
Jadi Ibrahim gimana kamu bisa tau alamat ini dan gimana ceritanya kamu bisa jadi di titik ini?" tanya Hilmi.
"Semalam saat lagi jaga malem di kantor pusat. Aku enggak sengaja ngeliat drap 14 tahun yang lalu ada Foto aku juga keterangannya lengkap banget,"
"Bayangan tentang masa kecil ku mulai muncul satu persatu dan kilasan Abi dan Umi mulai terlihat walau remang," imbuh Ibrahim.
Nafisya, Hilmi dan Nadia hanya diam mendengar cerita dari Ibrahim.
"Terus kenapa kamu engga nyari dari dulu?"tanya Nadia menatap kopian suaminya ini.
"Amnesia. Yang membuat aku lupa semuanya. Para warga desa yang menemukan aku di tepi sungai langsung bawa aku ke rumah sakit dan karena aku enggak inget apa-apa dan nama aku pun tidak ingat,"
"Warga desa hanya melihat nama di sapu tangan itu dan liontin itu satu-satu nya petunjuk jadi mereka menyuruh Ibra menyimpannya," Ibrahim meneguk air putih karena tenggorokkan nya terasa kering.
"Terus selama ini abang tinggal di mana?" tanya Nafisya.
"Dari abang keluar dari rumah sakit abang langsung tinggal di panti asuhan dan saat umur abang 17 tahun langsung cari kerjaan buat biaya kuliah. Saat abang umur 22 abang nikah," jawab Ibrahim.
"Lahk terus istri kamu?" tanya Nadia.
"Lagi pelatihan Mi..."balas Ibrahim.
"Istri kamu polisi?" tanya Hilmi.
"Iya... bii..."
"Widih keren tuh," celetuk Nafisya.
"Berapa lama, bang?" tanya Nafisya.
"Bulan depan juga pulang,"jawab Ibrahim.
__ADS_1
Ibrahim tak pernah membayang akan bertemu dengan keluarga nya kembali setelah sekian lama berpisah.
Simple saja, melihat mereka bahagia aku pun turut bahagia.
*****
"Widih... tumben ada kumpul enggak ngajak Haikal," celetuk Haikal yang baru saja datang bersama istrinya dan Ilham.
Melihat Ilham baru saja datang dari kanyir dengan wajah lelah Nafisya langsung berdiri menghampiri Ilham.
"Mau langsung mandi atau makan dulu?," tanya Nafisya menyalimi tangan Ilham takzim lalu mengambil jas dan tas yang sdang di tenteng di tangan kiri ilham.
"Mau ke kamar dulu aja," Nafisya hanya mengangguk lalu pergi ke arah dapur ingin membuatkan teh untuk suaminya.
"Siapa Bii... Mi..." Haikal terus memperhatikan laki-laki berseragam polisi itu duduk di dekat Umi-nya.
Wajah Laki_laki itu tak asing menurut-nya.
"Nge-kost ndas mu..." cibir Nafisya dari arah dapur.
"Apaan sih nyaut-nyaut kaya kabel aja,"balas Haikal.
"Ck! Enggak pernah berubah," decak Ibrahim. Mendengar decakan itu Haikal langsung membalikkan tubuhnya menghadap Ibrahim.
Haikal memperhatikan Ibrahim dari atas sampai bawah dan mata nya tertuju kepada nama yang terpampang jelas di dada kanan Ibrahim.
IBRAHIM
"Maksudnya..... ahk ralat jadi...." Ibrahim menganggukkan kepalanya sebelum Haikal melanjutkan ucapannya..
Haikal langsung memeluk sosok kakak yang membuat dia tak bisa melupakan hal terkecil dengan Ibrahim.
__ADS_1
Bahkan dia menyesal selama ini karena dulu tak bisa membantu Ibrahim saat penculikan itu.
"Gue Rindu lo Bang...." Bisik Haikal dalam pelukan Ibrahim tak sadar jika air mata sudah meluncur bebas.
Detik ini pun keluarga mereka berkumpul kembali tak ada air mata lagi menangis penyesalan itu.
Takdir tuhan tidak bisa kita tebak.
Terkadang yang kita tak pernah harap kan lagi karena merasa telah benar-benar kehilangan seseorang itu namun tuhan berkata lain.
Setiap ke gelapan pasti ada cahaya.
Setiap masalah pasti ada secerceh harapan.
Jangan pernah mengeluh kepada takdir tuhan karena kita belum tau tentang kedepannya.
.
.
.
.
.
.
jangan lupa tinggalkan jejak.
Jangan lupa krisannya.
__ADS_1