
Nafisya menatap Iba kearah Ayesha yang sedang menangis sesegukkan padahal tadi pagi dokter meralang untuk Ayesha stres namun apalah daya Ayesha yang sedang berusaha memperbaiki rumah tangganya.
Ya, begitulah rumah tangga banyak ujian dan harus dilalui dengan sabar. Namun sekeras apapun usaha kita untuk mempernaikinua jika pada ahkirnya berahkir akan tetap berahkir.
Namun Nafisya berharap jika urusan ini cepat selesai dengan keadaan baik-baik saja dan jangan sampai ada kata perpisahaan diantara Abang dan kakak iparnya.
Allah memang tidak melarang umat untuk bercerai namun Allah membenci perceraiam atau perpisahaan.
"Udah kak, tenangin diri kakak. Inget kakak lagi mengandung," Nafisya mengusap punggung Ayesha dengan lembut.
"Benar kata Fisya, Kamu harus tenangin diri kamu," Nadia menimpali ucapan Nafisya.
"Tapi... Mi..." Ayesha masih menangis sesegukkan. Dia tidak menyangka jika pertemuannya dengan orangtuanya yang sudah sepuluh tahun tidak pernah bertemu menjadi seperti ini.
"Sekarang kamu istirahat yah.. Percaya sama Umi kalau semua akan baik-baik aja," Ayesha hanya mengangguk lalu merebahkan dirinya.
Nadia menyelimuti Ayesha yang masih sesegukkan. Menantunya ini sangat tertekan dengan keadaan saat ini.
"Umi..." Nafisya mengandeng tangan Nadia lalu menyenderkan kepalanya dibahu ibunya itu. Mereka berdua berjakan beriringan menuju bawah.
__ADS_1
"Kamu nih Sya, udah punya anak dan suami tetap aja manja sama Umi," Nadia mengusap lembut puncuk kepala Nafisya yang terhalang jilbab.
"Biarin Mi.. jarang-jarang Fisya manja sama Umi," Nafisya memang sangat manja jika berdua dengan Nadia namun jika banyak orang dia kembali ke Nafisya yang dewasa.
"Iyh jarang-jarang karena kalau dikamar kamu pasti manja sama Ilham kan?" goda Nadia membuat wajah Nafisya langsung bersemu.
"Umi mahk... jangan ngomong gitu ahk malu tau kalau kedenger yang lain,".
"Sya tau enggak? waktu itu Umi enggak sengaja loh denger kamu ..."
"Umi jangan dilanjut..."Nafisya merengek. Bagaimana Ibunya bisa mendengar suara... ekhem padahal jarang men.... ekhem.
"Maafin Haikal mi.. Haikal tau Haikal salah. Maafim Haikal Mi..."Haikal duduk bersimpuh dibawah sedangkan Nadia duduk diatas sofa tak menghiraukan Haikal.
"Mi..."
"Sebelum kamu dapatkan maaf dari Umi. dapatkan dulu maaf dari Ayesha," ucap Nadia tak menatap Haikal.
Nafisya dan Ibrahim tertawa cekikikkan. Haikal yang biasa terlihat cool dan usil kini menjelma menjadi Haikal yang prihatin.
__ADS_1
"Kasian ya Sya," bisik Ibrahim merangkul pundak adiknya.
"Iyah Bang, muka aja ganteng dan cool tapi sekalinya terpuruk jadi prihatin," Nafisya terkekeh. Arabella dan Noval masih disini dan sekarang sedang berada dikamar Ayesha. Ayesha tiba-tiba ngedrop.
"Tapi kayanya susah deh Mi..." lirih Haikal dimenyadari jika kata-kata akan sulit dimaafkan apalago itu sampai menghina istrinya sendiri.
"Makannya kalau ngomong harus dipikir dulu, Apalagi tadi kamu sampai bahas masalalu Ayesha," cetus Nadia.
"Tadi Haikal kebawa emosi Mi.." Entah sejak kapan Haikal sudah mengeluarkan air matanya.
"Menyedihkan..."Nafisya dan Ibrahim kompak mengatakan itu saat menyadari Haikal mengeluarkan Air matanya.
"Kalian nih ngeledekin mulu bukannya bantu nyari solusi," kesal Haikal namun wajahnya tetap dibenamkan di antara paha Nadia.
"Bodo," Sekali lagi Nafisya dan Ibrahim kompak mengatakan itu lalu membalikkan tubuh nya masin-masing, berjalan kekamar masing-masing.
✨✨✨✨✨
bersambung....
__ADS_1