NAMAKU DAISY - BUKAN BEBEK BURUK RUPA

NAMAKU DAISY - BUKAN BEBEK BURUK RUPA
9. Aku Menyukainya, Sejak Dulu.


__ADS_3

Maxi duduk di balik meja kerjanya. Dia baru saja selesai melakukan meeting bersama pemasok buah untuk pabrik sirup yang dia ikut kelola bersama ayah Luca. Buah yang dihasilkan dari perkebunan keluarga tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan produksi.


Dia teringat Daisy.


Tadi setelah selesai mengantar Daisy, dia langsung mandi dan berangkat ke kantor supaya tidak terlambat untuk jadwal meeting jam satu siang.


Maxi meraih ponselnya. Dia membuka aplikasi chat. Membuka chat group keluarga Edoardo yang isinya semua tentang jadwal acara-acara keluarga. Di group keluarga dilarang chat sembarangan seperti obrolan yang tidak penting. Karena Kakek Edoardo dan Nenek Luisa tidak suka.


Maxi melihat daftar anggota group. Ada nomor Daisy disana. Dia lalu menyimpan nomor Daisy di daftar kontak ponselnya.


'Bagaimana keadaanmu sekarang?' Maxi menulis pesan lalu mengirimkannya kepada Daisy.


Dia melihat Daisy sedang online.


'Masih terasa sakit. Dan lukanya belum sembuh ' Balas Daisy.


Hhmmh dasar bebek kecil. Baru saja tadi pagi terluka,mana mungkin sekarang sudah sembuh.


'Menurut dokter Scott butuh sekitar empat sampai enam hari untuk jahitannya kering, Nona." Tulis Maxi


'Aku ingin melihat kondisimu sepulang dari kantor. Apakah boleh dan kapan waktunya?' tulis Maxi bertanya.


'Silahkan datang sebelum jam tujuh malam' jawab Daisy.


Maxi melihat jam di tangan kirinya, jam 16.05. Harus bergegas, pikirnya. Lagipula sudah tidak ada pekerjaan yang penting sekali.


Dia bergegas ke ruangan ayahnya, mengabari kalau dia pulang cepat.


"Masuklah, Maxi" suara ayahnya saat dia mengetuk pintu ruangan.


"Aku mau pulang sekarang. Apakah ayah butuh bantuanku untuk satu jam ke depan?"tanya Maxi yang duduk di kursi di seberang meja ayahnya.


"Tidak ada. Pulanglah cepat. Kamu ingin menjenguk Daisy kan? Pastikan kondisi Daisy baik-baik saja." Jawab ayahnya. Maxi terperangah.


Bagaimana ayahnya tahu mengenai Daisy.


"Tadi pagi dokter Ronald memberitahu kakek Edoardo bahwa Daisy terluka. Kakek langsung meminta pak Albert mengecek kejadian itu lewat CCTV. Kakek bicara di group chat orangtua tadi. Semua orangtua sudah tahu mengenai ini" ayahnya mengerti apa yang ada di benak Maxi.


"Soal Cleo, kakek dan orangtuanya sudah mengambil keputusan. Biarkan itu menjadi urusan kakek. Kamu, jagalah Daisy"ucap ayahnya.


Maxi terdiam. Ternyata berita ini sudah sampai ke telinga Kakek.


"Kamu menyukainya?" tanya ayahnya memandang Maxi lekat.


Maxi mengangguk "iya, ayah. Aku menyukainya, sejak dulu. Saat dia pertama kali datang" ucap Maxi tegas.


"Ayah tahu. Meskipun kamu selalu bersikap seolah membencinya. Karena kamu takut dia akan menolakmu jika dia tahu kamu menyukainya" ayah tertawa pelan


"Dulu dia masih sangat kecil, ayah. Tapi dia sangat pintar. Aku minder" sahut Maxi


"Kamu pun dulu masih kecil. Tapi ayah tahu perasaanmu. Kamu sering diam-diam menatapnya di balik bukumu saat pesta kebun. Atau melirik dia dengan ujung matamu saat makan bersama di rumah utama" Ayah tertawa seraya menggelengkan kepala.


"Ayah bahkan membaca buku harianmu tentang Daisy, dua tahun lalu. Saat itu Clarissa memberikan kepada ayah bahwa itu adalah bukumu yang tertinggal di perpustakaan" ucap ayah membuat Maxi terkejut. Seketika wajahnya memerah karena malu.


"Tapi ayah sudah kembalikan ke kamarmu waktu itu" lanjut ayah lagi. Ayah tertawa pelan.


"Ini sangat membuatku malu. Tapi kenapa ayah menganggapnya lucu?" pikir Maxi seraya menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


Aaah Clarissa, bocah detektif itu juga pasti sudah membaca isi bukunya.


"Kamu harus menjaganya dengan baik dan jangan sekalipun menyakitinya. Karena semua tentang Daisy, akan berurusan dengan kakek Edoardo" ucap ayahnya.


