Nikah Umur 14 (2)

Nikah Umur 14 (2)
EPISODE 6


__ADS_3

※NAFISYA POV※


Benar kata Abi pacaran setelah menikah itu lebih nikmat dari pacaran sebelum nikah.


Jika setelah menikah kita bisa melakukan apapun tanpa takut dosa tapi jika pacaran sebelum menikah kita pegangan tangan pun termasuk zinah ahh... jangankan pegangan saling terikat pacaran pun dosa.


"Lagi ngapain, hmm?" tanya kak Ilham memeluk pinggang ku Possessive.


"Lagi liatin pemandangan." jawabku lalu menatap wajah nya.


Wajah kak Ilham bukan wajah Indonesia wajah kak Ilham nih lebih menunjukkan ke wajah arab atau palestina campuran lahk aku pun belum pernah menanya kan itu apa lagi menanya hal kak Ilham sebelum menikah.


Kak Ilham juga memilki lesung pipi di kanan dan kiri dan juga gigi nya ada yant ginsul. Menambah kesan manis. hehehe...


Oh iyya bundanya kak Ilham pernah cerita kalau kak Ilham itu tipikal orang yang Possessive dan enggak bisa romantis bisa di bilang sih kaku.


Tapi kata Bunda Ainil juga kak Ilham itu punya sifat yang sekali milik nya tidak akan terbagi apalagi berbagi bukan pelit cuman ke...... apa lahk aku enggak tau lupa.


"Kenapa sih ngelamun terus,"


aku hampir tersentam saat kak Ilham mencubut hidung ku.


"Awwws... sakit," ringisku.


Aku memanyunkan bibirku walau tak akan terlihat karena di tutup niqob.


"Makanya nya jangan ngelamun," kekeh kak Ilham.


Aku baru menyadari jika kak Ilham hanya telanjang dada menampak perut Sixpac nya dan rambutnya pun masih basah seperti kak Ilham baru selesai mandi.

__ADS_1


"Kak Ilham kenapa enggak pake baju ihkk..." ucap ku lalu mendorong tubuh kak Ilham.


"Emang kenapa?"


ish... pake nanya lagi.


Jika kalian ingin tau jantung ku berdegup kencang saat kalau melihat tubuh kak Ilham tidak tertutup baju padahal aku sudah pernah ekhemmmm...... .


Tidak hanya sekali tapi jantung ini selalu berdegup kencang entah kenapa.


"Udah sana pake baju ntar masuk angin lohk," aku mendorong tubuh kak Ilham dengan sekuat tenaga menyuruhnya duduk di ranjang sedangkan aku berjalan menuju almari mengambilkan baju untuk kak Ilham.


Aku mengambi baju kaos dan celana pendek selutut lalu memberikan nya kepada kak.Ilham.


"Kak, kok walpaper hp-nya foto aku," ucap ku saat melihat layar ponsel kak Ilham.


"Emang kenapa, hmmm?" kak Ilham membungkukkan badannya menatap ku.


"Gak pa-pa sih tapi kan malu," dia hanya tersenyum menampakkan lesung nya lalu menengakkan tubuhnya.


"Ngapain malu sih, kan kamu istri aku," ujar kak Ilham mengusap puncuk kepala ku.


*******


"Dek, Abang mau keluar sebentar," pamit abang Haikal saat aku baru saja menuruni anak tangga.


Bang Haikal itu punya sifat dan watak kaya Opa Damar dingin dan irit bicara.


Kata Umi Bang Haikal berubah itu semenjak Bang Ibrahim hilang entah kemana.

__ADS_1


Aku hanya pernah melihat wajah bang Ibrahim di foto, wajahnya mirip sekali dengan Abi tak ada yang terlewatkan jiplak kan Abi bang Ibrahim tuh.


Katanya sifatnya itu tegas dan dewasa IQ nya pun tinggi sama kaya Umi dan Bang Haikal.


Aku mah IQ nya di atas rata-rata. hihihi... tak sepintar Umi dan bang Ibrahim atau Bang Haikal.


"Non Fisya di luar ada polisi nyari'in Tn. Hilmi," suara pak Kodir satpam rumah ku membuat aku langsung membalikkan tubuh melihat ke arah nya.


"Abi-nya kemana?"


" Tn. Hilmi sedang di kamar saya mah engak berani ganggu Tn. Hilmi jika sedang di kamar non," ucap Pak Kodir aku hanya mengangguk lalu menghampiri polisi itu.


.


.


.


.


.


.


.


Jangan lupa tinggalkan jejak-nya.


Jangan lupa krisannya.

__ADS_1


__ADS_2