
Senja sudah nampak. Sore akan berganti malam, namun sepasang anak Adam dan Hawa itu masih menatap hamparan ombak laut.
Suara gemuruh ombak serata suara musik romantis yang sedang mereka dengarkan lewat earphond
"Senjanya indah kak," ucap Nafisya kepada Ilham yang sedang rebahan diatad tikar dengan paha Nafisya menjadi bantalannya.
Siang tadi Ilham mengajak Nafisya untuk ke pantai melepaskan penat karena beberapa bulan belakangan ini merasa karena kehilangan Nafisya.
Ilham mengubah posisinya menjadi menghadap kearah perut Nafisya yang sedikit membuncit.
"Iya indah, tapi lebih indah kamu," Ilham melingkarkan tanganya dipinggang ramping Nafisya.
"Gombal,"Nafisya meremas pelan rambut Ilham yang sedikit gondrong.
"Enggak Gombal sayang cuman fakta doang," ucap Ilham.
"Kak, nanti kalau baby nya lahir terus kakak kan kerja dan aku sekolah. Kita jagainnya giliran ya" Nafisya menatap Senja yang mulai tenggelam.
"Iyh sayang. Pasti pas kamu sekolah baby udah umur 7 bulan jadi Aku bisa bawa dia ke kantor kamu pokus sekolah aja,"
__ADS_1
"Emang enggak repot?"
"Enggak lahk sayang, kalau kerjaan aku numpuk paling serahin ke sekertaris. Kerjaan aku cuman mimpin mieting dan menanda tanginin berkas."
"Kenapa bisa gituh?"
"Sekertaris ku ada dua dan kalau pun aku ada kerjaan numpuk aku masih bisa handle keduanya,"
Ilham bangun dari rebahaannya lalu menarik Nafisya kepelukannya.
"Naf,"
"Hmm,"
Nafisya memedamkan wajahnya didada bidang Ilham lalu mengeser duduknya hingga dia terduduk dipangkuan Ilham.
"Ali itu ngeselin, nyebelin, pecicilan, konyol, ngelantur, suka nyeleneh dan kalau Ilham itu lebih ke dewasa dan tegas aja sih hehehe:v" Tangan Nafisya menelengsup kedalam kaos milik suaminya mencari kehangatan.
Mereka berdua seperti tidak peduli dengan tatapan orang-orang yang menatapnya seperti iri, kagum, dan memuji keromantisan Ilham dan Nafisya.
__ADS_1
"Tau enggak, dulu kakak itu jauh beda sama yang sekarang," Ilham menikmati sentuhan tangan mungil Nafisya yang mengusap pinggangnya. "Dulu kakak itu sering bentak Bunda, ngelawan Ayah, ngerokok, mabuk-mabukkan, pulang pagi pergi malem, pergi ke club dan satu lagi banyak pacarnya,"
"Playboy dong," kekeh Nafisya dalam pelukan Ilham.
"Hehehe dikit. Entah karena apa 7 tahun yang lalu lebih tepatnya saat baru saja lulus SMA. Ayah sakit keras dan butuh biaya besar hingga harus keluar negri saat itu perusahaan masih dibawah rata-rata, pemasukan tidak ada, Ayah yang baru saja pensiun menjadi penulis, Bunda yang hampir nyerah karena penyakit Ayah dan memikirkan biaya kuliahku. Melihat itu semua membuat aku langsung terdorong membesarkan perusahaan dengan IQ yang ku punya dan mengandalkan kepintaran ku hingga ahkirnya aku ada diposisi ini menikah denganmu.." Nafisya melepaskan lingkaran dipingang Ilham lalu tangan mungilnya beralih mengusap rahang tegas Ilham.
"Bunga itu butuh waktu untuk mekar dan sama halnya dengan manusia butuh waktu memperbaiki diri serta lebih mendekatkan diri kepada Allah.
Fisya enggak pernah lo kak bermimpi, berpikir atau menghayal menikah diusia Fisya yang baru saja 14 tahun tapi Fisya selalu inget kata Umi bahwa jodoh itu enggak datang dua kali belum tentu saat kita menolak dan dimasa depan kita akan mendapatkan jodoh yang sama seperti sebelumnya kecuali orang itu mampu menunggu hingga kita siap untuk menikah.
Pacaran? satu kata dengan berjuta dosa. Saat SMP banyak yang mengajak Fisya untuk berpacaran namun Fisya ingin mengikuti jejak Abi dan Umi yang 'Pacaran after merried atau lebih tepatnya pacaran setelah menikah yang katanya lebih nikmat dan pahala," Ilham tersenyum mendengar itu anak perempuan yang kerap ia panggil Mocil ini sudah dewasa apalagi sekarang sedang mengandung putranya.
"Jangan cintai aku karena fisik atau kecantikan tapi cintai aku karena akhlak, hati dan Allah tapi jangan cintai aku melebih Tuhanmu serta Nabimu," ujar Nafisya mengulang kata-kata Nafia kepada Hilmi.
"Jadikan aku tulang rusukmu dan jadilah tulang punggungku. Pernikahaan itu tidak mudah dan takdir itu tidak akan ada yang tau. Aku takut jika suatu saat ada sesuatu yang membuatmu marah tolong tegur aku dan bimbong aku, terbukalah kepadaku agar aku bisa mengertikan kamu, Hubby," Nafisya mencium kedua rahang Ilham secara bergantian lu turun ke bibir Ilham.
Perempuan memakai tunik hitam dengan kerudung panjang dan lebar berwarna hitam serta tak lupa kain tipis menutupi sebagian wajahnya dan hanya mata saja yang terlihat itu menatap kagum kepada suaminya.
"Dan nasehati aku jika aku salah jangan pernah menaruh curiga kepada ku jika aku dekat dengan wanita lain selain kamu karena sesungguhnya kamu lahk wanita hebatku, Hummy,"
__ADS_1
✨✨✨✨✨
Bersambung....