugas sekolah. Entah bagaimana caranya dia bisa menyelinap masuk ke dalam kamarnya.
Beberapa tamu undangan sudah hadir. Nampak kakek dan nenek berbincang dengan mereka.
Tiba-tiba pak Alberto muncul membawa sebuah kue ulang tahun berukuran besar.
Semua mata tertuju ke sana.
Kue ulang tahun dengan angka 17 di letakkan di area paling depan dekat panggung.
"Hari ini hari yang sangat istimewa. Salah satu cucuku berulang tahun ke tujuh belas. Daisy Fiorella Alessio Edoardo" Ucap Kakek seraya menatap Daisy. Pak Alberto menghampiri Daisy, lalu mempersilahkan Daisy berjalan menuju tempat Kakek dan nenek berdiri. Membuat semua mata tertuju ke arahnya.
"Semoga kebahagiaan selalu menyertaimu dimanapun dan selamanya" ucap Kakek. Kata-kata itu tadi sudah Daisy dengar saat di ruangan kerja Kakek. Betapa Kakek sangat berharap agar Daisy selalu bahagia meskipun sudah tidak ada lagi orangtua bersamanya.
"Di usia ke tujuh belasnya, dia juga berhasil menyelesaikan kuliahnya dengan nilai terbaik di kampusnya" ucap kakek lagi. Nenek mengelus punggung Daisy dengan lembut.
"Semoga bisa menjadi contoh yang baik untuk semua cucuku yag lain agar semangat belajar dan memanfaatkan waktu kalian sebaik baiknya"
Tepuk tangan serentak saat Kakek selesai bicara. Kemudian semua yang hadir mengucapkan selamat kepada Daisy. Tak terkecuali Marie, Joane dan Cleo. Walaupun mereka mengucapkannya dengan nada kesal dan malas. Hanya karena takut kepada Kakek dan Nenek saja, makanya mereka terpaksa menyalami Daisy.
Setelah itu pesta dimulai seperti biasa
Clarissa mengangkat ibu jarinya " kamu memang kereen" bisiknya.
__ADS_1
"Kalau soal keren, kamulah yang terkeren. Lihatlah gayamu. Uuuuh keren sekali" ucap Daisy.
Clarissa tertawa"kalau soal gaya, memang aku paling keren sih"
Maxi, Yazid dan Cedro masih menatap Daisy dengan kagum saat menyalaminya.
"Selamat ulang tahun, bebek kecil"ucap Maxi berbisik.
Yazid dan Cedro merasa kesal melihat Maxi yang masih berdiri di dekat Daisy dan nampak berbisik. Mereka hanya menatap dari kejauhan.
"Namaku Daisy. Daisy Alessio" sanggah Daisy. Maxi tertawa
"Bagiku kamu tetap bebek kecil" bisik Maxi lagi.
"Rupanya Kakak Maxi yang galak bisa tertawa" gumam Daisy.
"Kamu juga rupanya berani meledekku seperti semalam" balas Maxi.
"Kamu tukang mengintip" Daisy menginjak sepatu Maxi dengan sengaja saat berjalan menjauh. Maxi meringis.
Clarissa tertawa melihat itu. Begitu juga Cedro dan Yazid.
Clarissa menggandeng Daisy. Mereka duduk dekat alat pemanggang. Seperti biasa, mereka membantu para pelayan untuk memanggang.
Di kejauhan, Marie menatap Daisy dengan penuh kekesalan. Dia tidak rela Daisy mendapatkan perlakuan istimewa dari kakek dan nenek. Saat dia ulang tahun ke 17, tidak ada pesta seperti ini. Joane dan Cleo pun berpikir yang sama.
Mereka menatap Daisy yang sedang asik membantu para pelayan di meja alat pemanggang dengan pandangan iri.
"Hehehe..kasihan sekali" Clarissa terkekeh.
