
Nafisya mencium punggung tangan kekar Ilham sebagai takzim.
Mereka baru saja melakukan sholat maghrib Ilham lahk yang memimpin sholat bagi itu adalah untuk yang pertama bagi Nafisya.
Setelah mencium punggung tangan Ilham Nafisya menegakkan kembali tubuhnya.
Melihat Nafisya menegakkan kembali tubuhnya membuat dia segera mendekat.
"Boleh?"
Tubuh Nafisya langsung panas dingin saat mendengar pertanyaan itu. Munafik jika dia mengatakan bahwa dia tidak mengerti dengan yang di katakan Ilham.
Sehari sebelum akad Umi-nya sudah memberi wajengan tentang ini dan memberi tau tentang hak suami dan juga memberi tahu tugas-tugas seorang istri.
"Belum siap ya?" Nafisya menggelengkan kepalanya bukan tidak siap hanya saja dia malu untuk membuka auratnya di depan Ilham.
"Fisya malu kak..." ucap Nafisya merunduk memilinkan ujung mekenannya.
"Hehehe... kenapa malu bukan nya kita udah halal," kekeh Ilham membuat Nafisya kikuk.
"Jadi?" Ilham menaikkan satu alisnya.
Nafisya hanya mengangguk kecil tatapannya belum teralih dari ujung mekenannya.
Nafisya memejamkan matanya saat
benda kenyal itu mendarat halus di keningannya. Begitupun dengan Ilham yang memejamkan matanya dan di dalam hatinya berkata:
"بِسْمِ اللهِ اَللّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا "رَزَقْتَنَا
__ADS_1
("Bismillah, Allahumma jannibnaassyyaithaana wa jannibi syaithoona maarazaqtanaa".)
Detik kemudian hanya Allah dan mereka saja yang tau atas apa yang di lakukan dua insan itu.
Suara desahan dan suara lenguhan terdengar saling bersautan satu sama lain di kamar milik Nafisya itu.
*******
"**اَللّهُـــمَّ اجْعَــلْ نُطْفَتَــنَا ذُرّ ِيَّةً طَيِّــبَةً"
( "Allahummaj'alnuthfatanaa dzurriyyatan thayyibah".)
"اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ خَلَقَ مِنَ المْـَــاءِ بَشَـــرًا"
("Alhamdu lillaahi dzdzii khalaqa minal maa i basyaraa**".)
Keringat sudah membasahi seluruh tubuh polos Ilham dan Nafisya padahal ruangan itu berAC.
"Aku bukan lelaki yang sempurna namun saat melihat mu detil itu pun aku merasa aku adalah lelaki paling sempurna apa lagi saat aku memilki mu," ujar Ilham menatap wajah Nafisya.
Senyum cerah itu mengembang menampakkan lesung pipi di pipi kanan dan kiri.
Nafisya tertegun beberapa saat merasa terpana dengan senyum manis itu. Sangat manis.
"Jangan liatin kaya gitu juga," kekeh Ilham membuat Nafisya langsung memendamkan wajahnya di dada bidang Ilham yang masih tidak terbalut apapun.
Bahagia itu simple melihat senyum dan tawa pun saja aku bahagia.
******
__ADS_1
"Kemana dek?" tanya Haikal saat melihat adiknya baru saja menuruni anak tangga sambil membawa keranjang baju kotor
"Nyuci spreai," jawab Nafisya lalu melanjutkan langkahnya.
Setelah selesai membereskan rumah, membantu Umi dan kakak iparnya Nafisya langsung menganti sperai di bantu Ilham juga.
Nadia memang tidak memakai jasa ART karena dia merasa masih sanggup jika mengurus rumah bertingkat tiga itu apa lagi saat ini dia juga memiliki menantu dan putri yang rajin membantunya tanpa di suruh.
"Belum beres Dek?" tanya Ilham yang baru saja datang.
"Tinggal jemur aja kak," jawab Nafisya bersiap untuk mengangkat ember itu namun kalah cepat dengan Ilham.
"Biar aku aja," Ilham mengangkat ember itu ke tempat jemuran.
*****
"Kakak enggak istrahat?" tanya Nafisya seraya menjemur pakaian.
Ilham langsung membalikkan tubuhnya menatap istri kecilnya.
"Nunggu kamu,"
Laki-laki berbalut kimono mandi itu mempehatikan istrinya yang selalu cekatan dalam hal apa pun tidak pernah menunda.
******
Jangan lupa tinggalkan jejak.
Jangan lupa krisannya.
__ADS_1