
Semilir angin malam menyeruk kedalam pori-pori. Malam ini cuaca sangat dingin membuat semua orang pasti nyaman didalam selimut memeluk pasangan masing-masing.
Begitupun dengan Nafisya dan Ilham mereka masih sama-sama terdiam setelah pergualatannya beberapa jam yang lalu..
"Mas," Nafisya mengeratkan selimut tebal yang sedang menutupi tubuh polosnya. Kepalanya bersandar didada bidang Ilham yang sama dengannya tanpa sehelai benang pun.
"Kenapa?" Ilham memainkan rambut panjang Nafisya yang tanpa lepek karena keringat.
"Nanti kalau Fisya sekolah Algi sama siapa? Enggak mungkin kan kita titipin ke Bunda atau Umi terus," Nafisya manautkan tangannya ketangan kekar milik suaminya.
"Sama Mas," Nafisya mendongkakkan kepalanya menatap Ilham dengan tanda tanya.
"Kan Mas kerja? Kalau pun kita sewa babysister pasti Umi ngelarang Bunda juga pasti sama ngelarang itu," Ilham mengecup singkat bibir Nafisya.
"Tenang aja, Mas Bisa jagain Algi sembari ngantor juga enggak akan ada yang marah atau marah," Ilham menarik selimut hingga menutupi tubuh polos mereka.
"Lanjut ya,"
_____________
"Loh? Algi, Ayah sama Bundamu kemana?" Haikal meraih Algi kepangkuannya.
Pria yang kini berprofesi sebagai Dokter spesialis Kanker plus seorang ustadz yang mengikuti jejak sang Abi. Haikal memang memiliki sikap yang jail dan ramah sikap itu berasal dari Arkan dan Nadia.
__ADS_1
"Ayah sama Bundanya lagi bulan madu," sahut Ibrahim.
"Biarin aja mereka juga sebentar lagi akan sibuk dengan urusan masing-masing," sahut Hilmi.
"Ayesha kemana Mi?" Haikal mengecup beberapa kali pipi gembul Algi.
"Ayesha sedang dikamar tadi katanya dia enggak enak badan," Nadia mengambil Algi yang sudah mulai mengantuk lalu membawanya ke kamar milik Algi dan Fatimah—anak Ibrahim dan Dezia.
"Gimana kerjaan kalian?" Tanya Hilmi kepada Haikal dan Ibrahim.
"Alhamdulilah baik Bi..." Haikal dan Ibrahim serempak menjawab.
"Besok Abi dan Umi mau ke rumah Opah dan Omah kalian mau ikut?"
"Boleh Bi... sekalian nengok Opah dan Omah lagian pasti disana ada Arka dan Vano juga," Haikal memang sering menjahili Arka dan Vano. Kedua sepupunya itu sangat sensitif jika menyinggung jodoh apalagi Arka sebentar lagi akan menikah dengan seorang gadis SMA.
"Eh..itu neng Nafisya udah lahiran aja,"
"Kaya baru kemaren deh dia menikah,"
"Hush enggak boleh Ghibah. Seharusnya kita contoh keluarga pak Hilmi,"
"Emang kenapa bu.."
__ADS_1
"Anak-anak pak Hilmi itu sukses semua. Den Ibrahim polisi, den Haikal dokter dan saya denger nih ya Neng Nafisya itu akan menjadi arsitek,"
"Iyh nih apalagi menantu-menantunya. Istrinya den Ibrahim itu Polisi wanita, istrinya den Haikal itu model serta aktris dan suaminya neng Nafisya itu CEO,"
"Saya juga pernah denger kalau Bu Nadia itu adalah seorang dosen lulusan Harvad serta pak Hilmi juga seorang bisnismen,"
Nadia, Nafisya dan Dezia hanya menghela nafas saat mendengar celotehan ibu-ibu yang sedang berkumpul.
Pagi ini mereka membawa Algi dan Fatimah berkeliling perumahan. Namun saat mendengar celotehan itu membuat Nadia menjadi sedikit malas.
Ya, walau para ibu-ibu tidak membicarakan yang jelek-jelek namun tetap saja Nadia tidak mau nama kelurganya jadi bahan gosip atau ghibah.
"Umi," Nadia membalikkan tubuhnya saat Nafisya memanggil dirinya.
"Yah?"
"Itu bukannya Tante Arabella ya?"Nafisya menunjuk wanita setengah paruh baya yang sedang berjalan.
"Eh iyah," Nadia menyipitkan matanya saat melihat itu.
Nadia memang sudah losscantek bersama Arabella saat dia memutuskan untuk pindah ke Amerika bersama Hilmi dan Ibrahim.
Dia tidak tau kabar Arabella, apa sudah menikah atau belum tapi yang jelas pasti sudah.
__ADS_1
✨✨✨✨✨
Bersambung....