
Acara wisuda sudah selesai. Acara istimewa untuk Daisy, Maxi dan Yazid. Daisy tadi dipanggil pertama sebagai mahasiswa dengan predikat Kehormatan tertinggi atau with highest praise atau summa cumlaude, yaitu nilai sempurna. Dia adalah mahasiswa lulusan terbaik tahun ini.
Kehadiran Kakek Edoardo dan Nenek Luisa yang duduk di baris paling depan untuk tamu kehormatan mengundang perhatian. Ada tiga cucu dari keluarga bangsawan Edoardo yang berwisuda hari ini. Apalagi salah satunya adalah mahasiswa termuda sebagai lulusan terbaik.
Daisy, Maxi dan Yazid berbeda fakultas. Jadi tempat mereka duduk berjauhan.
Saat sesi foto bersama keluarga, Daisy didampingi oleh Kakek Edoardo dan Nenek Luisa.
Maxi ditemani paman Luca dan bibi Victoria. sedangkan Yazid ditemani oleh Bibi Naomi dan paman Husain.
Setelah itu mereka semua berfoto bersama kakek Edoardo dan Nenek Luisa.
"Bagaimana keadaanmu sekarang, Daisy?"tanya bibi Naomi menghampiri Daisy selepas pemotretan bersama.
"Bibi dan paman minta maaf atas apa yang dilakukan Cleo kepadamu. Kami sudah hukum dia supaya dia tidak mengulangi perbuatan seperti itu lagi."Bibi Naomi mengangkat sedikit topi toga Daisy untuk melihat perban yang masih terpasang rapi.
"Sudah membaik, bibi. Tunggu sekitar dua hari mungkin sudah mengering lukanya"Jawab Daisy.
"Oh iya, selamat atas prestasimu. Kamu hebat, persis seperti ayah dan ibumu. Mereka sangat pintar" bibi Naomi memeluk Daisy hangat.
Daisy merasa canggung. Karena ini pertama kalinya bibi Naomi menyapa dan memeluknya.
"Terimakasih, bibi" ucap Daisy.
Apakah bibi Naomi mengenal ibu? Kenapa tadi dia mengatakan bahwa aku sangat pintar seperti ayah dan ibu? Pikir Daisy.
Paman Husen menyalami Daisy seraya mengelus kepalanya.
"Selamat atas prestasimu, gadis pintar" ucap paman Husain.
"Terimakasih, Paman" ucap Daisy.
Ternyata mereka sangat ramah. Selama ini Daisy melihat mereka sangat kaku dan menakutkan. Tidak pernah menyapa atau tersenyum kepadanya.
Paman Husain memandangnya lekat seolah menelusuri setiap inchi wajah Daisy. Membuat Daisy merasa kikuk.
Paman Husain menghela nafas dengan berat lalu tersenyum seraya kembali mengusap kepala Daisy yang masih tertutup toga.
Bibi Naomi berdehem membuat paman Husain segera beranjak menjauhi Daisy.
Seperti ada yang aneh di antara mereka. Pikir Daisy.
Tidak lama kemudian, Yazid datang menghampiri. Menyalami Daisy. Dia tadi hendak memeluk, tapi segera membatalkan rencana memeluknya . Karena Maxi tiba-tiba sudah ada di samping Daisy.
"Bolehkah aku memegang tanganmu, Daisy?" tanya Maxi.
"Silakan Max" Daisy mengulurkan tangannya.
Maxi meraih tangan Daisy dan melihat dengan tatapan waspada kepada Yazid. Daisy menoleh ke arah Maxi seraya tersenyum manis. Membuat Yazid heran melihat sikap Maxi kepada Daisy. Kenapa si wajah dingin dan sombong itu sekarang jadi akrab dan sangat manis kepada Daisy? Pikir Yazid merasa tidak senang.
Yazid jadi teringat pada saat pesta kebun, saat Maxi terlihat selalu berusaha mendekati Daisy. Padahal waktu itu Daisy masih terlihat dingin pada Maxi. Tapi kali ini keduanya terlihat sangat akrab.
"Selamat, Daisy. Mahasiswa lulusan termuda dan terbaik" ucap Yazid dengan senyum mengembang. Wajah Yazid cenderung lebih ke khas pria timur tengah, mirip sekali dengan paman Husain.
"Terimakasih. Selamat juga untukmu, Yazid"sahut Daisy.
