
Seperti roda yang bergerak lambat namun terasa begitu cepat. Roda itu terus berputar hingga tanpa sadar jika sebentar lagi Nafisya akan memasuki lingkungan sekolah.
Putra pertama mereka yang diberi nama Algifary Prawira Putra Gutama. Bayi berusia 6 bulan itu sangat aktif wajah bocah yang biasa disapa Al atau Algi itu sangat tampan menuruni gen Ayah nya.
Ilham hampir kehilangan Nafisya saat dokter mengatakan bahwa istrinya pendarahan serta harus dicaesar. Nafisya juga koma selama beberapa hari karena pendarahan itu.
Allah itu maha adil. Ilham sangat bersyukur saat Nafisya dinyatakan pulih.
Ketika rasa cinta sangat menguatkan satu sama lain. Ikatan cinta begitu kuat hingga membuat mereka tidak akan goyah dalam keadaan apapun.
Rasa cinta Ilham semakin kuat saat dia melihat dengan mata dan kepalanya sendiri bahwa Nafisya lebih mementingkan anak mereka ketimbang nyawanya. Menjadi seorang wanita itu tidak mudah apalagi saat harus melahirkan dan mempertaruhkan nyawanya sendiri demi keselamatan seorang anak.
Ilham mengerti mengapa Bundanya sangat melarang dia untuk berpacaran hingga pada ahkirnya Itu semua membuat wanita yang diputuskannya menangis dan galau. Satu tetes air mata wanita beribu dosa pagi pria.
Namun ketika seorang pria mengeluarkan air matanya karena seorang wanita selain ibunya Maka percayalah pria itu benar-benar tulus dan sangat mencintaimu.
__ADS_1
"Mas," Nafisya mengusap bahu kokoh dan tegap Ilham. Wanita yang sedang mengendong putra kesayangannya itu sudah tidak memanggil suaminya dengan embel-embel 'kak' namun sekarang sudah berganti dengan 'Mas' itu pun karena usul dari Umi dan Bunda mertuanya.
Ilham membalikkan tubuhnya lalu meraih Algi ke pangkuannya. "Ada apa, hmm?" Ilham mengusap puncuk kepala Nafisya yang terhalang jilbab.
"Mas ngelamun?" Nafisya mendudukkan dirinya disisi Ilham..
"Mas lagi mikirin soal Umi ngelarang kamu untuk program KB atau meminum pil KB tapi Umi juga takut jika kamu hamil lagi dan kejadian yanh sama saat melahirkan Algi." Ilham tau betul jika semua keluarga Nafisya sangat takut kehilangan Nafisya apalagi istrinya ini adalah wanita satu-satunya dikeluarga Prawira maupun dikeluarga Hilmi.
Kekhawatir semua orang membuat Ilham ikit khawatir apalagi saat Umi melarang mereka mengikuti program KB atau meminum Pil KB.
"Umi melarang kita mengikuti program KB atau meminum Pil KB karena takut jika saat kita ingin memiliki anak lagi akan sulit sama seperti kak Ayesha," Nafisya memelankan suara saat menyebut nama kakak iparnya itu.
"Kak Dezia juga enggak kok Mas, Umi melarang melakukan program itu," imbuh Nafisya lagi. Usia putranya dengan putri Dezia berbeda 3 bulan.
Nafisya masih ingat saat Ibrahim hampir pingsan saat menemani Dezia melahirkan. Ibrahim phobia darah sama seperti Abinya dan Haikal. Ketiga laki-laki itu sangat takut darah entah mengapa namun Umi pernah bilang jika Haikal dan Ibrahim phobia Darah karena turunan Abinya.
__ADS_1
Ibrahim memang tidaj pingsan saat Dezia melahirkan namun saat keluar ruangan persalinan pria berseragam polisi itu langsung pingsan.
Cup...
Nafisya tersentak saat Ilham berhasil mencuri kecupan dibibirnya.
"Kangen,"bisik Ilham dengan berat nan serak.
"Algi titipin dulu ya sama Bunda?"
Nafisya hanya tersenyum lalu mengangguk menyetujui suaminya.
✨✨✨✨✨
bersambung.....
__ADS_1