"Cepatlah pulang, supaya tidak terlalu sore sampai rumah. Besok pagi acara wisudamu kan?"ayah melihat agendanya.


"Iya, ayah. Jam delapan pagi harus sudah hadir di aula kampus" jawab Maxi.


"Baiklah. Aku pulang. Sampai jumpa di rumah" Maxi bergegas keluar ruangan ayahnya.


"hati-hati berkendara" pesan ayahnya. Maxi mengangkat ibu jarinya. Lantas dia menghilang di balik pintu.


***


"Kamu pulang dari kantor lebih cepat, Max?" tanya Daisy.


"Iya, tadi aku sudah ijin kepada ayahku untuk pulang cepat" jawab Maxi.


"Ayahmu mengijinkan?" tanya Daisy.

__ADS_1


"Tentu saja. Buktinya aku ada di sini sekarang" jawab Maxi diiringi tawa mereka berdua.


"Dia tahu aku akan menjengukmu" ucap Maxi.


"Oh ya? aku kira dia tak menyukaiku" gumam Daisy melirik Maxi.


"Dia menyayangimu karena kamu keponakannya. Hanya saja dia tidak menunjukkan perasaannya" ucap Maxi.


"Aku yang menyukaimu" ucap Maxi lagi."Aku suka..jatuh cinta padamu" Maxi memperjelas maksud ucapannya.


"Sejak kamu datang pertama kali, bebek kecil" Maxi tersenyum.


"Daisy Fiorella Alessio" Maxi berkata cepat ketika melihat mata Daisy membulat, protes karena dipanggil bebek.


"Kamu terus terang sekali. Bagaimana jika kakek tahu?" Bisik Daisy dari jarak tiga meter yang memisahkan mereka.


Maxi tertawa melihat tingkah Daisy.


"Selama aku menjagamu dengan baik dan tidak menyakitimu, Kakek pasti akan setuju" ucap Maxi


"kita sepupu, Max" ucap Daisy


"Aku rasa, kakak detektifmu sudah memberitahumu siapa aku"gumam Maxi.


Daisy tersenyum dengan bibir ditarik lebar ke samping dan mata menyipit. Seperti anak kecil yang ketahuan makan permen sembunyi-sembunyi.


"Rupanya dia tau kalau aku dan Clarissa sering bergosip" Daisy berkata dalam hati.


"Jadi tidak ada masalah kan kalau aku menyukaimu?" tanya Maxi


"Itu hakmu untuk menyukaiku, Max. Masalahnya, kamu tidak menanyakan apakah aku menyukaimu atau tidak" jawab Daisy membuat Maxi terperangah.


"Kamu terlalu yakin dan percaya diri, Kakak Maxi" ucap Daisy.


"Hanya karena kamu disukai banyak perempuan. Salah satunya Cleo. Lalu kamu berpikir akupun menyukaimu?" tanya Daisy dengan suara pelan.


Maxi menunduk. Dia menghela nafas. lalu mengusap pelipisnya. Hhh...dia memang terlampau yakin dan percaya diri.


"Jadi kamu tidak menyukaiku?" Maxi menatap Daisy dengan tatapan was was. Dia sangat takut menerima penolakan Daisy.


"Aku tidak berkata seperti itu"jawab Daisy.


"Aku tidak tahu. Aku baru tujuh belas tahun, Max. Aku tidak pernah dekat dengan laki-laki" jawab Daisy.


"Maksudnya dekat karena saling menyukai. Aku belum pernah. Selama ini laki-laki yang dekat denganku hanya Cedro dan Caesar karena kami menyayangi sebagai saudara"


"Aku tahu. Makanya aku mau menjadi laki-laki yang pertama dan terakhir untukmu" Ucap Maxi, dia merasa ada perasaan egois dalam nada suaranya. Tapi bukankah wajar jika punya keinginan seperti itu, pikir Maxi membela diri.


"Dan kamu pun menjadi yang pertama dan terakhir untukku" lanjut Max, menyempurnakan ucapannya.


"Selama ini kamu selalu bersikap menyebalkan kepadaku, selalu mengataiku bebek. Kamu juga selalu galak kepadaku" lanjut Daisy kesal..


Maxi tersenyum malu dibuatnya


"Aku hanya berpura-pura galak"sahut Maxi. "Maafkan aku kalau selama ini terlihat sangat menyebalkan buatmu" ucap Maxi.


Mereka terdiam dan saling tatap.


"Jadi kesimpulannya apa? kamu menyukaiku atau tidak?" tanya Maxi.


"Kamu menyatakan perasaan di saat kepalaku masih cidera, Max. Tega sekali" gumam Daisy sambil meringis.


"Bahkan kamu tidak bertanya keadaanku sejak tiba di sini"


"Aku sangat khawatir dengan cederamu, makanya aku datang menjengukmu" sahut Maxi.


