Nikahi Dia Demi Aku

Nikahi Dia Demi Aku
Bab 23


__ADS_3

Farhan baru saja sampai di kantor. Entah kenapa dia merasa gerah saat ini. Jika dia tau akan bertemu dengan wanita itu maka dia akan mengutus asistennya.


"Selanjutnya aku akan mengutus orang aja, takutnya nanti Ana akan salah paham pula." Farhan bicara sendiri.


Farhan kembali fokus dengan pekerjaannya di kantor. Ia ingin cepat - cepat menyelesaikan pekerjaannya agar bisa pulang dengan cepat.


Ia juga tidak ingin punya Pekerjaan Rumah saat ini. Karena saat di rumah, ia ingin menghabiskan waktu bersama Ana sang istri.


...****************...


Gladys sedang janjian dengan Erik di restoran. Saat ini Erik ingin mengenalkan dirinya dengan anaknya Erik.


Gladys sebenarnya malas bertemu dengan Anaknya Erik. Karena sejatinya Gladys sangat tidak menyukai anak-anak.


"Lama kali sih, niat jumpa nggak sih?" ucap Gladys melihat jam di tangannya.


Sudah 15 menit Gladys duduk namun Erik belum menunjukkan tanda-tanda ia datang.


"Maaf terlambat, sudah lama manunggu?" tanya Erik ketika sudah sampai.


"Lumayanlah." jawab Gladys dengan wajah kesal.


"Ini anak aku Rimba, Rimba ini kenalkan Tante Gladys." ucap Erik mengenalkan sang anak kepada Gladys.


"Ini kanke aman pa, yang au endang papa ( Ini Tante yang di taman pa, yang mau menendang papa)" ucapnya dengan senang.


Gladys paham ucapan anak lelaki itu. Dia merasa malu karena anak itu masih ingat. Bahkan anak itu ingat dengan ucapannya.


"Tante itu tidak menendang papa sayang." ucap Erik menjelaskan agar anaknya tidak salah paham.


"Kapi waku iku, kanke ilang endang Elik pa ( tapi waktu itu,Tante bilang nendang Erik pa)"


"Itu nama monyet Tante yang nakal." jawab Gladys dengan cepat.


Erik merasa kesal saat Gladys menyebutnya dengan monyet. Dia benar-benar kesal dengan wanita itu.


"Belum jadi istri aja udah mengesalkan." ucap Erik dalam hatinya.


"ohw, Kanke unya onyet, asikkkk ( ohw, Tante punya monyet,asikkkk)."


"Iya." jawab Gladys.


"Rimba, Tante ini nanti yang akan menjaga Rimba, Tante ini...."

__ADS_1


"Beby siskel limba pa, kayak Tante Opi ( Beby sister Rimba pa, kayak Tante Ovi)?" tanya rimba.


Mendengar pertanyaan Rimba membuat Gladys kesal. Bagaimana anak itu mengira dia akan menjadi pengasuhnya.


"Bukan nak, makanya jangan memotong pembicaraan papa ya."


"Jadi?"


"Tante akan menjadi mama kamu."ucap Gladys sambil tersenyum.


"Ndak au, limba udah unya mama ( tidak mau, Rimba udah punya mama)."


Gladys dan Erik terdiam mendengar jawaban sang anak. Erik sudah tau resiko ini akan terjadi. Tapi ia harus memberikan pemahaman kepada Rimba.


"Rimba mau punya 2 mama?" tanya Erik.


"Emang Isa ua pa ( memang bisa dua pa)?"


"Bisa dan Tante ini mama Gladys, enak loh punya dua mama." ucap Erik.


"mama Adis." ucap Rimba dengan tersenyum.


Ketika itu pesanan mereka datang.Mereka lansung memakan makanannya. Erik juga menyuapkan Rimba makan.


"Dia sama Beby sisternya, di rumah juga ada pelayan, kadang di jemput mamanya."


"Jadi kalian masih berkomunikasi?" tanya Gladys.


"Kamu tidak akan cemburu kan jika aku masih berkomunikasi dengan mamanya, bagaimanapun dia tetap mamanya Rimba."


"Mana mungkin aku cemburu, terserah kalian aja." Gladys menjawab dengan cepat.


