NAMAKU DAISY - BUKAN BEBEK BURUK RUPA

NAMAKU DAISY - BUKAN BEBEK BURUK RUPA
16. Undangan dari Jack Connor Music Festival


__ADS_3

Hari ini Daisy kembali datang ke kantor. Dia mempelajari laporan perusahaan PT. Benvollio Farm sembilan tahun ke belakang. Karena nanti dia yang akan meneruskan perusahaan, dia harus mempelajari semuanya. Selama ini kuasa yang dibawah pengawasan kakek Edoardo menjalankannya dengan sangat baik.


Pintu ruangannya diketuk. Gabriella muncul.


"Nona, Tuan besar memanggil Nona ke ruangannya" Gabriella berdiri tegap di depan meja Daisy.


"Baik, miss Gaby. Saya ke ruangan kakek sekarang" Daisy menutup laptopnya.


"Aku bisa sendiri, miss. Kau bisa lanjutkan pekerjaanmu" ucap Daisy.


"Tuan besar berpesan agar saya selalu temani Nona" jawab Gabriela. Daisy mengangguk.


"Baiklah" ucap Daisy.


"Kau kenal dengan miss Aneth?" tanya Daisy membuat Gabriela terperangah kaget.


"Miss Aranetha, aku memanggilnya miss Aneth. Aku rasa dia adalah seniormu" ucapan Daisy yang disampaikan dengan sangat santai itu membuat Gabriela terkejut. Gabriela menekan micropone kecil yang tersemat di lipatan kerah bajunya. Itu berfungsi untuk terhubung langsung dengan pusat tim kemananan. Jadi percakapan mereka bisa didengar di markas tim kemananan.


"Bahasa tubuh kalian sama. Aku bisa mengenalinya. Kau dan miss Aneth adalah dua dari sekian banyak anggota tim khusus keamanan rahasia Edoardo Luxury group"


Gabriela terpaku dengan kata-kata Daisy.


"Aku rasa ruanganku sudah diamankan. Jadi pembicaraan kita sudah pasti aman di sini" ucap Daisy.


"Tenere al sicuro 999 (tetap aman 999 )" ucap Daisy seraya berdiri tegap. Itu adalah kata sandi tim kemanan rahasia.


"Pronta, Signorina 111 (siap, Nona 111)" sahut Gabriela.


"Zero", ucap Daisy, kemudian langsung diam. Lalu membuka pintu ruangannya.


Zero adalah kode bahwa percakapan rahasia sudah selesai.


Gabriela bergegas mengikuti langkah Daisy menuju lift.


"Tidak apa-apa. Nona Daisy memang sangat cerdas. Tuan dan nyonya besar juga pasti sangat senang" suara dari markas terdengar di telinga Gabriela. Dia segera mematikan tombol microphonenya.


"Gadis yang pintar dan pemberani. Tidak akan ada yang menduga jika dibalik wajah ceria remajanya ada sebuah kekuatan besar yang dia miliki. Tapi aku bisa merasakannya. Dia persis seperti Nyonya besar" Gabriela menatap kagum.


Pak Thomas sudah menunggu Daisy di depan lift. Lalu mengantarnya ke ruangan kakek.


Ada seorang tamu di sana. Dia adalah tuan Jack Connor. Musisi ternama di kota Brown yang sudah mendunia.


"Daisy cucuku..duduklah" sambut Kakek dengan wajah sumringah. Begitu pula dengan tuan Connor.


"Selamat siang, Kakek. Selamat siang tuan Connor"Sapa Daisy sebelum duduk.


"Selamat siang, Nona Daisy" sahut tuan Connor.


"Daisy, tuan Connor datang ke sini ingin menyampaikan sesuatu kepadamu" ucap kakek Edoardo.


"Silakan, tuan Connor" kakek mempersilakan tuan Connor berbicara.

__ADS_1


"Nona Daisy. Saya sangat terkesan dengan permainan pianomu sewaktu acara pesta kebun di rumah kakekmu. Menurutku kamu sangat berbakat dan jenius dalam bermusik. Kamu sangat mirip dengan ayahmu. Ayahmu adalah muridku saat dia masih kecil." tuan Connor berbicara.