"Selamat juga, Maxi. Akhirnya kamu lulus" Yazid memajukan tangannya mengajak Maxi untuk bersalaman. Tentu saja dengan senyum mengejek. Karena seharusnya Maxi lulus lebih dulu dari Yazid.
__ADS_1
"Aku telat lulus bukan karena bodoh dan malas tapi karena memang sibuk. Buktinya nilaiku bagus semua" sahut Maxi.
"Selamat lulus juga, semoga saja nilaimu pun bagus" ucap Maxi.
Yazid tertawa. Dia memeluk Maxi. Lalu menepuk punggung Maxi. Orang lain yang melihat pasti mengira mereka sangat akrab.
"Kenapa kau berani memegang tangan Daisy?" Tanya Yazid berbisik.
Maxi tertawa.
"Asal kau tahu, tuan Yazid. Daisy fiorella Alessio adalah calon istriku. Aku tahu tadi kau akan memeluknya. Tidak ada yang boleh kecuali aku" jawab Maxi berbisik pula dengan nada penuh penekanan.
Yazid melepaskan pelukannya. Menatap Maxi dan Daisy bergantian. Dia tidak terima dengan apa yang Maxi ucapkan.
"Kalian sangat akrab ya. Padahal kalau di rumah, kalian tidak pernah terlihat mengobrol" Paman Luca dan bibi Victoria menghampiri mereka.
"Kami sebenarnya akrab, hanya tidak terlihat saja. Betulkan Yazid?" Maxi merangkul lengan Yazid dengan sangat erat, sampai Yazid meringis kesakitan.
"Iya betul kami akrab sebenarnya. Hanya saja Maxi terlalu menutup diri kalau di rumah. Selalu sibuk" Yazid berusaha melepaskan rangkulan Maxi. Otot -otot lengan Maxi yang kuat dan kencang rasanya seperti sengaja ingin meremas tubuhnya hingga hancur.
"Aku memang benar-benar sibuk, Yazid. Memangnya kau, selalu menghabiskan waktu untuk bermain" ucap Maxi. Dia melepaskan rangkulannya . Yazid bernafas lega.
Daisy yang melihat itu hanya bisa menahan tawa.
"Sepertinya kau butuh olahraga, Yazid. Badanmu sangat lembek. Bagaimana kalau kita gym bersama?" Maxi berucap. Yazid yang masih meringis kesakitan, nampak kesal.
"Daisy, selamat ya. Kamu memang anak yang hebat" paman Luca memberi selamat.
"Selamat ya, sayang. Kita semua bangga padamu"Bibi Victoria memeluk Daisy hangat.
Daisy merasa tidak percaya. Kenapa paman dan bibinya sekarang bersikap sangat baik padanya. Padahal selama ini mereka seperti tidak menganggap dirinya ada.
"Lalu...kalian berdua bagaimana setelah ini?" Tanya paman Luca.
"Daisy baru tujuh belas tahun, ayah. Aku akan menunggunya sampai usianya dua puluh tahun untuk menikahinya" ucap Maxi membuat semua menoleh ke arahnya.
Bibi Victoria menahan tawanya, sedangkan paman Luca tidak bisa menahan tawa.
"Maksud ayah, setelah dari sini, mau langsung pulang atau ikut kami makan siang di luar? Tadi ayah kirim chat ke ponselmu" Jelas paman Luca. Membuat Maxi malu. Maxi lekas meraih ponselnya yang dia simpan di saku celananya. Dia memang belum mengaktifkan lagi ponselnya.
"Rupanya kamu sudah merencanakan menikahinya" paman Luca kembali tertawa.
Bibi Victoria hanya tertawa pelan.
Daisy tersenyum menatap Maxi yang sedang menatapnya malu sambil melepas topi toganya dan mengacak asal rambutnya sendiri.
"Kami ikut ayah dan ibu makan siang bersama. Kamu mau kan?" Maxi meraih tangan Daisy.
"Baiklah, aku ikut paman dan bibi" jawab Daisy. Dia tidak ada acara apa-apa setelah dari sini. Lagipula paman Luca dan bibi Victoria sudah berbaik hati mengajaknya. Tidak enak jika menolaknya.
Kakek dan Nenek masih berbincang dengan para petinggi kampus dan beberapa tamu kehormatan. Tadi selepas acara foto bersama, kakek dan nenek mengijinkan Daisy untuk pulang terlebih dahulu. Karena Kakek dan Nenek akan melanjutkan menghadiri undangan acara di kantor menteri dalam negeri.
Jadi Daisy memutuskan untuk ikut saja.
