Nikah Umur 14 (2)

Nikah Umur 14 (2)
EPISODE 2


__ADS_3

Jemari lentik itu dengan lincah mengetik nama yang sadari tadi menganggu pikiran namanya.


Nafisya gadis cantik itu sibuk mengetik nama laki-laki yang tadi siang datang ke rumahnya.


**Muhammad Alilham Gutama, pemuda berumur 23 tahun yang sudah sukses di bidang perhotelan.


Alilham atau yang akrab di sapa Ilham adalah putra tunggal dari seorang Novelis handal di Arab dan Indonesia.


Alilham sendiri adalah lulusan At Universitas California,Los Angeles (UCLA**)


"Cuman segini?" tanya Nafisya bermonolog.


"Misterius banget, poto keluarganya pun cuman dikit," gumam Nafisya lalu menutup Laptopnya.


*****


Dua hari kemudian.


Nafisya gadis itu masih duduk di depan meja riasnya memastikan penampilannya beberapa kali.


Baru kali ini dia resah karena soal penampilan tapi kali ini hanya karna akan bertemu dengan laki-laki yang meminangnya.


Sedangkan di waktu yang bersamaan Ilham melangkah dengan gugup memasuki halaman rumah Hilmi.


"Jangan gugup gitu Kak..." wanita setengah baya itu mengusap punggung putranya yang terlihat sangat gugup.


"Baru mau ngomongin pinangan udah gugup apalagi ijab qobul pasti udah pingsan," ledek Ayah Ilham.


"Ayah, enggak boleh gitu sama anak sendiri," tegur Bunda Ilham menyengol lengan suaminya.


"Heheheh... bun maaf," kekehnya.

__ADS_1


Keluarga kecil itu langsung di sambut oleh Haikal dan Ayesha.


"Silahkan duduk," ucap Haikal lalu berlalu bersama istrinya memanggil Umi dan Abinya lalu memasuki kamar Adiknya.


Saat keluar Hilmi dan Nadia menautkan alisnya lalu saling pandang karena merasa mengenali keluarga calon menantunya.


"Bentar-bentar deh kayanya aku kenal deh," ucap Nadia lalu mendudukkan bokong nya disofa disusul oleh suaminya.


Nadia masih mengamati wajah wanita paruh baya yang ada dihadapannya lalu berkata:


"Ah... iyya Ainil Mansa Putri kan?" tanya Nadia lalu dibalas anggukkan kecil oleh Bunda Ilham.


"Kamu enggak inget aku?" tanya Nadia lagi.


"Enggak," Bunda Ilham mengelengkan kepalanya.


"Ck! masa sama temen sendiri enggk inget," decak Nadia membuat Ainil langsung membulatkan matanya.


"Nadia?"Nadia hanya mengangguk.


"Apa kabar Hil..?" tanya Ayah Ilham.


"Baik, kamu sendiri Doo...?"


"Alamdulilah baik,"


Mereka pun larut dalam pembicaraan membahas masalalu.


Sedangkan Ilham sibuk dengan ponselnya, dia tidak mengerti persoalan orang tuanya. Dia juga tak menyangka bahwa orang tuanya dengan orangtua calon istrinya berteman sejak lama.


******

__ADS_1


Nafisya memainkan ujung kuku-nya merasa gugup saat Orangtuanya dan orangtua Ilham membahas soal pernikahaan.


Bukan gugup karena takut pernikahaan itu tapi gugup karena sadari tadi Ilham terus memandangnya.


"Jadi kita sepakat kalau akadnya tiga minggu lagi," ujar Hilmi.


"Enggak terlalu mepet bii...??" tanya Haikal.


"Enggak kan cuman ngundang keluarga dan beberapa lainnya,"jawab Hilmi dan dibalas anggukkan ole Haikal.


"Jangan terlalu mandang kaya gitu Zinah..." ketus Nafisya kepada Ilham membuat semua orang tertuju kepadanya.


Sedangkan Ilham jadi gelagapan sendiri merasa terciduk.


"Maaf ya Ham..Nafisya emang gitu," Nadia langsung membuka suara saat ke-ketus'an Putrinya mulai di keluarkan.


Dia tau jika Putrinya paling tidak suka kalau ada laki-laki memandang Nafisya terus tanpan mengalihkan pandangan itu.


"Kak... belum muhrim" tegur Ainil kepada putra semata wayangnya.


"Ok... kalau gitu pertemuan dua keluarga ini kita ahkiri aja karena sudah malam juga,"


.


.


.


.


.

__ADS_1


Tinggalkan jejak ya.


kasih krisan ok.


__ADS_2