
Ballroom hotel Stella Marina sudah disulap menjadi sebuah panggung mewah. Kursi untuk penonton sudah disusun dengan sangat rapi dalam nuansa yang mewah pula.
Keriuhan sudah mulai terdengar dari dua jam sebelum acara dimulai. Antusiasme para penikmat musik akan festival musik ini rupanya sangat tinggi. Buktinya semua kursi terjual habis hingga kursi VIP.
Daisy akan tampil di sesi awal bergantian dengan musisi muda lainnya.
Daisy tidak berkeberatan dia tampil kapanpun. Baginya justru itu waktu yang paling baik. Karena setelah dia selesai memberikan penampilan terbaiknya, dia langsung bisa menikmati keseluruhan acara yang menampilkan para musisi dan penyanyi senior dan terkenal.
"Apakah kau gugup, Daisy?" tanya Maxi dibelakang panggung. Dia menemani Daisy menunggu acara dibuka.
"Sedikit gugup. Tapi bisa diatasi. Aku bermain piano karena aku menyukainya. Semoga para tamu yang menonton pun menyukai permainanku nanti dan mereka semua terhibur" jawab Daisy.
"Baguslah. Aku sangat yakin penampilanmu akan memukau"Maxi menepuk-nepuk tangan Daisy.
"Kakek, nenek dan semua anggota keluarga besar Edoardo hadir untukmu" ucap Maxi.
"Semua?" tanya Daisy tak percaya.
Maxi mengangguk. "Iya, semua. Wajib hadir atas perintah Kakek" Maxi meyakinkan Daisy.
"Termasuk kedua adikku dan Cleo" Maxi melanjutkan ucapannya.
"Mereka bersedia?" Daisy bergumam.
"Siapa yang berani membantah perintah Kakek" sahut Maxi sambil tersenyum. Dia teringat ekspresi Marie dan Joane saat ayah Luca mengingatkan mereka agar bersiap-siap untuk hadir di festival musik. Wajah mereka penuh dengan kekesalan namun tak bisa berbuat apa-apa. Karena jika menolak, maka uang saku dihentikan selama sebulan. Mana sanggup mereka dengan keadaan tanpa uang saku bulanan.
"Tenang saja, kali ini mereka tidak akan bisa mengganggu kamu" bisik Maxi mencoba menghapus kekhawatiran Daisy.
"Ayah mengawasi mereka" bisik Maxi lagi sambil tersenyum.
Daisy mengangguk seraya membalas senyuman Maxi.
Terdengar suara pembawa acara di atas panggung sedang berbincang dengan tuan Jack Connor.
"Maxi, sebaiknya kamu kembali ke kursimu. Nikmati penampilanku nanti" ucap Daisy. Karena penampilannya akan dimulai sepuluh menit lagi setelah sesi bincang-bincang dengan tuan Connor selesai.
"Kamu tidak apa-apa kutinggalkan?"
"Tenang saja. lihatlah banyak kru yang membantuku di sini" jawab Daisy.
"Baiklah, Daisyku. Semangat dan nikmati permainan musikmu. Panggung itu milikmu" Maxi mengusap lengan Daisy sebelum beranjak menuju pintu keluar ruang tunggu para pengisi acara.
"Terimakasih, Max" Daisy melambaikan tangannya.
"Pada festival kali ini anda mengajak serta seorang pemain piano baru dan tergolong muda. Bahkan mungkin sebagian besar hadirin di sini belum mengenalnya sama sekali. Termasuk saya. Karena sayapun baru kali ini mendengar namanya di industri musik" pembawa acara menatap tuan Connor.
"Apa yang membuat anda begitu yakin mengajak serta pemusik baru ini?" tanyanya.
Tuan Connor tersenyum bijak.
"Karena anda semua akan menyesal jika tidak melihat dan mendengar permainan pianonya" jawab tuan Connor.
"Kenapa begitu?" tanya sang pembawa acara penasaran.
"Karena saya yakin anda semua akan jatuh cinta dengan kelihaian jemarinya di atas piano" jawab tuan Connor dengan senyum bangganya.
"Anda membuat kami sangat penasaran, tuan Connor" pembawa acara tertawa mendengar jawab tuan Connor. Tuan Connor pun tertawa pelan.
"Baiklah tuan Connor. Terimakasih atas perbincangan hangat ini. Saya dan juga para hadirin sepertinya sudah tidak sabar untuk melihat performance musisi-musisi terbaik pilihan anda" pembawa acara mempersilakan tuan Connor kembali ke kursinya.
__ADS_1
"Baiklah, hadirin. Panggung ini akan kita mulai kemegahannya dengan penampilan dari gadis muda yang sangat berbakat dalam bermain piano. Dia memang sangat baru di industri musik. Namun Jack Connor music festival dengan bangga memperkenalkan dan mempersembahkan penampilan perdananya" ucap pembawa acara seraya mengarahkan tangannya ke arah stage di sebelah kanan dimana Daisy sudah berdiri di samping piano berwarna putih.
Daisy sedikit membungkukkan badannya ke arah penonton.
"Nona Daisy Fiorella Alessio Edoardo dengan Reverie karya Claude de bussy" suara pembawa acara mengiringi langkah Daisy menuju kursinya.
Lampu ball room dibuat temaram.
Perlahan denting piano menelusup indra pendengaran semua yang hadir. Nada demi nada dipetik membuat pendengarnya semakin ingin lebih mendengarnya. Setelah itu, dentingan pianonya semakin terdengat penuh perasaan.