Ia tidak ingin lelaki itu besar kepala jika lelaki itu beranggapan dia cemburu.


"Baguslah jika begitu, setelah kita akan menikah, apakah harus pindah ke rumah kamu?"


"Pasti iya, karena rumah itu sangat. berharga."


"Setiap rumah pasti punya kenangan masing-masing, tidak bisakah kita tidak usah pindah? kamu ikut aku saja?"


"Apa kamu tidak bisa melupakan kenangan bersama dengan mantan istrimu? kamu masih tinggal di rumah tempat kalian menikah kan?"


"Itu rumah jerih payahku, rumah yang aku beli saat aku baru kerja."Erik berhenti menyuapi Rimba karena saat ini Rimba sedang minum.

__ADS_1


"Emang nggak bisa kamu kasih ke keluarga kamu, kan nanti bisa jadi aset Rimba."jawab Gladys.


"Keluarga ku tidak ada yang tinggal di sini, baiklah mungkin nanti aku tetap meninggalkan bibi di sana untuk bersih-bersih, aku tidak mau menjual rumah itu." ucap Erik.


"Terserah kamu mana baiknya, setelah ini kita mau kemana?" tanya Gladys.


"Mungkin bermain bersama agar Rimba cepat dekat dengan kamu." Erik kembali menyuapi sang anak.


"Memang harus dekat ya? biar aja begini, karena dia kan akan tetap dengan Beby sisternya." Gladys menatap ke anaknya Erik.


"Kamu keberatan dekat dengan dia?" tanya Erik menatap Gladys.


"Aku hanya belum terbiasa dengan anak kecil, jujur aku tidak terlalu menyukai anak-anak, maka dari itu biar aja seperti ini, biarkan saja dekat mengalir begitu saja nanti." ucap Gladys.


Erik membuang nafasnya dengan kasar. Ini yang ia takutkan dengan menikah lagi. Ia takut istrinya di masa depan tidak bisa menerima Rimba.


"Ini kenapa aku tidak berpikir menikah lagi, aku takut keberadaan Rimba tidak di sukai oleh istri aku nanti." ucapnya menatap Rimba.


Dia merasa kasihan dengan anaknya yang sudah kehilangan kasih sayang seorang ibu. Pada saat pertama mengetahui istrinya selingkuh, dia hanya diam kerena memikirkan nasib anaknya saat itu.


"Kamu jangan salah sangka, aku memang tidak menyukai anak-anak, bukan berarti aku tidak menerima anak kamu, aku cuma ingin kedekatan kita tidak di buat - buat atau di paksa, biar aja mengalir begitu aja agar Rimba juga tidak dalam keterpaksaan." Gladys mencoba memberikan pandangannya.


Erik paham dengan penjelasan Gladys. Pada saat ini dia memang agak kuatir dengan Rimba.


"Baiklah, aku tidak akan memaksa kalian untuk dekat." jawab Erik dengan kurang bersemangat.


"Ya sudah, kita ke timezone aja, pasti Rimba suka."usul Gladys.


"Tapi aku hanya punya waktu satu jam saja, karena masih ada pekerjaan di kantor."


"Cukuplah satu jam."


Setelah makan mereka lansung menuju tempat Timezone. Rimba sangat senang saat memasuki banyak mainan. Ia melihat ada beberapa anak-anak yang sedang main.


Erik dan Gladys membawa Rimba berbagai macam mainan. Rimba nampak senang saat mencoba berbagai macam mainan.


Tanpa terasa mereka sudah bermain satu jam lebih.Ini diluar ekspektasi Erik. Erik ingin kembali ke kantor. Ia meminta tolong agar Gladys mengantarkan Rimba pulang bersama sopirnya. Sedangkan Erik membawa mobil Gladys ke kantor.


Namun bukannya di antar pulang, Gladys malah membawanya ke rumahnya. Rimba yang juga lelah, akhirnya bisa tertidur di pelukan Gladys.


Gladys yang juga merasa lelah akhirnya juga memejamkan mata. Ia juga merasa kantuk yang berat. Dia memejamkan mata setelah duduk menatap sangat anak sambungnya itu.


Gladys lansung tidur tanpa beban apa pun. Dia tidur di sebelah Rimba sambil memeluk Rimba.

__ADS_1


__ADS_2