
Gladys tidak pergi - pergi dari ruangan Ana. Dia merasa sangat senang berada di sini. Apalagi ketika melihat ada Farhan di ruangan ini.
Farhan sebenarnya ingin wanita itu pergi. Karena dia merasa tidak bebas dengan adanya wanita itu. Namun dia tidak punya alasan untuk mengusir wanita itu.
Ana juga heran melihat Farhan yang nampak uring-uringan. Dia tidak paham apa yang membuat lelaki itu nampak bete.
"Kamu nggak pulang dia?" tanya Ana.
"Kakak tidak senang aku di sini, aku padahal masih kangen dengan kakak"
"Ya sudah kamu di sini aja, kakak sedang kangen juga dengan kamu."
"Kamu itu istirahat, Jangan ngobrol terus, dan untuk jam besuk sudah habis, sebaiknya kamu pulang dia." ucap Farhan.
"Tunggu bentar lagi." jawab Gladys.
"Iya, biar aja Gladys di sini." ucap Ana.
"Ya sudah, aku pergi keluar dulu." ucap Farhan pergi berlalu dari dalam kamar rawat Ana.
Melihat Farhan pergi membuat Gladys kesal. Dia merasa tidak ada gunanya berlama-lama di sini jika tidak dan Farhan .
"Kak mungkin ada baiknya aku pergi aja deh, takut bang Farhan kesal sama aku, mana tau dia mau manja - manja sama kakak."
"Manja - manja apa?"
"Ya biasa kan suami istri."
Gladys sebenarnya tau bahwa rumah tangga kakaknya tidak begitu bagus. Dia tau alasan Farhan ataupun kakaknya memilih menikah. Bahkan dia pernah mendengar bahwa kakaknya meminta Farhan menikahinya.
Gladys tersenyum saat mengingat hal itu. Jika dulunya, dia akan merah kepada kakaknya. tapi tidak saat ini. Dia merasa senang dan berjanji akan menunggu Farhan.Gladys baru menyadari betapa bodohnya dia karena tidak jatuh cinta kepada Farhan sejak dulu.
Gladys mencoba mencari keberadaan Farhan saat berada di luar kamar inap. Dia masih ingin berjumpa dengan Abang iparnya itu.
Gladys tersenyum saat melihat Farhan sendang duduk di taman rumah sakit. Gladys lansung melangkahkan kakinya menuju tempat duduk Farhan.
Akan tetapi langkahnya terhenti saat melihat seorang wanita duduk di sebelah Farhan. Wanita itu nampak sangat cantik.
Karin mendekat ke arah mereka untuk mendengarkan apa pembicaraan mereka. Dia tidak ingin ada yang menyalip dirinya untuk mendapatkan Farhan.
"Ngapain kamu di sini?" tanya Farhan.
"Aku hanya ingin lebih dekat aja."
"Sejak dulu aku menolak kamu."
"Tapi cinta aku tidak pernah pudar untuk kamu."
__ADS_1
"Aku tidak pernah cinta sama kamu."
"Belum cinta bukan berati tidak akan bisa jatuh cinta."
"Dea tolong pahami aku, kamu bukan karakter aku."
"Aku harus seperti apa?"
"Cukup untuk menjadi dirimu sendiri."
"Apakah aku harus menjadi Rara gadis simpanan kamu itu?"
"Buat apa kamu jadi seperti itu? aku saja tobat dari masa lalu seperti itu."
"Setidaknya dia merasakan di manja kamu, dia merasakan panasnya ranjang kamu."
"Aku tidak perlu kehangatan dari siapapun saat ini, karena aku sudah menikah."
"Istri??? tapi aku akan tetap mencintai kamu."
Mereka tidak sadar bahwa Gladys mengambil foto mereka dari samping.
"Kamu ini nggak bisa bahasa Indonesia?"
Keduanya terkejut saat melihat Gladys berjalan menuju tempat duduk mereka.
"Dia..."
"Saya istrinya." potong Gladys.
Dea dan Farhan kaget mendengar jawaban. Gladys. Dea merasa ada yang aneh dengan informasi yang di dengarnya. Wanita yang berdiri di hadapannya nampak masih segar. Dia tidak terlihat seperti sedang sakit. Padahal menurut info yang diterima bahwa istri Farhan sedang sakit parah.
