Nikahi Dia Demi Aku

Nikahi Dia Demi Aku
Bab 10


__ADS_3

Farhan kaget saat melihat ponselnya berdering. Dia melihat ada panggilan dari Gladys adiknya Ana. Farhan sebenarnya malas mengangkat telpon dari Gladys. Namun ia tidak memungkinkan tidak menjawa telpon wanita itu. Karena dia tau bahwa wanita itu ingin menanyakan kabar kakaknya.


"Halo bang."


"Halo dis, ada apa?" tanya Farhan.


"Abang lagi di mana?"


"Ya di rumah sakit nemani kakak kamu, kenapa?"


"Gimana dengan Kak Ana bang?" tanya Gladys teringat dengan sang kakak.


Semenjak menikah dengan Farhan, wanita itu sudah tinggal di rumah baru mereka. Farhan sudah menyiapkan sebuah rumah untuk mereka. Sehingga Gladys sendirian di rumahnya.


Ana juga sering datang menginap karena rumahnya termasuk besar. Gladys benar - benar kesepian.


"Kabarnya baik, Ana baru saja sudah selesai operasi."


"Alhamdulillah, semoga Kak Ana semakin sembuh nantinya."


"Aamiin, Abang mau menjenguk Ana dulu, Abang matiin ya."


"Iya bang, besok aku akan kesana ya bang."


"Ya silahkan."


Farhan mematikan sambungan telponnya. Farhan lansung berjalan menuju ruangan Ana. Dia melihat Ana masih belum sadarkan diri. Banyak selang yang terhubung ke tubuhnya. Farhan berharap semoga Ana sembuh.


"Semoga cepat sembuh." ucap Farhan berdiri tidak jauh dari tempat Ana di rawat.


Farhan duduk di sebelah brankar Ana. Dia nampak kasihan melihat betapa sakitnya wanita itu. Entah kenapa hatinya terenyuh melihat perjuangan wanita ini.


"Cepat sembuh, dan jangan meminta hal - hal yang aneh lagi." ucap Farhan.


Sedangkan di tempat lain Karin nampak sangat sibuk dengan ke empat bayinya. Meskipun setiap anak mempunyai Beby sister, tetap aja Karin nampak kewalahan menyusuinya bergantian.


Karin memang selalu memompa Asinya agar bisa di simpan di kulkas. Itu bisa di gunakan di makan hari ketika bersama dengan Beby sister.


Sedangkan untuk anak perempuannya selalu tidur di pangkuan papanya. Dia selalu menangis jika tidak peluk oleh papanya.


"Sayang, mas udah pulang, kamu cukup melayani mereka hari ini." ucap Aldo lansung memeluk Karin dari belakang.


"Kok kayak gitu sih mas?" tanya Karin merengut.


"Kan udah dari pagi bersama mereka, sekarang saatnya bersama papanya." ucap Aldo.


"Iya, mandi sana dulu, nanti aku buatkan makanan."


"Kau masih kenyang."


"Udah sana Karin, biar Beby A sama mama, kamu urus bayi besar kamu dulu, siapkan air mandinya, mana tau mau mandi air hangat dia." kata mama mertuanya.

__ADS_1


"Mana ada ma, dia sering mandi pakai air dingin jika di sediakan air panas." jawab Karin kesal mengingat sikap suaminya.


"Ma mana ada yang mau mandi pakai air panas, melepuh kulit aku nanti ma." ujar Aldo membela diri.


"Kamu ya suka sekali merepotkan istri kamu, dia sudah capek mengurus anaknya." ujar sang kakek tiba - tiba memukul Aldo dengan tongkatnya.


"Sakit kek." ujar Aldo.


"Biarin, kamu taunya merepotkan Karin aja, dia itu ibu dari cicitku, dia sudah lelah jangan kamu buat lelah lagi." ujar sang kakek.


Semenjak Karin hamil sang kakek selalu membela Karin. Sehingga tidak jarang Aldo kena pukul menggunakan tongkatnya.


"Kakek itu kakeknya siapa sih? kok bela Karin terus." jawab Aldo mencoba mengingatkan kakeknya.


"Dia itu cucu menantu ku, dia yang melahirkan 4 cicitku bersamaan, kamu cucu nggak berguna."


"Kok nggak berguna, jika tidak ada Aldo maka 4 cicit kakek tidak bakalan jadi." jawab Aldo.