Dia sangat menikmati permainan pianonya. Seolah dia sedang bercerita lewat musik yang dia mainkan. Bercerita tentang kebahagiaan masa kecilnya bersama ayah, ibu dan adiknya. Bahagia bercampur sedih. Penuh emosi kerinduan yang ingin dia sampaikan dan juga mimpi akan pertemuannya dengan orangtua dan adiknya di masa yang akan datang entah kapan. Seolah mimpi itu pernah dia alami. Sesekali dia memejamkan matanya namun jemarinya tetap lincah dan luwes bermain dia atas tuts-tuts hitam putih itu.
Para hadirin nampak terbawa perasaan dengan permainan piano Daisy. Seolah pesan yang disampaikan Daisy dapat mereka fahami. Mereka seakan bisa merasakan apa yang Daisy rasakan saat ini.
Sebagian yang hadir adalah penikmat musik klasik. Mereka kagum dengan musisi baru yang masih muda namun mampu membuat hati bergetar saat mendengar permainam musiknya.
Di salah satu balkon untuk penonton VIP, nampak David terpana dengan permainan piano Daisy. Dia nyaris tak berkedip sejak Daisy muncul di atas panggung hingga memainkan Reverie.
"Reverie...Daiz..dia..bagaimana bisa dia memainkan lagu kesukaannku?" gumam David.
"Dia sangat mengagumkan. Tidak hanya cantik, namun ini sangat keren" bisik Jhon kepada David.
David hanya mengangguk perlahan.
"Dia memang gadis yang penuh dengan kejutan"pikir David.
Sementara itu, di barisan kursi VIP lainnya. Nampak Marie menatap Daisy dengan tatapan marah. Dia sangat iri. Permainan piano Daisy berhasil membuatnya kembali terpana. Dan itu membuatnya kesal. Selain itu Daisy sangat keren dan cantik.
Cleo berpura-pura tidur, padahal dia menikmati musik klasik yang dibawakan Daisy.
"Oke...dia memang sangat keren. Dia jenius, cantik, anggun, kaya, seorang CEO dan ini gila...permainan pianonya sangat bagus. Itu sudah cukup membuatku menderita karena aku iri kepadanya. Membuatku semakin sulit mendapatkan Maxi" pikir Cleo.
Lain halnya dengan Joane. Dia sangat menikmati dan antusias dengan penampilan Daisy.
"Kenapa dia diciptakan sangat sempurna?" oceh Joane lagi.
"Dia memang lebih hebat dari kak Marie" lanjutnya lagi. Kali ini Marie menjewer kupingnya.
"Awas kau. Berani bicara seperti itu lagi" Marie melotot.
"Memang kenyataannya begitu kak" ucap Joane membela diri.
Ayah dan ibunya menempelkan telunjuk di bibir mereka, menyuruhnya diam.
"Sssst.." desis ibu dengan mata tegasnya kepada Marie dan Joane.
Joane langsung diam tanpa memperdulikan tatapan penuh ancaman dari Marie.
Maxi tak berhenti tersenyum memandang Daisy yang sangat cantik berbalut gaun dengan potongan sederhana namun elegan berwarna biru tua.
Semua hadirin berdiri tepuk tangan saat Daisy selesai memainkan Reverie. Dan Daisy bernafas lega, apalagi ketika Kakek, nenek, Maxi dan semua keluarganya berdiri dengan senyum bangga termasuk Joane, kecuali Marie dan Cleo yang tetap duduk di kursinya. Clarissa melambaikan tangannya lalu mengangkat dua ibu jarinya sambil menatap penuh haru pada Daisy.
Daisy duduk dan menyandarkan punggungnya di sofa yang empuk dii ruang tunggu. Mencoba rileks sebelum penampilan keduanya. Awalnya dia diminta tiga kali tampil. Namun dikarenakan waktu tidak memungkinkan, akhirnya dia hanya diminta tampil sebanyak dua kali. Daisy diberi waktu istirahat selama dua puluh menit sambil menunggu penampilan pria muda penyanyi jazz selesai.
Penampilan kedua Daisy adalah bermain piano dan bernyanyi.
Para penonton sepertinya menebak-nebak lagu apa yang akan dibawakan Daisy.
"Kali ini saya akan membawakan sebuah karya the Beatles berjudul All You Need is Love"
__ADS_1
"Lagu ini untuk anda semua"
Ucapan Daisy membuat para penonton terkejut dan membuat suasana riuh. Gadis muda berambut coklat keemasan itu membawakan karya the Beatles.
Itu sangat menarik.
"Woow karya the Beatles" pekik salah satu penonton.
"Mari kita lihat apakah sekeren panampilan pertamanya tadi?" timpal penonton lainnya.
Suasana riuh kembali hening saat denting piano mulai bergema.
Saat musik intro selesai dimainkan, Daisy mulai bernyanyi.
Love, love, love
Love, love, love
Love, love, love
Penonton yang tidak mengira bahwa Daisy juga akan bernyanyi seketika kembali riuh setelah mendengar suara Daisy yang merdu.
Jhon mendekat kepada David.
"Dia seorang gadis atau peri?" bisik Jhon. David hanya tersenyum mendengar pertanyaan Jhon.
"Mungkin dia salah satu peri hutan Amare"pikir David masih dengan senyum menghias wajahnya. Namun seketika senyumnya memudar sangat ingat bahwa Daisy adalah calon istri Maxi.
Dia sungguh semakin menyukai Daisy, namun apa daya dia tidak punya kesempatan lagi. Saat ini David merasa seperti pungguk merindukan bulan.
Daisy kembali bermain piano sambil bernyanyi dengan wajah ceria.
There's nothing you can do that can't be done
Nothing you can sing that can't be sung
Nothing you can say, but you can learn how to play the game
It's easy
Nothing you can make that can't be made
No one you can save that can't be saved
Nothing you can do, but you can learn how to be you in time
It's easy
All you need is love
All you need is love
All you need is love, love
Love is all you need
Love, love, love
Love, love, love
__ADS_1
Love, love, love
***