"Kenapa kamu kaget? kamu kaget saat mengetahui bahwa istri Farhan lebih sehat dan lebih cantik, jadi kamu tunggu apalagi?" tanya Gladys dengan tersenyum mengejek.
Dea yang melihat hal tersebut lansung bangkit dari tempat duduknya. Dia merasa sakit hati ketika tau bahwa istri Farhan tidak kalah cantik.
"Kau tidak akan menyerah." jawab Dea.
"Aku juga tidak akan menyerah dengan wanita perayu seperti Lo, kamu pikir Farhan suka wanita malam gitu."
"Tentu, dia bahkan memakai banyak wanita untuk memenuhi hasratnya di kala muda, kasihan jika kamu tidak tau apa - apa." ujar Dea tersenyum senang.
"Sayang aja waktu itu aku masih belum mau menjadi wanita seperti itu, Jika waktu itu aku Sudi menyerahkan diri ke ranjang Farhan, maka mungkin bisa jadi kamu akan menjadi partner yang memuaskan."
"Aku tidak peduli dengan masa lalu Farhan, yang aku peduli adalah masa depan ku bersama dengan dia." jawab Gladys membuat wanita itu pergi dengan cepat.
Setelah wanita itu pergi, dia begitu kesal dengan sikap Gladys yang. berbicara sembarangan.
__ADS_1
"Apa maksud kamu bicara seperti itu? padahal saya baru bicara yang sebenarnya."
"Nggak ada maksud apa-apa, hanya ingin wanita tadi bangun dari tidurnya." jawab Gladys.
"Jangan pernah ikut campur urusan saya." ucap Farhan.
"Baik jika itu maunya Abang, tapi aku tidak akan tinggal diem jika hal ini menyangkut kakakku."
Farhan tidak menjawab ucapan terakhir gadis itu. Dia tidak mau berurusan dengan adik iparnya. Karena setau Farhan adik ipar itu sama dengan racun yang bisa memusnahkan dirinya.
"Bang temani makan di kantin sebentar, aku lapar sekali, tadi lupa makan."Gladys langsung menarik lengan sang kakak ipar.
Farhan hanya berjalan mengikuti langkah Gladys. Dia paham dengan apa yang dilakukan oleh Gladys. Wanita manja itu memang tidak bisa makan sendirian tanpa ada yang menemani.
Mereka memesan menu kesukaan masing - masing dirumah sakit. Tidak ada yang mencurigai dari keduanya. Namun keakraban memang nampak serasi sebagai pasangan.
"Kok lama sekali Kita nggak makan seperti ini." ucap Gladys dengan senang.
"Abang tidak bisa lama-lama karena apa harus jaga kakak kamu." ucap Farhan mencoba menjelaskan kepada gladys.
"Nanti kita atur waktu, Jika bisa ajak kak Ana juga." usul Gladis.
"Baik, silahkan atur aja, aku akan ikut jika istri abang ikut." jawab Farhan.
setelah selesai makan, Farhan lansung meninggalkan kantin tanpa basa-basi dengan Gladys.
Farhan kaget saat mengetahui Ana sedang duduk menunggunya.
"Darimana saja? tolong ambilkan minum itu." ucap Ana.
"Dari luar."
"Ada ketemu Gladys tadi? kok kamu lama banget, Gladys sejak tadi pulang."
"Nggak ada." jawab Farhan ingin bermaksud menjaga perasaan Ana.
Farhan menyerahkan air minum yang di maksud oleh Ana. Dia membantu Ana saat dia minum.
"Apa kamu mau makan?"
"Boleh."
Farhan membantu Ana menyuapi wanita itu makan. Ana membuka mulutnya saat Farhan menyuapkannya.
Farhan tersenyum saat nasi di piring yang ada di tangannya hampir habis. Ana nampak sudah mulai makan dengan lahap.
Setelah menghabiskan makanannya, Ana meminum obat yang telah diresepkan oleh dokter dengan bantuan Farhan. Ana senang saat Farhan membantu dengan lembut. Dia merasakan bahwa Farhan yang dulu telah kembali.
__ADS_1