"Sudah, sana kamu mandi sendiri, biarkan Karin beristirahat, sana istirahat Karin, jika dia ganggu bilang kakek." ujar sang kakek.


"Siap kek, nanti Karin laporkan dengan lengkap." ujar Karin tersenyum senang melihat pertengkaran Kakek dan cucunya.


Aldo sudah berjalan menuju kamarnya di ikuti oleh Karin. Sedangkan sang mama dan kakek sibuk bermain dengan Beby A.


"Kamu ini nanti gagah seperti kakek." ucap sang kakek.


"Dia akan gagah seperti papanya." jawab Aldo dari atas tangga.


"Kakek udah cuci tangan belum? hati - hati nanti Beby A kena virus" ucap Aldo tersenyum.


"Kamu...."


"Udahlah mas, suka sekali ganggu kakek." ucap Karin mencubit sang suami.


"Seru tau, senang aja ganggu kakek."


"Kualat baru tau rasa." jawab Karin.


Mereka masuk kedalam kamar karena ingin membersihkan diri.


...****************...


Sudah tiga hari Ana di rawat di ruang insentif. Setelah beberapa hari barulah dia sadarkan diri. Ana sudah di pindahkan ke ruang rawat inap karena kondisinya semakin baik.


Setelah di pindahkan ke ruang kamar inap, Karin dan Aldo serta keluarganya mengunjungi Ana. Karin nampak sangat cantik walaupun badannya agak berlemak. Setelah melahirkan berat badan Karin bertambah beberapa kilo


Awalnya Karin nampak malu karena terkadang sangat minder dengan tubuhnya saat ini. Dia terkadang takut jika Aldo akan berpaling dari dia. Dia tau bahwa di kantor Aldo masih banyak gadis - gadis cantik.


Namun Aldo selalu meyakinkan Karin bahwa cintanya tidak pernah berubah. Aldo bahkan selalu bilang bahwa dia merasa lebih suka dengan tubuh Karin yang sekarang.


Karin tersenyum ketika melihat Ana berbaring di ranjang rumah sakit. Sedangkan Farhan nampak setia menemani sang istri.

__ADS_1


"Apa kabar kak?" tanya Karin dengan sopan.


"Seperti yang kamu lihat." ujar Ana.


"Udah tau sedang sakit, masih tanya kabar." ucap Ana dalam hatinya.


"Gimana masih sakit?" tanya Karin.


"Kadang masih datang."


"Semoga setelah ini, semua baik - baik aja, cepat sembuh ya biar bisa kasih keponakan yang lucu." ujar Karin.


"Aamiin." jawab yang lain dengan serentak.


"Aamiin." jawab Farhan dalam hati.


"Kenapa dia hanya diam aja? apakah dia tidak setuju aku mengandung anaknya?" tanya nya dalam hati.


"Kamu harus bisa meniru aku, bisa kembar 4." jawab Aldo membanggakan dirinya.


"Jangan banyak bacot lu, ini rumah sakit." ucap Farhan.


"Hahaha,tidak terima dia." ucap Aldo tertawa dengan sebesar mungkin.


tok tok tok


Ana kaget melihat siapa yang masuk. Dia ingat bahwa adiknya itu tinggal sendirian.


"Kakak, udah sehat.?"


"Udah, tinggal pemulihan."


"Alhamdulillah." jawab Gladys


Mereka nampak berbincang - bincang sejenak. Sedangkan. Ana melihat betapa adiknya memuja Farhan. Ana paham dengan tatapan yang di berikan kepada Farhan.


"Apakah Gladys suka Farhan?" tanya Ana dalam hati.


Karin juga melihat berapa memujanya pandangan yang di berikan oleh Gladys adik Ana. Semenjak kejadian waktu itu, Karin tidak menyukai wanita itu.


"Dasar, suami kakakpun mau kayanya." ujar Karin salam hatinya.


"Kami pamit dulu ya, soalnya kasihan Beby A,Beby B, Beby C dan Beby D menangis." ujar Aldo berpamitan."


"Hati - hati do, Karin dan yang lainnya." ujar Farhan.


"Cepat sembuh ya Ana." ucap Karin berpamitan.


Aldo membawa keluarganya keluar dari ruangan tersebut. Sedangkan Gladys masih diam duduk di sofa.


"Kamu nggak pulang?"tanya Farhan.

__ADS_1


"Nggak,di sini aja sebentar ." jawab Gladys sambil tersenyum.


__ADS_2