Nikah Umur 14 (2)

Nikah Umur 14 (2)
EPISODE 17


__ADS_3

"Oh iyya Dezia, apa kamu sudah menjelaskan kepada suami kamu agar suami kamu tidak salah faham lagi jika kamu belum bertemu biar kami yang menjalas kan meminta maaf," ujar Abi, aku melirik kak Dezia lalu melirik bang Ibrahim.


"Emmm... tidak usah om, saya juga mau pulang," sahut kak Dezia akan beranjak pergi namun aku segera menahan tanganya menkode dia agar tidak pergi.


Aku tau kak Dezia dilema antara menjawab pertanyaan abi atau tidak karena bang Ibra terus menatap kami dengan lamat.


Aku melepaskan dekapan Umi ingin mengatakan jika Kak Dezia adalah istri bang Ibra tapi tubuh ku tidak bisa di ajak kompromi..


'Hueekkkk.... Huekkk..'


Dengan cepat aku menutup mulut ku saat mual mulai menjalar di rongga ku.


"Fisya kenapa nak?" tanya Bunda Ainil menatap ku khawatir begitu pun dengan yang lain.


Aku menyentuh perut ku yang sedikit membuncit tak terlihat karena bajuku yang dan jilbab yang besar membuat tidak terlihat.


"Enggak papa, Fisya cuman pusing biasa," dusta ku karena ingin kak Ilham yang mengetahui terlebih dahulu sebelum anggota keluarga ku.


"Nancy udah pulang Sya, Kita ke dokter yuk," ajak kak Dezia namun pandangannya tetap menunduk.


"Aku enggak papa kak," balas ku mengenggam tangan kak Dezia.


"Sha, anter Dezia ke kamar tamu biar istrihat dulu," Titah Abi kepada kak Ayesha. Istri bang Haikal.


"Aku ikut," sahutku.

__ADS_1


Entah kenapa anggota keluarga malah terkekeh.


*******


"Ohh... jadi Dezia ini calon polwan tapi karena lagi hamil dipulangin," ucap kak Ayesha.


Kami bertiga banyak cerita tentang lima bulan terahkir ini. Sebenarnya hanya kak Ayesha yang bercerita aku dan Kak Dezia hanya menjadi pendengar.


"Tadi kan Fisya udah ngomong kalo kak Dezia itu di pulangin karena lagi hamil," balas ku hanya di balas kekehan oleh kak Ayesha.


"Sha, tadi obat buat Ilham mana?" tanya Umi tiba-tiba datang membawa mampan.


Ehh... tadi apa kata umi? obat?


Astagfirullah, Aku lupa kalau kak Ilham itu lagi sakit tadi aku tinggalin dia karena tidur.


"Obat-nya ada di kamar Fisya mi..." sahut kak Ayesha.


"Ya udah Fisya ke kamar dulu," pamitku.


Duh! dosa banget aku lupain suami sendiri yang lagi sakit. Ini pasti gara-gara ke asyikan ngobrol sama kak Dezia dan Kak Ayesha.


******


Hatiku sesak saat melihat kak Ilham yang sedang duduk bersandar di ranjang, matanya terpejam tapi air matanya terus meluncur entah kenapa.

__ADS_1


Apa ini yang di maksud kak Yesha kalau kak Ilham itu enggak pernah mau keluar kamar? apa ini rutinitas dia selama beberapa bulan terahkir ini?


Tampak nya kak Ilham enggak menyadari kalau aku masuk kamar ini buktinya dia sama sekali tidak terusik dengan suara langkah kaki ku.


Dengan pelan aku menyimpan mampan itu lalu menaiki ranjang duduk di sebelah kak Ilham.


"Bun, Ilham lagi pengen sendiri," lirih kak Ilham tampa membuka matanya.


Tangan ku bergerak menghapus air mata kak Ilham yang terus meluncur dengan bebas.


"Kak, jangan buat Fisya takut," ucap ku membuat kak Ilham langsung membuka matanya dan menoleh ke arah ku.


"Fis--ya,"


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Jangan lupa tinggalkan jejak.


__ADS_2