"Kadang-kadang Cedro dan Caesar menemaniku juga. Tapi lebih menyenangkan jika ada kamu" ucap Daisy. Lalu meletakkan potongan daging sapi yang sudah matang di piring Caesar yang sudah duduk di sebelahnya.
"Aku selalu senang menemanimu, Daisy" ucap Caesar sambil memotong daging di piringnya.
"Terimakasih, Caesar" Daisy mengusap rambut Caesar. Dia memang sangat sayang kepada adik kecilnya. Walaupun usia mereka hanya beda satu tahun, tapi Caesar sangat manja. Mungkin karena dia anak bungsu. Itu mengingatkan Daisy kepada Marino, adiknya.
Marie naik ke atas panggung. Dia duduk di kursi piano.
"Selamat pagi, semuanya. Lagu ini untuk adik sepupuku yang berulangtahun" Dia memainkan pianonya. Lagu Selamat ulang tahun dimainkannya. Dia tidak mau menyebutkan nama Daisy.
Daisy menatap Clarissa yang duduk di sampingnya. Sepupunya itu mengerutkan dahi.
"Patut dicurigai. Tidak mungkin dia menjadi baik tiba-tiba" Bisik Clarissa.
Marie selesai memainkan pianonya. Tepuk tangan serentak dari yang hadir.
"Adik sepupuku, di hari istimewamu ini pasti kamu ingin memberikan persembahan istimewa untuk kami semua bukan? Terutama untuk Kakek dan Nenek. Kudengar kamu bisa bermain piano juga. Silahkan naik ke atas panggung dan buat kami terhibur" ucap Marie membuat Clarissa menahan tangan Daisy.
"Sudah kuduga, dia ingin mempermalukanmu di depan banyak orang" ucap Clarissa.
"Tidak apa-apa" ucap Daisy tenang ."Aku akan menghibur semuanya" ucap Daisy.
"Tapi, kamu...bagaimana.." Clarissa khawatir.
__ADS_1
"Kamu tenang saja" Daisy menenangkan Clarissa.
Selama ini Marie selalu membanggakan diri, bahwa dia adalah pianis terbaik di keluarga Edoardo. Tidak ada yang pernah bermain piano selain dia selama ini di setiap acara keluarga. Tepatnya tidak boleh. Marie akan marah jika ada cucu kakek dan nenek yang lain yang bermain piano.
Atau Cleo yang selalu bangga dengan suaranya yang menurutnya bagus. Dan di setiap pesta kebun selalu tampil bernyanyi.
Joane dengan keahlian dancenya. Selalu memaksakan musik hingar bingar padahal kakek dan nenek tidak suka.
Jadi setiap pesta kebun, mereka bertigalah pemilik panggung pertunjukan.
Daisy berjalan perlahan ke atas panggung. Clarissa menatapnya cemas. Dia melihat seringai licik Marie sambil menatap Daisy yang berjalan ke arah panggung.
Marie pasti iri melihat perlakuan Kakek dan Nenek yang mengistimewakan Daisy. Itu karena Daisy memang istimewa, pikir Clarissa. Kakek dan nenek akan sangat mengapresiasi setiap prestasi anggota keluarga Edoardo. Hanya saja selama ini tidak ada yang memiliki prestasi mengagumkan seperti Daisy.
"Terimakasih kakak Marie atas lagunya untukku" ucap Daisy seraya tersenyum kepada Marie yang sudah kembali duduk di kursi dekat dengan panggung.
Marie hanya membalasnya dengan senyum tipis mengejek. Dia yakin Daisy sama sekali tidak bisa bermain piano. Selama ini Daisy hanya pintar dan berprestasi di bidang akademik. Tidak pernah terdengar prestasi Daisy di bidang lain.
Daisy duduk di kursi di hadapan piano besar berwarna putih itu.
"Lagu ini saya persembahkan untuk Kakek Edoardo dan Nenek Luisa, beserta seluruh keluarga besar Edoardo. Dan juga untuk para tamu yang terhormat" ucap Daisy.
