
"Abi saya sedang di kamar, memang nya ada apa?" tanya Nafisya melihat wajah polisi yang duduk di hadapannya.
"Saya hanya ingin membicarakan prihal penculikkan 14 tahun lalu," jawabnya.
"Tapi Abi sama Umi udah nutup kasus itu,"
"Emmm... saya hanya menanya sesuatu dan apa boleh melihat-lihat album foto lama Saudara Ibrahim," pinta polisi tersebut.
"Boleh, sebentar," balas Nafisya langsung beranjak mengambil sesuatu du laci meja dekat tempat duduk nya sekarang.
"Ini album dari bayi sampai sebulan sebelum menculikan," ucap Nadia.
Polisi entah siapa namanya itu membuka satu persatu sesaat polisi itu memejamkan matanya entah kenapa.
Nafisya terus memperhatikan gerak gerik polisi yang nama nya belum ia ketahui.
Perawakaan nya tampan, tegas, tinggi, besar pas lahk untuk ukuran polisi. pikir Nafisya.
" Kamu siapanya Bapak Hilmi," ucapnya.
"Ah... saya putri terahkir Abi Hilmi," balas Nafisya.
"Emmm... apa kamu mengenal sapu tangan dan kalung liontin ini?" tanyanya menyondorkan sebuah sapu tangan berwarna biru muda bertulisan IBRAHIM dan kalung liotin berbentuk setengah Hati.
Nafisya mengambil lalu melihat dengan seksama.
__ADS_1
Kalung liotin itu sama persis dengan yang di pakai nya saat ini, pemberian opa Damar saat ulang tahun ke 10 tahun dan opa Damar bilang hanya dia dan Ibrahim yang memilki itu sedangkan Haikal diberi sebuah gelang.
Dan sapu tangan ini adalah hasil jahitan oma Sarah dia dan Haikal pun punya sapu tangan seperti hanya saja berbeda warna dan ada namanya pula.
Dengan pelan Nafisya mendongkok lalu memperhati kan wajah polisi itu.
Beberapa detik kemudian Nafista tertegun karena wajah polisi itu sangat mirip ahk... bukan-bukan bahkan hampir sama tidak ada yang berbeda.
"Jadi...."
"Lohk Sya... ada tamu kok enggak di kasih minum," ucap Nadia seraya berjalan menuruni anak tangga.
"Nafisya segera membenarkan duduk nya begitu pun dengan polisi muda itu.
"Emm... anu Mi... pak polisinya nyari Abi atau Umi katanya," ujar Nafisya saat Nadia sudah duduk di sisinya.
"Oh, memang nya ada apa pak......"
"Ibrahim," potongnya membuat Nadia tersenyum di balik cadarnya.
"Namanya bagus," balas Nadia.
Dengan pelan polisi bernama Ibrahim itu mendekat ke arah Nadia.
Nafisya yang mengerti hal itu langsung memundurkan diri, dia tahu jika ini adalah moment untuk Nadia dan Ibrahim saja.
__ADS_1
"Umi, Ibra Rindu..." ucap nya memeluk tubuh Nafisya.
Nadia langsung mematung namun detik kemudian air mata nya meluncur begitu saja. Ini suara yang ia rindu kan selama 14 tahun ini.
Nadia segera melepaskan pelukan itu lalu mencangkupkan wajah Ibrahim.
"Kamu beneran Ibrahim,kan?" ucap Nadia dan di balas anggukkan kecil dari Ibrahim.
Nadia langsung memeluk kembali tubuh kekar itu.
Tak menyangka jika perpisahaan 14 tahun yang lalu dan tak membayangkan untuk dipertemukan kembali dengan putra pertama nya yang dj culik oleh pamannya dan di buang begitu saja di sebuah sungai membuat Nadia dan Hilmi menutup kasus itu.
"Fisya ikutan..." rengek Nafisya karena sadari tadi dia hanya diam mematung saja.
"Sini sayang," Nadia merentangkan tangan kanannya menyuruh Nafisya agar mendekat.
"Nafisya sayang Umi," bisik Nafisya memelul tubub wanita yang sudah melahirkan nya dan membesarkan nya penuh cinta.
Mungkin Ibrahim tidak akan mengenal Nafisya siapa karena saat diribya di culik Nafisya masih dalam kandungan Nadia.
********
Jangan lupa tinggalkan jejak.
Jangan lupa krisannya.
__ADS_1