
"Fis--ya"
Aku dapat melihat keterkejutan di wajah pucat kak Ilham.
Kak Ilham langsung memelukku dengan erat memendamkan wajahnya di jilbabku menumpahkan semuanya.
Aku masih tak menyangka jika kak Ilham bisa seperti padahal aku mengira jika kak Ilham bisa seperti biasa tapi sekarang?
Kak Ilham jauh dari kata biasa bahkan dari jauh kata baik-baik saja.
"Kak, Fisya baik-baik aja jangan kaya gini,"
"Ini beneran kamu kan? kakak enggak halusinasi kan?"
Aku hanya menggeleng lalu melepaskan pelukan erat itu menghapus air mata kak Ilham.
"Tap--"
"Sekarang kakak makan ya biar cepet sembuh," potongku mengambil mangkuk bubur lalu menyuapkan ke arah kak Ilham.
'*Ilham berubah banget tau dia itu kaya dulu.
Dia lebih sering ngunci diri enggak pernah keluar kamar. Makannya pun hanya hitungan jari dalam seminggu,'
'Pernah nih kakak mau ke dapur terus enggak sengaja lewat kamar kalian. Kakak denger Ilham lagi nangis nyebut nama kamu,'
'Ahkir-ahkir ini Ilham sering sakit enggak Fiet kaya dulu pas ada kamu*.'
Kata-kata kak Ayesha terus tergiang di kepala ku. Dengan pelan aku menatap wajah kak Ilham, kantung matanya yang menghitam, bibir pucat, rambut nya tak terurus.
Tatapannya pun kosong lurus ke depan, apa kak Ilham masih mengira jika ini hanya mimpi atau halusinasi?
"Kak," Aku mengusap lembut pipi kak Ilham membuat dia langsung menoleh namun tatapan kak Ilham masih kosong dan tak bernyawa.
__ADS_1
Aku menaruh mangkuk bubur itu lalu tubuh kak Ilham memedamkan wajahku di dada bidang nya kini giliranku yang menangis menumpah semuanya.
"Hiks... jangan kaya gini hiks.... Hiks... aku enggak mau kakak kaya gini." isakku.
Karena hormon kehamilan juga membuat mood ku gampang berubah.
"Maaf, maaf kakak enggak bermaksud buat kamu sedih, sayang," ucap kak Ilham membalas pelukkan ku.
"Aku cuman takut ini cuman mimpi, aku enggak sanggup lagi," imbuhnya lagi.
"Ini bukan mimpi kak ini nyata, Fisya janji enggak akan ninggalin kakak lagi," balasku dengan masih sesegukkan.
"Maaf," bisik kak Ilham.
Aku melepaskan pelukan itu lalu menghapus air mata kak Ilham.
"Jangan nangis lagi kak," ucapku seraya tersenyum.
"Kamu hutang penjelasan ke kakak," aku hanya tersenyum menanggapi ucapan kak Ilham tatapan nya kian melembut seperti dulu.
*******
Bintang kerlap-kelip di atas langit, bulan terang menderang angin malam meneluksuk kedalam kulit ku.
Malam ini aku tidak melakukan apa-apa setelah tangis-tangisan bersama kak Ilham. Hehehe...
Mungkin karena sedang hamil aku gampang letih dan lelah mood aku pun gampang berubah.
Seblak.
Entah kenapa pikiran ku tiba-tiba ke bayang makanan khas bandung itu.
"kayanya enak tuh," gumamku mengusap perut yang sedikit membuncit.
__ADS_1
Ah iya aku belum memberitahu prihal kehamilanku.
"apa yang enak,hmm?" tanya kak Ilham tiba-tiba memelukku dari belakang.
"Pengen seblak..." rengekku menyandarkan kepalaku di bahu kak Ilham.
"Udah malem, sayang," sahut kak Ilham.
"Tapi pengen benget...."
"In---"
"Nanti baby-nya ileran tau nggak," potongku membuat kak Ilham membalikkan tubuhku.
"Apa?! jadi--"
"Iyya kak," kak Ilham langsung memeluk dengan erat.
Mungkin ini adalah malam terbahagia bagi rumah tangga ku ya walau satu setengah tahun lagi aku mulai memasuki sekolah tapi aku akan tetap jadi istri plus ibu yang selalu ada bagi kak Ilham dan anak ku nanti.
.
.
.
.
.
.
Jangan lupa tinggalkan jejak.
__ADS_1