
"Dek," Aku membalik kan tubuh ku 180°
"Ehh bang ada apa?" tanya ku kepada bang Haikal yang berdiri kaku di dekat pintu kamarnya.
"Maaf," ucap Bang Haikal pelan malah hampir tidak terdengar.
Aku hanya tersenyum lalu melangkah ke arah bang Haikal.
"Bang, Itu cuman masa lalu yang biarin berlalu mending kita liat masa depan aja yang udah nunggu kita." ujar ku.
Detik kemudian Bang Haikal memelukku erat aku pun menbalasnya.
"Maafin abang dek, abang enggak pernah mikirin perasaan kamu. Abang malah mentingin perasaan abang," bisik bang Haikal.
"Bang, udah jangan bahas lagi," balasku melepaskan pelukan itu.
"Tap--"
"Kalau abang bahas itu lagi Fisya enggak akan maafin abang sampai kapanpun," ancamku sebenarnya hanya bercanda.
"Loh jangan dong," bantah bang Haikal.
Yu udah kalau gitu Fisya duluan ya," pamitku lalu masuk ke kamar meninggalkan bang Haikal.
Bukan nya aku tidak mau berlama-lama hanya saja ada rasa canggung jika aku sedekat ini dengan Banh Haikal padahal ini moment yang ku tunggu sejak kecil emmm.... mungkin karena kata-kata bang Haikal waktu itu.
*******
" Abi senang kamu bisa kaya seperti dulu," ujar Abi kepada kak Ilham.
__ADS_1
"Iyya, Bi." sahut kak Ilham tersenyum manis hingga gigi ginsul dan ke dua lesung pipi nya terlihat ahk makin cinta deh..
"Ah.... Iyya Dezia untuk sementara waktu menunggu suami kamu, kamu tinggal saja di sini," ucap Umi dan di angguki oleh Abi.
"Maaf tante. Saya tidak bisa, saya juga sudah mau bercerai dengan suami saya dan akan memulai hidup baru," tolak kak Dezia halus.
'Uhuk.. uhuk..'
Bang Ibra tersedak saat mendengar itu jangan di tanya mengapa pasti kalian sudah tahu.
"Nah gitu dong. Walau kamu sudah bercerai harus tetap menjalani hidup tanpa seseorang. Siapa tau nanti pas udah bercerai kamu mendapatkan jodoh yang lebih sempurna,"
'Uhuk... uhuk...'
Untuk yang ke dua kali nya bang Ibra tersedak cemilan yang sedang ia makan karena ucapan umi atau kak Dezia.
"Kenapa sih Bra, kalau makan itu yang bener," tegur Umi.
"Apaan sih Kal," gerutu bang Ibra.
"Enggak bang enggak. Dezia umurnya berapa?" tanya bang Haikal kepada kak Dezia.
"23 tahun," jawab kak Dezia.
"Seumur istri ku berarti ya. Kalau gitu mau enggak jadi model di Amerika sama istriku juga," tawar bang Haikal.
"Iyya yuk mumpung masih muda dan usia kandungannya juga belum besar." timpal kak Ayesha.
"Kalian lanjut ngobrol aja umi sama Abi mau ke kamar" ucap Umi.
__ADS_1
"Berapa lama? soalnya beberapa bulan setelah melahirkan aku udah langsung jalanin tugas ku,," ucap kak Dezia setelah umi dan abi masuk kamar.
" Cuman 7 bulan aja tapi harus stay disana sampe 7 bulan itu. Mas Haikal juga ikut temenin jadi enggak takut," balas kak Ayesha.
"Ikut aja kak, lumayan bisa cari penganti yang lebih dari suami kakak," timpal ku.
"Iyya tuh mending ikut aja lumayan siapa tau ada bule nyangkut,"imbuhku kagi.
"Sya," tegur kak Ilham karena ucapan ku tadi.
"Hehehe :v" aku langsung memedamkan wajahku di dada bidangnya karena ya gitulah, malu sendiri aku tuh kalau kak Ilham udah tegur karena ucapan.
"Bo--"
"enggak" potong Bang Ibra.
"Loh kenapa? kasiang juga Dezia kalau terus ngarepin suami yang enggak tau jawab dan enggk peduliin dia sama jabang bayi nya. "ucap kak Ilham
" pokoknya enggak boleh," cetus bang Ibra lalu menarik tangan kak Dezia kencang. Mungkin.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Jangan lupa tingalkan jejak