Nikah Umur 14 (2)

Nikah Umur 14 (2)
EPISODE 10


__ADS_3

※NAFISYA POV※


"HAIKAL!!! KEMBALIIN!!!," teriak Bang Ibrahim dari lantai atas membuat aku dan yang lain langsung menoleh.


Rutinitas keluarga ku adalah berkumpul sebelum tidur entah itu membahas pekerjaan atau aktivitas di hari ini.


Bang Haikal berlari menuruni anak tangga di belakang nya Bang Ibrahim berlari juga mengejar Bang Haikal.


Baru kali ini aku melihat tawa bahagia bang Haikal selama 14 tahun ini aku tidak pernah lagi melihat tawa bahagia seperti jangankan tawa senyum saja Bang Haikal tidak pernah menunjukkan kepadaku.


Iri? Tentu saja. Dulu saat aku berusia 7 tahun mengajak Bang Haikal bermain tapi selalu tak pernah di tanggapi oleh Bang Haikal.


Ngobrol saja aku tidak pernah sekalinya bicara saling cibir tapi seperti itu saja membuat aku bahagia karena usaha ku mencoba mengajak ngobrol bang Haikal bisa.


Dari dulu hingga sekarang aku selalu berpikir kenapa Bang Haikal selalu bersikap seperti itu kepada ku apakah dia membenciku? apa dia tidak ingin aku hadir di keluarga ini.


Astagfirulloh apaan sih pikiran aku ini ngawur banget enggak mungkin bang Haikal kaya gitu.


"Haikal, Ibrahim kenapa sih malem gini lari-lari kaya gitu," tegur Umi saat kedua abang ku sudah bergabung dengan kami.


"Ini lo Mi... Haikal main nyabet hp Ibra aja," Adu Bang Ibra kepada Umi.


"Haikal, kamu ini enggak pernah berubah suka gangguin sodara terus," tegur Umi.

__ADS_1


*******


"Bang Haikal Fisya mau ngomong," ucapku saat duduk di sisi Bang Haikal. Kini kami sedang berada di taman belakang aku ingin menanya yang selama ini menganjal pikiran dan hati ku.


"Apa?!" Ketus bang Haikal.


"Bang Haikal kenapa sih dari dulu hingga sekarang enggak pernah berubah sama Fisya," sahutku merunduk memainkan ujung kuku ku.


"Mau tau?" aku mengangguk kecil sebagai jawaban.


"Karena lo bang Ibra jadi celaka. Kalau aja dulu Abi lebih milih selamatin bang Ibra dari pada lo yang mau di buang ke sungai mungkin selama ini bang Ibra enggak kepisah sama gue."


"Gue itu enggak pernah menginginkan lo ada di hidup gue itu benci karena lo semua perhatian keluarga besar termasuk oma Risma dan Opa Damar slalu mentingin lo. Semua gender keluar besar opa Damar dan kakek Hilman itu Laki-laki dan lo lahir sebagai perempuan ngebuat gue muak," imbuh Bang Haikal dengan gamblang membuat aku semakin merunduk dan menetes kan air mata tanpa sadar.


" Kenapa enggak lo aja yang mati dulu bukan bang Ibra yang menderita selama 14 tahun ini,"


Seperti ada bongkahan batu yang menancap halus di hatiku. Kata-kata Bang Haikal seperti mengisyarat kan jika dia benar-benar membenci dan tidam mengiginkan kehadiranku.


"Ma--af ka--lau keha--diran Fisya selama ini ngebuat abang enggak nyaman," ucapku terbata.


"Itu lo sadar. Sebenarnya gue enggak setuju kalo nikah sama Ilham karena sebenarnya Ilham itu adalah musuh gue pas di kampus,"


"Gara-gara Ilham orang yang gue sayang MATI," sarkas bang Haikal menekan kata Mati.

__ADS_1


Setelah mengatakan itu bang Haikal langsung beranjak pergi.


Aku hanya tertegun memandang dia. Abang yang selama ini selalu ku bangga kan kepada teman-teman sekolah ku ternyata sangat membenciku.


"Naf, kok disini?" suara Kak Ilham membuatku langsung dengan menghapus air mata ku.


"Ehh... kak, ini lagi bosen aja di kamar," balasku kak Ilham hanya tersenyum hangat.


"Yaudah yuk masuk entar sakit,"


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak.


Jangan lupa Krisannya.


__ADS_2