Nikah Umur 14 (2)

Nikah Umur 14 (2)
EPISODE 3


__ADS_3

Gadis cantik berbalut gamis hitam hijab panjang warna hitam tak lupa niqob hitam itu menghela nafasnya beberapa kali saat kamarnya sudah di sulap tidak seperti dulu lagi.


Boneka-boneka doraemon favoritnya sudah hilang dalam sekejap dibagikan ke panti asuhan karena terlalu banyak.


"Ciee... yang besok nikah," suara ledekkan dari sepupunya membuat Nafisya langsung membalikkan tubuh menatap kedua sepupu.


"Apaan sih Ka, Van..." Nafisya merunduk. Dia sendiri tak menyangka jika dua hari lagi dia akan menikah.


"Fis, Papa ku pernah cerita kalo dia keduluan nikah sama Umi Nadia dan sekarang giliran aku yang keduluan nikah sama kamu, padahal kan aku lebih tua dari kamu," cowok berusia 20 tahun itu menatap sepupu perempuannya yang masih dini sudah akan menikah.


"Iyya tuh Fisya nemu jodoh dimana?" Tanya Vano.


Nafisya hanya diam tidak menanggapi sepupu-nya.


Vano Prawira Diningrat, Cowok blesteran itu adalah Putra tunggal dari Laras. Dalam diri cowok itu mengalir darah Jawa-Betawi karena Ayahnya asli jawa sedangkan ibunya asli Betawi.


Arka Prawira Vernando, Cowok Blesteran Inggris-indonesia adalah anak dari Arkan. Ibunya adalah orang Inggris namun sudah meninggal dua puluh tahun yang lalu tepat saat melahirkan dirinya dan sekarang Ayahnya hanya menyendiri tidak akan menikah lagi.


"Ya, makannya cari jodoh dong," ketus Nafisya.


Vano dan Arka memang sudah tau watak dan sifat Nafisya yang selalu ketus dan judes kepada laki-laki mau itu saudara, sepupu, atau teman sekolah nya tapi tidak jika bersama kakak nya. Haikal


Dering ponsel Nafisya membuat gadis 14 tahun itu tersentak lalu langsung berjalan menjauh dari kedua sepupunya.

__ADS_1


[Assalamualaikum, Dek ini aku kak Ilham,]


[Walaikumsalam Warohmatullahi Wabarokkatuh, ada apa kak?]


[Enggak ganggu kan?]


[Enggak kak, emang ada apa?]


[Kan mahar inti udah ada, kamu ada permintaan mahar enggak biar nanti enggak mendadak,]


Nafisya terdiam memikirkan kata-kata Ilham barusan.


Wanita Sholihah adalah wanita yang tidak mempersulit atau memperberat permintaan mahar kepada calon imamnya nanti.


[Fisya ingin kakak melantungkan ayar suci al-quran sebelum di mulainya akad, itu mahar yang di inginkan Fisya,]


[Enggak deh kak,]


[Ouh.... yaudah, Assalamualaikum,]


[Walaikumsalam,]


Nafisya menutup telepon itu lalu memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku gamis besar itu lalu dia masuk ke kambali ke kamarnya mempersiapkan hari esok.

__ADS_1


Di waktu yang bersamaan namun beda tempat cowok berhoodie abu-abu itu tersenyum manis, Ilham langsung menghampiri Bunda-nya.


"Gimana Kak?" tanya Ainil.


"Katanya mahar yang diinginkan Nafisya yaitu Ilham melantun ayat suci al_quran."


"Ohh... yaudah nanti kamu cari saja surah al-quran yang pas,"


Ilham hanya mengangguk lalu pamit untuk ke kamarnya.


Saat di dalam kamar Ilham langsung merebahkan tubuhnya menatap langit-langit kamarnya.


Ilham bukanlah laki-laki yang sempurna, dia pernah merasakan bagaimana hiruk piruk dunia malam, rasa alkohol pun di pernah merasakan namun yang tak pernah Ilham rasakan atau membayangkan menikah dengan gadis berusia 14 tahun.


Dia tidak menyesal telah melamar Nafisya namun dia membayangkan, apa bisa dia menjadi imam untuk Nafisya?


Dia bukan laki-laki alim atau sholeh, dia pernah merasakan apa yang di rasakan remaja masakini.Mabuk, hura-hura dll, namun ahkir-ahkir ini dia sedang berhijrah mrninggalkan masa lalu buruk-nya.


.


.


.

__ADS_1


*Jangan lupa tinggalkan jejak.


Krisannya*.


__ADS_2