
Sebuah kedai tradisional di tepi sungai kecil yang berair jernih dengan pemandangan hamparan kebun buah adalah pilihan terbaik untuk singgah setelah berkeliling kota.
"Nanti sore, kamu jadi ke yayasan?"tanya Maxi.
"Jadi, Max. Pimpinan yayasan Allesio sudah meminta waktu sejak dua hari yang lalu melalui miss Gaby" jawab Daisy.
"Aku juga ingin bertemu dengan anak-anak yayasan"lanjut Daisy.
"Sebagian dari pendapatan rumah sakit Alessio memang sudah dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan yayasan sejak ayahku masih ada. Syukurlah masih tetap berlanjut hingga sekarang"
"Berkat Kakek juga yang selalu memastikan semua tetap berjalan seperti biasanya" Daisy tersenyum haru dengan semua bantuan yang sudah Kakeknya lakukan
"Setelah kembali dari Inggris apa rencanamu, Max?" Daisy mengalihkan pandangannya ke arah Maxi.
"Setelah urusanku selesai di Inggris. Aku berencana membangun perkebunan anggur di sini" ucap Maxi membuat Daisy sangat senang mendengarnya.
"Betulkah?" tanya Daisy.
Maxi mengangguk.
"Sebagian besar asset di sana akan kujual dan dialihkan untuk kelola bisnis di sini saja. Kecuali satu perkebunan yang memang hasilnya untuk kebutuhan yayasan sosial milik orangtuaku di sana, itu tetap akan berjalan di sana"ucap Maxi.
Daisy sangat kagum mendengarnya.
"Kemarin aku sudah dibantu oleh kakek Edoardo untuk dicarikan lahan perkebunan di kota Amber atau di kota sebelah. Nanti tinggal tunggu kabar lagi" lanjut Maxi.
"Selain perkebunan, aku juga berencana mendirikan sekolah berkuda dan peternakan kuda" ucap Maxi.
"Itu sangat keren, Max" Daisy menatap Maxi dengan senyum mengembang.
"Baru dua itu rencana bisnis yang akan aku jalani dalam waktu dekat. Mungkin ke depannya ada lagi bisnis lain" Maxi membalas senyum Daisy. Lalu memandang sungai yang berair bersih di depan kedai.
"Saat ini sudah ada yayasan sosial bagi anak yatim piatu dan tidak mampu, sudah berjalan selama hampir tiga tahun di kota Brown" ucap Maxi. Kembali membuat Daisy terkejut. Dia tidak mengetahui jika Maxi memiliki yayasan sosial.
"Ketika aku bayi, orangtuaku membuka tabungan deposito atas namaku yang bisa dicairkan jika usiaku sudah dua puluh tahun. Dan itu jumlahnya sangat besar. Aku mengutarakan keinginanku untuk membuka yayasan sosial kepada ayah Luca dan Ibu. Mereka sangat senang dan membantuku mewujudkan itu"Maxi masih menatap aliran sungai yang jernih.
"Kamu hebat, Max" gumam Daisy menepuk tangan Maxi dengan lembut.
"Aku berharap kebaikan itu akan terus mengalir untuk orangtuaku di sana. Sama halnya dengan kebaikan yang orangtuamu lakukan hingga sekarang, semoga kebaikan itu terus mengalir untuk mereka" gumam Maxi.
__ADS_1
Mereka berdua sama-sama terdiam. Mengenang kedua orang tua dalam kenangan yang berbeda.
"Kamu mau minum apa, Daisyku?" Maxi bertanya.
Daisy tersadar dari lamunannya.
"Maafkan aku, membuatmu ikut terbawa lamunan" gumam Maxi menepuk lembut punggung Daisy.
"Tidak apa-apa, Max" sahut Daisy.
"Kamu pernah makan Amber Bridie?" tanya Daisy. Maxi mengerutkan keningnya sambil menggelengkan kepala.
"Bridie adalah sebutan sehari-hari orang sini untuk menyebut roti. Berasal dari kata bread"Daisy menjelaskan.
"Biasanya diisi daging sapi cincang atau sayuran"lanjut Daisy.
Daisy memesan dua buah bridie dan dua cangkir teh apel madu.
Kemudian meraih ponselnya untuk menghubungi Clarissa yang rencananya akan ikut ke yayasan Alessio.
"Max, aku menelepon Clarissa sebentar. Memastikan apakah dia jadi ikut atau tidak"ucap Daisy kepada Maxi yang dibalas anggukan kepala oleh Maxi.
"Clarissa barusan mengatakan kalau kita diundang makan siang di villa paman Roger. Bibi Kelly yang mengundang kita" Daisy memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas.
