
"Lohk Ham, enggak sama Nafisya," ucap Nadia saat melihat menantu nya datang sendiri.
"Lahk Umi Fisya udah pulang dari jam 2 siang," balas Ilham tiba-tiba hatinya gundah dan gelisah.
"Nafisya sama sekali belum pulang," keukeh Nadia.
Jantung Ilham berdegup dengan kencang nafasnya tidak teratur, apa ini yang di maksud Nafisya tadi siang? apa tadi siang sikap Nafisya manja itu karena ini?
Dengan cepat Ilham mengeluarkan ponselnya menelpon Nafisya.
"Maaf nomor yang ada tuju sedang di liar jangkauan,"
Jantung Ilham tambah berdegup kencang saat mengingat ada kecelakaan maut di jalan Tamrin(samaran) tadi siang dan korban jiwa nya adalah perempuan tewas di tempat.
"U--mi," lirih Ilham ambruk di tempat saat browsing di goggle tentang kecelakaan maut tadi siang.
Baju, bentuk tubuh, segala-segalanya sama persis dengan Nafisya bahkan nama inisialnya si korban sama dengan Nafisya.
"Ada apa Ilham jangan buat Umi takut," ucap Nadia.
"Na--fisya Mi.. Nafisya salah satu korban kecelakaan di jalan Tamrin," lirih Ilham air matanya sudah meluncur bebas karena melihat foto-foto si korban.
Nadia yang mendengar itu langsung menundukkan dirinya lalu mengeleng dengan pelan berpikir ini hanya mimpi.
Tadi siang putrinya masih sehat dan seperti biasa tidak ada tanda-tanda yang aneh dalam diri Nafisya saat itu.
__ADS_1
"ENGGAK-ENGGAK MUNGKIN!!!! ENGGAK MUNGKIN ITU NAFISYA." Histeris Nadia menekan dengan keras kepala meras tak becus menjadi seorang ibu. Cukup sekali dia kehilangan mertuanya karena kecelakaan tapi kenapa ini harus putri satu-satu nya.
Hilmi dan yang lain langsung berlari menghampiri Ilham dan Nadia karena mendengar teriakkan Nadia.
"Umi, ada apa?"Hilmi segera memeluk tubuh istrinya yang gemetar.
Damar dan Risma yang melihat Putrinya dan cucu menantunya menangis merasa heran begitupun dengan Haikal dan Ayesha. Istrinya.
"Dengan langkah pelan Damar menghampiri cucu menantunya yang sedang terduduk sembari merunduk.
"Hiks.... Hiks... Hiks..... Fisya..." isak Ilham.
Risma mengambil ponsel cucu menantunya yang tergeletak dekat kakinya.
PLUK.
Risma menjatuhkan ponsel milik Ilham ke lantai saat meliahat tanda penggenal milik Nafisya.
"Hiks...Hiks... Fisya... Fisya... kecelakaan," isak Nadia.
"Enggak lucu mi... jangan bercanda," bantah Hilmi mengelengkan kepalanya.
"Umi enggak bercanda... Abi.." balad Nadia.
Damar yang mendengar itu langsung tertegun beberapa saat. Cucu perempuan satu-satunya pergi ah... bukan pergi untuk kembali tapi pergi untuk selamanya.
__ADS_1
Haikal memundurkan langkahnya dada nya sesak. Baru saja kemarin malam dia mengata kan unek-uneknya tapi kenapa malah ucapanya nya menjadi nyata. Bukan ini yang dia inginkan..
Ilham mendongkak menatap Haikal dengan tajam. Sebenarnya dia mendengar semuanya semalam. Semua unek-unek Haikal kepada Nafisya hanya saja dia lebih memilih diam karena dia tidak ingin membuat lembaran masa lalu.
Dengan kilat Ilham berdiri menghampiri Haikal lalu menarik kerah baju Haikal tak peduli jika Haikal adalah kakak iparnya..
"Kamu puas sekarang, Hah?!," sarkas Ilham menarik kerah baju Ilham.
Haikal yang tadi nua takut dengan tatapan Ilham menormalkan kembali ketakutannya itu.
"Gimana rasanya orang yang lo sayang Mati?' balas Haikal membuat semua orang tertegun dan menatap dia dengan kecewa bisa-bisanya Haikal mengatakan itu dalam situasi seperti ini.
" Silvi meninggal itu karena liat kamu sama Viola dia ngira kalian selingkuh lalu menabrakkan diri di rel kerata api bertepat itu aku datang bukan aku yang dorong Silvi,"
.
.
.
.
.
jangan lupa tinggalkan jejak.
__ADS_1