Mereka beranjak keluar aula gedung. Daisy dan Maxi berjalan berdampingan di belakang paman Luca dan bibi Victoria.
Beberapa meter di belakang mereka, Yazid nampak kesal melihat Maxi berpegangan tangan dengan Daisy. Sesekali Maxi menoleh ke arah Daisy sambil tersenyum. Begitupun Daisy. Mereka nampak bahagia. Tapi Yazid tidak.
__ADS_1
***
Suasana di restoran jepang ini sangat nyaman. Mereka duduk dalam ruangan VIP untuk empat orang dengan meja makan ala jepang tanpa kursi. Mereka duduk di lantai kayu beralaskan bantalan empuk. Daisy duduk di sebelah Maxi. Di depan mereka duduk paman Luca dan bibi Victoria.
Mereka memesan sushi dan beberapa menu penutup.
"Kamu coba yang ini. Rasanya enak menurutku" Maxi menyodorkan sepotong sushi yang dijepit sumpit ke depan mulut Daisy.
"Isi salmon panggang dan irisan alpukat" ucap Maxi lagi. Daisy pernah mencoba beberapa menu sushi di restoran ini bersama miss Aneth beberapa waktu lalu. Dan sushi yang dipilih Maxi adalah satu dari beberapa sushi favoritnya. Karena dia lebih suka ikan yang dipanggang terlebih dahulu dibandingkan yang mentah.
Daisy menatap paman dan bibinya malu-malu.
"Tidak apa-apa. Santai saja. Kami sudah faham kelakuan anak muda" ucap paman Luca. Maxi tertawa hingga tangannya bergetar. Dia meletakkan kembali sumpit dengan shushi ke piringnya.
"Lanjutkan saja, Maxi. Anggap kami tidak ada" bibi victoria tersenyum lucu.
"Lain kali mungkin aku akan ajak Daisy makan hanya berdua" gumam Maxi.
"Max...." Daisy bergumam, pipinya sudah merona sejak tadi.
Paman dan bibinya tertawa.
"Ingat, jika kalian pergi berdua. Harus bisa jaga diri. Kamu harus benar-benar menjaga Daisy, Maxi" Paman Luca memperingatkan.
"Iya, ayah"Sahut Maxi.
Dia tahu betul resikonya. Segala hal tentang Daisy berarti berurusan dengan kakek Edoardo.
"Lalu kamu tidak jadi membagi sushimu kepada Daisy?" Tanya bibi Victoria menatap sushi yang diletakkan kembali oleh Maxi ke piringnya.
"Kami tidak melihat kalian!" Paman Luca bergumam seraya menyuap satu sushi. Membuang pandangannya ke sembarang arah menahan tawa.
Namun akhirnya mereka tertawa bersama.
"Aaaaa....." Maxi menyuapi sepotong shushi ke mulut Daisy.
Daisy mengacungkan ibu jarinya tanda terimakasih, karena mulutnya penuh.
"Kamu tidak mau menawariku mencoba sushi punyamu?" Tanya Maxi.
Paman Luca menggelengkan kepalanya.
"Tentu saja, kamu boleh mencobanya , Max" Daisy mempersilahkan Maxi mengambil dari piringnya. Dia mengangkat piring sushinya ke arah Maxi.
"Ini ada potongan daging kepiting dengan taburan lada hitam dan sedikit wijen dalam nasinya" Daisy menjelaskan.
"O iya, ada potongan mentimun segar di dalamnya. Kamu pasti suka"
"Kamu tidak mau menyuapiku?" Tanya Maxi. Daisy melotot ke arah Maxi. Dia malu kepada paman dan bibinya.
"Pleaseee...." Maxi bergumam pelan. Daisy tahu Maxi sengaja mengerjainya.
"Baiklah, Max" Daisy menyuapi Maxi sepotong sushi dari piringnya.
Paman dan bibi saling pandang lalu bersamaan menggelengkan kepala mereka.
"Maxi..Maxi...kamu ini" gumam bibi Victoria. Tapi dalam hati dia merasa senang. Selama ini Maxi jarang sekali tersenyum. Dia selalu menutup diri. Bersikap dingin dan akan cepat marah jika tersinggung. Dia melihat Maxi terlihat sangat bahagia. Wajahnya ceria dan nampak penuh semangat.
__ADS_1
Mereka melanjutkan makan siang yang kesorean dengan obrolan ringan tentang menu makanan dan minuman serta makanan penutup yang mereka santap. Rasanya seperti mereka memang sudah akrab sejak lama.
***