
Nafisya mengusap lembut ubun-ubun Ilham dengan lembut yang kini sedang berbaring di jilbab nya.
Wajah suaminya tampak lelah saat Nafisya memasuki kamar nya pun dia mendapati Ilham yang sedang duduk di sofa memejamkan mata-nya.
Tangan Nafisya mengambil ikat rambut yang berada di atas nakas lalu mengikat rambut Ilham yang hampir panjang.
"Rambut kakak udah terlalu panjang," ujar Nafisya membuat Ilham yang tadinya memejamkan mata langsung melek.
Wajah Nafisya saat ini tidak tertutup cadar sehingga membuat Ilham leluasa menatap wajah cantik itu.
"Aku lupa potong biasanya sebelum nikah suka pergi ke bandung suruh Bunda aja karena aku enggak terbiasa sama tukang cukur," balas Ilham masih menatap mata Nafisya.
"Kata Abi kamu bisa cukur rambut jadi cukurin rambut aku ya," imbuh Ilham pula bangkit dari rebahannya.
Wajah lelah tidak terlihat lagi kini wajah Ilham mulai sumringah.
"Boleh," Ucap Nafisya.
"Di balkon aja ya," Nafisya hanya mengangguk lalu beranjak pergi keluar mengambil alat cukur yang biasa di pakai Abi nya atau Haikal.
Sebelum itu ia memakai cadarnya kembali takut-takut jika di luar sedang ada tamu.
"Sya, di luar ada yang nyariin," ucap Ayesha kakak ipar Nafisya yang berpapasan di anak tangga.
"Siapa?" Nafisya menautkan alisnya.
"Kurir" jawab Ayesha sekenanya .
"Yeh, aku kira siapa?" balas Nafisya lalu melanjut kan langkah nya yang terhenti.
Nafisya nampak berpikir karena seingatnya dia tidak memesan apa-apa.
__ADS_1
"Sya, nih tadi ada kurir yang nganter ini," ucap Haikal menyodorkan kardus berukuran sedang.
Nafisya menerima itu lalu melihat siapa pengirimnya.
"Ohh...." gumamnya.
Nafisya membawa kardus itu ke kamar tak lupa ia membawa alat cukur.
******
Wajah Nafisya tampak serius mencukur rambut Ilham.
"Sempurna," gumamnya lalu menyimpan alat cukur itu di atas meja.
perempuan itu menatap bangga hasil karya nya sangat tidak di ragu kan. perfect.
"Bagus, kenapa enggak jadi tukang cukur aja Naf," canda Ilham membuat Nafisya lansung membulat kan matanya.
" Enak aja," kesal Nafisya mencubit hidung Ilham.
"Muka nya jangan di tekuk gitu dong," ucap Ilham lalu menarik pinggang Nafisya hingga merapat ke tubuhnya.
cup...
Ilham mencium bibir mungil istrinya lama kelamaan ******* itu mulai ada refleks membuat Nafisya mengalung tangan nya fi tengkuk leher Ilham.
Ilham melepaskan tautan itu lalu menatap wajah istrinya yang kini sedang mengantur nafas.
Detik selanjutnya kamar bernuansa biru putih itu sudah terdengar jelas suara desahan yang saling bersautan.
******
__ADS_1
Seorang wanita cantik mengeliat saat mendengar adzan subuh berkumandang.
Tangan lelaki yang teramat ia cintai melingkar di perut ratanya dengan erat tangan kekat itu memeluk menyalurkan ke hangatan.
" Kak, bangun," Nafisya mengusap lembut pipi suaminya membuat Ilham yang tadi nya hanya pura-pura terlelap langsung membuka mata.
" Udah bangun kok," balas Ilham mengecup singkat istrinya.
"Sholat subuh di mushola atau jama'ah sama Fisya?" tanya Nafisya saat akan beranjak ke kamar mandi mensuci kan dirinya.
"Jama'ah sama kamu," jawab Ilham lalu meraih ponsel milik dirinya. Mengabari sekertaris nya.
°
"Naf, hari ini kamu ikut ke kantir ya," ucap Ilham saat baru saja selesai sholat subuh.
"Iyya," jawab Nafisya.
Nafisya memang belum pernah datang ke kantor suami nya bukan karena Ilham tidak mengajak nya hanya saja Nafisya memang belum mau.
Dalam artian bukan tidak mau Go-publik hanya saja Nafisya memang tidak berminat.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak.
Jangan lupa kasih krisannya.