"Aku dari tadi siang menunggumu bertanya tentang keadaanku" gumam Daisy pelan.


"Aah tadi seriba di kantor aku langsung pergi meeting. Selesai meeting aku langsung kirim chat bertanya kabar padamu" Maxi membela diri.


"Kamu merindukanku?" tanya Maxi dengan senyum senang.


"Pertanyaanmu sangat banyak. Tadi kamu bertanya aku menyukaimu atau tidak. Sekarang kamu bertanya lagi apakah aku merindukanmu." Ucap Daisy.


Maxi tertawa. Dia sadar, gadis di depannya sedang mengerjainya.


"Kamu gadis yang sangat pintar. Hanya menjawab dua pertanyaan pasti sangatlah mudah" ucap Maxi.

__ADS_1


Daisy tertawa pelan." Iya, aku menunggumu tadi." ucap Daisy


"Berarti kamu merindukanku?" tanya Maxi.


"Sepertinya begitu" jawab Daisy.


Maxi tersenyum senang.


Gadis ini sepertinya sengaja membuatnya penasaran.


"Jadii....apakah kau menyukaiku?" tanya Maxi.


Daisy diam nampak berpikir.


"Sepertinya aku agak menyukaimu, tapi baru sedikit" jawabnya seraya menunjukkan ujung kukunya.


"hahahaha..tidak apalah walaupun baru seujung kuku"kata Maxi tertawa.


"Cinta akan datang karena terbiasa" ucap Maxi.


"Kamu tadi bilang menyukaiku, Max. Bukan mencintaiku" koreksi daisy.


"Aku tadi bilang bahwa aku jatuh cinta padamu, Nona Daisy"


Maxi bangun dari duduknya. Lalu berlutut di depan Daisy.


"Nona Daisy Fiorella Alessio. Aku menyukaimu dan mencintaimu. Bersediakah jika aku berusaha membuatmu menyukaiku dan mencintaiku?" tanya Maxi serius, matanya menatap Daisy tulus


Dia tidak pernah main-main dengan perasaan dan ucapannya.


Daisy nampak berpikir sebentar.


"Saya bersedia, tuan Maxi " ucap Daisy seraya tersenyum.


Maxi terlonjak senang.


"Tapi beri aku waktu. Karena akupun masih harus mengenalmu lebih baik"


Maxi mengusap-usap tangannya sendiri. "Dengan senang hati, Nona" ucapnya gugup. Hatinya senang luar biasa. Tapi dia tidak boleh memegang tangan Daisy. Dia harus menghormati dan menjaganya.


Jadi dia hanya bisa mengusap tangannya untuk meluapkan rasa hatinya.


"Terimakasih, Daisy" Maxi kembali duduk di kursinya di seberang Daisy dengan wajah berseri-seri.


"Apakah karena sekarang aku tidak berkacamata lagi makanya kamu menyatakan perasaanmu, Max?" tanya Daisy.


"Dengan atau tanpa kacamata kamu tetap Daisy bebek kecilku yang cantik dan pintar"jawab Maxi.


"Aku bukan bebek Max" Daisy protes.


"Hehehe...iya. Maafkan aku"


"Aku memang berencana mendekatimu jika usiamu sudah tujuh belas tahun, Daisy"


"Aku justru lebih senang jika kamu tetap memakai kacamatamu" ucap Maxi.


"Sejak dulu, aku selalu berusaha menjagamu dari gangguan tiga anak perempuan itu. Kamu pikir itu karena apa? hanya iseng?"


"Itu karena aku peduli dan menyukaimu" Maxi menatap Daisy yang saat itu wajahnya tengah merona.


Suasana hening.


"Haallooo...Daisy. Hallooo..Maxi. Maafkan aku jika tadi menguping" Clarissa muncul di depan pintu masuk. Suaranya memecah keheningan. Lalu duduk di samping Daisy.


Daisy dan Maxi saling berpandangan. Lalu tertawa bersama.


"Aku tadi merekamnya. Jika kamu tidak berkenan, silahkan hapus"Clarissa menyerahkan kameranya kepada Maxi.


Maxi meraih kamera Clarissa seraya menggelengkan kepalanya.


"Seorang detektif gayanya selalu seperti itu ya. Datang tiba-tiba mengejutkan" gumam Maxi.


"Membawa kamera kemanapun. Kamu ini detektif atau fotografer sebenarnya?" Maxi terkekeh meledek Clarissa.


Clarissa tertawa menanggapinya. "Bisa keduanya. Sewaktu di Amerika, aku pernah bekerja paruh waktu sebagai fotografer lepas di sebuah majalah wisata"


Maxi melihat hasil rekaman Clarissa. Sementara Clarissa mendekati Daisy dan melihat keadaan luka Daisy.

__ADS_1


***


__ADS_2