"Terimakasih atas apresiasi anda, tuan" sahut Daisy.


Tuan Connor tersenyum.


"Saya bermaksud mengundangmu bermain piano di acara Jack Connor Music Festival yang diadakan bulan depan. Apakah kamu bersedia?" tanya tuan Connor.


Daisy terperanjat mendengarnya. Itu adalah acara musik bergengsi yang diadakan setiap tahun di kota Brown. Musisi yang tampil adalah musisi-musisi kenamaan. Sedangkan dirinya bukan siapa-siapa. Dia tidak punya jejak karya di dunia musik sedikitpun.


"Terimakasih atas undangannya, tuan. Tapi, apakah saya pantas tampil di sana? sedangkan acara besar itu biasanya menampilkan musisi-musisi hebat yang sudah terkenal" tanya Daisy merasa ragu dengan kemampuannya.


Tuan Connor tertawa pelan.


"Kamu sangat pantas tampil di sana. Sudah seharusnya kamu tunjukan kepada dunia bahwa kamu punya bakat hebat yang tidak semua orang miliki" sahut tuan Connor.


"Dan biarkan semua orang menikmati alunan pianomu yang sangat memukau"


Daisy berpikir sejenak, lalu menatap kakek.


"Apakah saya bisa tampil di sana karena saya adalah cucu kakek? Karena mungkin sebenarnya masih banyak musisi muda lain yang lebih hebat dari saya yang layak tampil bersama anda dan para musisi kenamaan lainnya" Kali ini Daisy kembali menatap tuan Connor.


Tuan Connor mengacungkan jempolnya.


"Karena kamu memang layak. Bukan karena kamu seorang cucu Tuan Edoardo. Seorang musisi yang tidak terekspos. Bakat sepertimu sangat jarang. Dari sekian banyak murid saya, hanya Alessio yang bisa membuat saya terpukau dengan permainan pianonya. Saya pikir saya tidak akan menemukan seseorang seperti Alessio lagi. Tapi ternyata dia menurunkan bakatnya padamu" mata tuan Connor berkaca-kaca. Alessio adalah murid kebanggaannya. Dia seperti melihat Alessio ketika menatap mata gadis di hadapannya.


"Bagaimana pendapat kakek? apakah aku boleh tampil di acara tuan Connor?" tanya Daisy.


"Baiklah, tuan Connor. Saya bersedia hadir" Daisy mengambil keputusan yang membuat tuan Connor sangat senang.


"Berapa lagu yang harus saya bawakan nanti?" tanya Daisy.


"Kamu memang anak muda yang punya segudang bakat dan semangat tinggi, nona Daisy" tuan Connor tertawa bersama kakek.


"Dua lagu saja sudah cukup. Jika boleh salah satunya adalah lagi Reverie karya Debussy. Lainnya terserah kamu. Sore ini tim saya akan mengirimkan email surat konfirmasi kehadiran beserta data yang bisa kamu isi" kata tuan Connor.


"Satu lagu lainnya mungkin saya akan sambil bernyanyi jika diperbolehkan" ucap Daisy membuat Tuan Connor dan Kakek terkejut.


"Oooh tentu saja boleh. Dengan senang hati" tuan Connor menatap Kakek dengan takjub. Seolah bertanya, apakah Daisy bisa bernyanyi?. Kakek hanya mengangguk pasti. Dan tuan Connor puas dengan jawaban Kakek.


"Besok namamu sudah ada tampil dalam iklan acara ini. Bersedia atau keberatan?" tanya tuan Connor.


'Silahkan, tuan. Tidak apa-apa. Semoga saja penampilan saya nanti bisa menyenangkan penonton" jawab Daisy.


"Kamu pemusik termuda yang akan tampil nanti. Semoga saja dengan penampilanmu, justru membuat perhatian banyak anak muda untuk menyaksikan acara ini" ucap tuan Connor.


"Baiklah. Saya rasa sudah cukup saya berbincang dengan nona Daisy. Maaf sudah menyita waktu bekerjamu. Saya sangat berterimakasih" ucap tuan Connor lagi.


"Tidak apa-apa, tuan Connor." sahut Daisy. "Saya juga berterimakasih atas kesempatan yang diberikan"


"Sudah selayaknya, nona Daisy" ucap tuan Connor.

