Nikah Umur 14 (2)

Nikah Umur 14 (2)
EPISODE 1


__ADS_3

Pagi itu, seperti pagi sebelumnya keluarga Hilmi selalu berkumpul.


Setelah penculikkan Ibrahim 14 tahun yang sampai sekarang masih belum di temukan. Keluarga Hilmi selalu menutupi itu dengan kebersamaan, quality time bersama keluarga.


Apalagi sekarang Sultan Haikal Prawira -anak kedua Hilmi dan Nadia- baru saja menikah jadi menambah anggota keluarga.


Kini mereka sedang duduk di ruang tengah membahas pencarian yang belum tentu.


"Assalamualaikum... maaf menganggu, ada yang ingin bertemu Tn. Hilmi," pak Satpam membungkukkan tubuhnya saat berhadapan dengan tuannya yang sudah hampir 20 tahun lebih di abdikan.


"Walaikumsalam... Suruh masuk aja pak," Ucap Hilmi dan pak Satpam hanya mengangguk lalu berjalan keluar lagi.


Mendengar langkah kaki seketika menbuat mereka semua menoleh melihat datang.


"Assalamualaikum..... Maaf menganggu, perkenalkan saya Muhammad Alilham Gutama,"


"Walaikumsalam..." Serempak mereka menjawab salam itu.


Nadia langsung berdiri dari tempatnya akan membuatkan minum.


'Duh ternyata beneran dia mau kenalan lebih jauh sama aku,' Batin Nafisya menundukkan kepalanya.


"Ada apa gerangan kamu datang kamari?" tanya Hilmi menatap laki-laki itu dari atas sampai bawah.


Lelaki berpakai formal itu tampak gugup saat mendapatkan tatapan intimidasi dari Haikal dan Hilmi.

__ADS_1


"Saya ingin melamar putri bapak." jawabnya dengan suara berat karena gugup.


Hilmi menatap putrinya lalu melihat ke arah dapur menatap istrinya yang sedang berjalan membawa nampan.


Hilmi tak menyangka jika putrinya akan seperti istrinya dulu saat dia melamar di usia 14.


"Kamu kan belum pernah melihat wajah putri saya, apa yang membuat kamu yakin?." tanya Hilmi ragu, sebenarnya dan sejujurnya di takut menyerahkan putrinya kepada seorang pemuda yang tidak kenal.


Nadia menyimpan gelas teh untuk suaminya dan tamunya tak lupa juga dia membuatkan teh untuk putranya.


"Saya yakin karena akhlak." jawab Ilham menghembuskan nafasnya dengan gusar merasa gugup jika kemarin dia siap mental tapi sekaran tidak nyalinya tiba-tiba menciut.


"Saya dan Istri saya pasti setuju jika putri saya setuju. Bagaimana Naf?," tanya Hilmi kepada Nafisya membuat gadis bercadar itu mendongkakkan kepalanya.


Setelah beberapa saat hening ahkirnya Nafisya mengangguk kecil lalu menundukkan kepalanya.


Hilmi menghela nafasnya masih tampak ragu namun dia kembali berkata:


"Dalam agama kita mengajarkan sebelum kamu melamar putri saya kamu berhak melihat wajah putri saya dan kamu pun berhak untuk menolak seandainya kamu tidak berkenan." ujar Hilmi.


Lalu memberi kode kepada Nafisya untuk membuka kain yang mentupi sebagian wajahnya hanya mata saja yang terlihat.


Nafisya nampak terdiam karena baru pertama kali.ini dia harus membuka cadarnya di depan pemuda yang baru saja ia kenal.


"Dek... " tegur Nadia kepada putrinya karena masih mematung i tempat tidak bergerak sama sekali.

__ADS_1


Dengan ragu dan gugup Nafisya mengangkat tangannya membuka kain tipis yang menutupi sebagian wajahnya.


Senyum manis terbit di wajah tampan itu saat melihat wajah Nafisya. Alis tebal, bulu mata lentik, mata bulat, bolat mata bermata hitam, hidung mancung, bibir tipis, pipi bulat, kulit putih. sempurna dan cantik.


"Saya berkenan dan saya akan menerima kelebihan serta kekurangan putri bapak," ujar Ilham dan dibalas anggukkan kecil oleh Hilmi.


"Untuk lebih jelas dua hari lagi bawa keluargamu ke sini," ucap Hilmi.


.


.


.


.


.


.


.


.


Kasih komen ya biar di koreksi.

__ADS_1


__ADS_2