Nikah Umur 14 (2)

Nikah Umur 14 (2)
SELESAI


__ADS_3

Nafisya tersenyum saat melihat Ilham dan Algi sedang tertawa cekikikan.


Suaminya itu selalu bisa membuat Algi tertawa entah segi apa itu namun jika Algi bersamanya bocah itu selalu diam.


"Hay..." Nafisya langsung loncat bergabung diantara Ayah dan anak itu.


"Bun... bun.." celoteh Algi merentangkan tangan saat melihat Nafisya ada didekatnya.


"Masyaallah, anak Bunda udah bisa panggil bundanya ya..." Nafisya mengangkat Algi kepangkuannya lalu menghujami dengan ciuman gemas.


"Bun... bun... bun.." Algi masih menceloteh lalu mendusel didada Nafisya. Bocah itu sepertinya mengantuk namun masih inginw bermain.


Ilham meraih gitar yang ada didekat ranjang.


"Mau ngapain Mas..." Nafisya menepuk-nepuk pantat Algi dengan pelan. bocah itu sedang menyusu.


"Nyanyi,"


"Emang bisa?" Ilham langsung mencubit gemas hidung Nafisya. Rupa-rupanya istrinya ini meragukan kemampuannya.


"Bisa lahk yank... Gini-gini aku pas SMA suka manggung bareng Haikal dan temen-temen,"


"Iyah-iyah." kekeh Nafisya.


๐ŸŽผ๐ŸŽผ๐ŸŽผ๐ŸŽผ


Kan ku abaikan


Sgala hasratku


Agar kamu tenang dengan nya


Ku pertaruhkan


๐ŸŽผ๐ŸŽผ๐ŸŽผ๐ŸŽผ


Algi langsung membuka matanya saat mendengar suara gitar dan Ilham nyanyi sedangkan Nafisya langsung membenahi letak bajunya kembali.


๐ŸŽผ๐ŸŽผ๐ŸŽผ๐ŸŽผ


Semua ragaku


Demi dirimu bintang


biarkan ku menggapaimu


Memelukmu


Memanjakanmu


๐ŸŽผ๐ŸŽผ๐ŸŽผ๐ŸŽผ


Algi bersorak senang. Anak itu seolah mengerti dengan apa yang dinyanyikan oleh Ayahnya.


๐ŸŽผ๐ŸŽผ๐ŸŽผ๐ŸŽผ

__ADS_1


Tidurlah kau di pelukku


biar ku tunda


Segala hasratku


Tuk miliki dirimu


Karna semua


Tlah tersiratkan


Dirimu kan milikku


biarkan ku menggapaimu


Memelukmu


Memanjakanmu


Tidurlah kau di pelukku


biarkan ku menggapaimu


Memelukmu


Memanjakanmu


Tidurlah kau di pelukku


Hingga kau mimpikan aku,


Mimpikan kita,


Mimpikan kita


Jangan pernah kau terjaga,


Dari tidurmu,


Di pelukanku.


๐ŸŽผ๐ŸŽผ๐ŸŽผ๐ŸŽผ


"Yey...." Nafisya dan Algi kompak bertepuk tangan. Algi langsung merentangkan tangan minta dipangku oleh Ilham.


"Masih mau meragukan?" Ilham menaik turunkan alisnya membuat Nafisya langsung tertawa.


"Iyah deh suamiku ini jago nyanyi," Nafisya mengecup singkat bibir Ilham.


"Kata Umi kamu juga bisa nyanyi?" Ilham menberikan gitar itu kepada Nafisya lalu dia langsung memangku Algi.


"Enggak, Umi hoax tuh..." Pipi Nafisya tiba-tiba bersemu. Dimalu jika disuruh nyanyi apalagi ini dihadapan Ilham, suaranya pun enggak bagus tapi bukam fals.


"Ayolah, Algi juga mau dengerkan?" Algi mengangguk seolah mengerti kata Ayahnya.

__ADS_1


"Mas tanya Algi pasti dia ngangguk terus," Nafisya mencibik Ilham.


"Satu lagu nanti aku kasih apapun yang kamu mau," Ilham terus keukeh ingin mendengar suara istrinya padahal dia sudah mendengar dari laptop Haikal waktu itu.


"Okey," Nafisya mengangguk lalu mulai memetik snar gitar.


๐ŸŽผ๐ŸŽผ๐ŸŽผ๐ŸŽผ


Bertuturlah cinta


Mengucap satu nama


Seindah goresan sabdamu dalam kitabku


Cinta yang bertasbih


Mengutus hati ini


Ku sandarkan hidup dan matiku padamu


Bisikkan doaku


Dalam butiran tasbih


Kupanjatkan pintaku padamu maha cinta


Sudah di ubun-ubun cinta mengusik resah


Tak bisa kupaksa walau hatiku menjerit


Ketika cinta bertasbih nadiku berdenyut merdu


Kembang kempis dadaku merangkai butir cinta


Garis tangan tergambar tak bisa aku menentang


Sujud syukur padamu atas segala cinta


๐ŸŽผ๐ŸŽผ๐ŸŽผ๐ŸŽผ.


"Kok sebentar?" Nafisya memutar bola matanya dengan kesal.


"Mas mah... banyak permintaan ahk," Nafisya menyimpan gitarnya ketempat asalnya tadi.


"Hehehe... iyah-iyah mukanya jangan kesel gitu dong enggak enak dipandang jadinya." Ilham menarik tangan Nafisya kedalam dekapannya namun sebelum itu dia menyerahkan Algi ke Nafisya.


"Cinta kita adalah cinta yang terbaik, karena engkau telah membuat imanku meningkat, juga membantuku di dunia ini. Pernikahan yang sukses bukanlah saat aku bisa menjalani hidup dengan damai bersama istriku, melainkan saat aku tidak dapat menjalani hidup dengan damai tanpamu," Ilham mencium ubun Nafisya dengan penuh cinta.


"Semahal apapun harga sebuah bantal, tak akan mampu menggantikan nyaman dan tenangnya bahu seorang suami untuk bersandar. Suamiku memang tidak sempurna namun dimataku dialah orang yang mampu menyempurnakan ku," Nafisya menyandarkan kepalanya dibahu kokoh Ilham.


"Seorang pria mendambakan sosok isteri yang sempurna, seorang perempuan juga memimpikan sosok suami yg sempurna. Namun keduanya tidak menyadari bahwa mereka diciptakan untuk saling menyempurnakan." balas Ilham lalu mencium pipi Nafisya lalu mencium pipi gembul Algi yang sedang terlelap dipangkuan Nafisya.


"Aku yang tidak pernah berpikir sejauh ini, bisaa membangun rumah tangga bersama mu dan aku yang tidak pernah bermimpi menikah diusia ku yang terbilang sangat belia malah membuatku belajar bahwa menikah itu tidak segampang dan sesulit yang aku bayangkan dulu," Nafisya tersenyum penuh arti menatap suaminya dengan penuh cinta.


Ya, begitulah cinta kadang tidak pernah memandang apapun. Rasa cinta selalu muncul tiba-tiba dan pergi pun secara tidak disadari oleh kita yang mengalami cinta itu.

__ADS_1


TAMAT....


Seorang suami berkata kepada istrinya, โ€œJika surga itu setangkai bunga, aku akan memetiknya untukmu. Jika surga itu seekor burung, aku akan menangkapnya untukmu. Jika surga itu sebuah rumah, aku akan membangunnya untukmu. Tapi karena surga adalah tempat yang belum pernah dilihat oleh siapapun, maka aku akan berdoa kepada Allah supaya menyiapkan surga itu untukmuโ€.


__ADS_2