__ADS_1


"Kamu boleh kembali ke ruanganmu, Daisy. Kakek masih akan berbincang dengan tuan Connor" kata Kakek .


"Baiklah, Kakek. Kalau begitu saya permisi"


"Sampai jumpa lagi, tuan Connor" pamit Daisy lalu beranjak keluar dari ruangan kakek Edoardo.


Daisy sudah punya satu lagi lagu pilihan yang akan dia bawakan nanti. Dia tidak kesulitan mencari lagu yang akan dibawakan. Karena sedari kecil hingga sekarang, dia memang selalu bermain piano di waktu senggangnya. Ayah dan ibunya sudah mengajari bermain piano dan bernyanyj sejak dia berumur empat tahun. Dan Daisy bisa bermain dengan tidak merasa bosan dan lelah selama berjam-jam. Setelah ayah dan ibu meninggal, Miss aneth pun tetap memanggil guru les piano untuk Daisy hingga Daisy duduk di bangku sekolah menengah pertama. Setelah itu Daisy selalu berlatih sendiri.


"Kamu dari ruangan Kakek?" tanya Maxi saat mereka bertemu di depan lift. Maxi baru saja mengambil berkas yang sudah ditandatangani kakek di meja sekretaris kakek.


"Iya, tadi kakek memanggilku" jawab Daisy seraya mencari miss Gaby yang tidak ada menunggunya.


"Aku menyuruh Gabriella pergi. Kubilang aku yang akan menemanimu"Maxi seolah tahu apa yang Daisy cari.


"Dan dia menurut padamu?" tanya Daisy heran. Maxi mengangguk.


"Bukankah ada tuan Connor di dalam?" tanya Maxi. Kali ini Daisy yang mengangguk.


"Tadi aku melihatnya datang disambut pak Thomas. Sudah pasti bertemu kakek" Maxi menjelaskan tanpa Daisy tanya.


"Aku akan menonton pertunjukanmu di kursi paling depan" kata Maxi bersemangat.


Daisy menoleh. Bagaimana Maxi bisa tahu kalau dia akan tampil di acara festival musik itu.


"Kalau aku jadi tuan Connor, aku juga pasti akan mengundangmu tampil di acara konser musik. Siapa yang tidak terpesona dengan permainan pianomu yang sangat memukau?" Maxi memamerkan senyum manisnya. Karena dia yakin tebakannya benar.


"Aku tidak sehebat itu bermain piano. Aku hanya bisa sedikit saja" Daisy berjalan masuk ke dalam lift.


"Kamu sangat hebat, Daisyku" Maxi mengacungkan kedua ibujari tangannya di depan wajah Daisy


"Jangan berlebihan, Max" Daisy terkekeh. Dia menyingkirkan tangan Maxi dari depan wajahnya.


"Tapi, aku minta jangan ceritakan soal ini kepada siapapun, Max" pinta Daisy. Maxi mengangguk.


"Semua orang akan tahu, Daisyku. Kamu pasti akan muncul di iklan televisi dan media sosial"


Ah iya Daisy baru ingat.


"Sudahlah jangan khawatirkan apa-apa. Lagipula ini bukan sebuah rahasia" Maxi tertawa.


Maxi tahu dengan tampilnya Daisy di festival musik, pasti akan membuat Marie marah besar. Karena Maxi tahu impian Marie adalah tampil bermain piano di acara musik bergengsi seperti Connor Music Festival. Tapi memang kemampuan Marie bermain piano tidak sehebat Daisy.


"Aku hanya sedikit malu saja jika sebelum tampil semua orang sudah mengetahuinya" ucap Daisy.


"Kamu yaaaa...memang dasar bebek kecil" gumamnya membuat Daisy melotot.


"Oke...Daisy Fiorella Alessio. Calon istriku yang cantik" Maxi menggamit tangan Daisy bertepatan dengan pintu lift terbuka. Mereka menuju ruangan kerja Daisy.


Mereka tidak menyadari ada Yazid yang sedang duduk di kursi tunggu menatap mereka dengan pandangan cemburu.


***

__ADS_1


__ADS_2