"Aku akan bawakan selusin amber bridie untuk bibi Kelly" Daisy bergegas memesan kembali Amber bridie untuk dibawa saat makan siang nanti.
"Daisyku, tanggal pesta pertunangan kita sudah disetujui Kakek" Maxi memperlihatkan chat dari ayahnya yang menginformasikan tanggal pesta pertunangan mereka.
"Oh ya?" Daisy mendongak ikut membaca chat itu.
"Aku senang sekali"gumam Maxi.
"Aku juga" Daisy tersenyum.
Dua hari yang lalu memang orangtuanya sudah menghubungi Maxi dan Daisy untuk membahas soal itu. Mereka dengan cepat mengatur tanggal dan semua halnya. Setelah Maxi dan Daisy sepakat menentukan tanggalnya, orangtuanya akan bicara kepada kakek.
"Ibu sudah menghubungi pihak event organizer untuk membantu pesta kita. Semangat sekali ibuku itu" gumam Maxi.
"Bibi Victoria sangat sayang padamu, Max" sahut Daisy.
__ADS_1
"Dan dia sangat bahagia. Dia pernah berkata bahwa sekarang aku menjadi ceria dan sering tersenyum" ucap Maxi.
"Bibi Victoria betul. Dulu kamu sangat galak, Max. Bahkan saat menolongku dari gangguan Marie, Cleo dan Joane, wajahmu selalu galak dan tidak pernah tersenyum" gumam Daisy membuat Maxi tertawa pelan.
"Aku selalu berpikir kamu baik tapi menyebalkan dan kadang menakutkan" lanjut Daisy.
Maxi tertawa sambil mencubit pipi Daisy pelan. Membuat Daisy meringis.
"Aku sudah pernah jelaskan padamu. Dulu aku sangat tidak percaya diri jika menunjukkan bahwa aku sangat suka dan peduli padamu. Aku hanya pura-pura galak" ucap Maxi.
"Tapi aku tidak bisa jika membiarkanmu sendiri jika ada tiga gadis itu. Aku bahkan selalu menunggumu keluar rumah setiap pagi. Mengintip dari kamarku. Meskipun hanya melihatmu berjalan dari rumahmu menuju mobil yang mengantarkanmu ke sekolah, itu sudah membuat hatiku senang sepanjang hari" ucap Maxi setengah berbisik.
Daisy terperangah kemudian tertawa kecil.
"Kamu tidak percaya?" Maxi bertanya.
"Karena kamu yang mengatakannya langsung aku percaya, Max"sahut Daisy
***
David terdiam membaca email yang dikirimkan Hugo.
Maxi bukan cucu kandung keluarga Edoardo. Dia adalah keponakan Victoria Lewis, menantu bangsawan Edoardo. Ibu Maxi bernama Catherine Ĺewis dan ayahnya bernama Sir. Edward Hamilton. Kedua orangtua Maxi sudah meninggal karena kecelakaan mobil.
Nama lengkap Maxi adalah Sir.Maxi Edward Hamilton, putra Sir. Edward Hamilton. Pewaris kerajaan bisnis Hamilton Group di Inggris.
Maxi dan Daisy berencana akan bertunangan dalam waktu dekat. Bahkan sudah ada sebuah perusahaan jasa Event organizer yang disewa untuk acara pertunangan mereka di bulan depan.
Informasi yang didapatkan dari berbagai sumber yang sangat dipercaya.
David membaca email tersebut dengan perasaan kecewa. Harapannya untuk mendapatkan Daisy sudah kandas.
Dia sudah menebak bahwa hubungan Maxi dan Daisy bukan hubungan sepupu. Betul, mereka adalah sepasang kekasih. Sangat terlihat jelas tatapan dan sikap Maxi yang penuh cinta kepada gadis itu.
David meraih kameranya. Dia memindahkan file berisi foto-foto Daisy yang diambilnya tadi pagi di hutan.
Karena hard disk eksternalnya hilang entah dimana jadi setiap hasil foto di kameranya harus segera dipindahkan ke laptop agar aman. Padahal data foto di hard disknya yang hilang sangat banyak. Walaupun tidak ada foto yang sifatnya rahasia, tapi foto-foto sangat berarti untuknya. Setiap dia bepergian kemanapun, dia tidak pernah melupakan untuk mengabadikan setiap moment dan pemandangan dengan kameranya. Dan semua tersimpan di hard disk itu.
Ditatapnya kembali foto-foto Daisy di laptop. Apakah harus dia hapus?, David berfikir dengan perasaan bimbang.
__ADS_1
***