Perlahan dentingan piano yang dimainkan Daisy terdengar. satu dua nada awal mulai mengalun. Lalu lantunan "Reverie" karya Claude Debussy seketika menghipnotis hadirin. Daisy memainkannya dengan sangat apik. Ia masih ingat betul musik yang paling sering ayah dan ibunya bawakan jika bermain piano di rumah mereka di kota Amber. Meskipun ini adalah salah satu karya terkenal yang sulit dimainkan. Karena sensory content-nya dan sering menggunakan atonalit, membuat pianis pianis pemula akan kesulitan pada saat awal memainkan karya hebat ini. Namun Daisy sejak kecil sudah terbiasa memainkannya diajari ayah. Daisy sangat menikmatinya dan dengan gemulainya memainkan jarinya yang berpindah dari tuts satu ke tust lainnya. Alunan musik membuat Daisy seperti kembali ke masa kecil, masa di mana kehangatan dan tawa bahagia bersama keluarganya selalu tercipta setiap hari.
Semua yang hadir terpukau dengan permainan piano Daisy. Nenek memeluk lengan Kakek erat. Itu adalah karya musik komposer terkenal yang sering dimainkan oleh Alessio anak bungsu mereka.
"Wooow..Reverie..Lamunan..karya hebat dari Claude Debussy"Komentar Tuan Connor, salah satu tamu kakek yang merupakan seorang musisi terkenal di kota Brown.
"Dia sangat berbakat. Dan pastinya latihan yang konsisten. Permainan musik yang jenius" ucapnya kepada kakek.
"Dia putri Alessio" ucap Kakek. Tuan Connor mengangguk. Tadi dia sudah mendengarnya saat kakek memperkenalkan Daisy.
"Hmmmh...saya mengerti. Dia persis seperti Alessio. Bermusik dengan hati" Tuan Connor menatap Daisy yang sedang menyelesaikan nada terakhir. Tuan Connor adalah guru musik Alessio kecil.
Clarissa menitikkan air mata melihat adik sepupu kesayangannya bermain sangat cantik dan mengagumkan di atas panggung dengan gaya yang elegan dan mewah. Seperti seorang putri. Dia memang sangat menyayangi adik sepupunya itu.
Marie mengepalkan kedua tangannya. Dia tidak mengira jika Daisy justru sangat hebat bermain piano. Dia bahkan sama sekali belum bisa menguasai karya Debussy ini.
Daisy berdiri dari kursinya, lalu merendahkan posisi bahunya sedikit dengan kedua tangan menarik sedikit bagian sisi roknya, salah satu kaki ditarik ke belakang. Semua bertepuk tangan. Mata kakek berkaca-kaca menatap Daisy. Nenek perlahan menyapu sudut matanya yang basah.
Tuan Connor berdiri seraya bertepuk tangan.
Marie semakin kesal melihatnya. Rencananya untuk membuat Daisy malu, justru membuat Daisy dikagumi. Bahkan oleh seorang musisi hebat di kota Brown.
Pesta kebun kali ini sangat meriah. Kali ini Kakek yang terkenal dingin, nampak sering tersenyum. Membuat suasana pesta semakin menyenangkan. Kecuali untuk Marie, Joane dan Cleo.
Cleo menatap Maxi yang terus-terusan memandangi Daisy dengan penuh kekaguman. Beberapa kali nampak Maxi mendekati Daisy membawakan minuman atau potongan buah. Lalu duduk di sebelah Daisy. Membuat Cleo sangat kesal.
Pesta kebun usai. Semua kembali ke rumah masing-masing. Kali ini tidak ada kunjungan ke salah satu rumah. Karena acara hari ini lebih lama dibanding pesta kebun biasanya yang hanya sekitar dua jam.
Saat berjalan pulang menuju rumah Fiore, Maxi menyusul Daisy. Mensejajari langkahnya.
***
__ADS_1