
Gladys, Rimba dan Erik dengan makan siang di sebuah pusat pembelanjaan. Mereka tampak sangat senang saat bisa bermain bersama.
Apalagi Rimba, semenjak Gladys menjadi mamanya, ia nampak bahagia sekali. Perasaan Erik menghangat saat tau Gladys bisa menerima Rimba dengan baik.
"Aku ke toilet dulu." ucap Gladys berdiri dari duduknya.
Gladys berjalan menuju toilet. Tidak lama setelah kepergian Gladys, seseorang bergabung dengan gembiranya.
"Hai rimba."ucapnya dengan tersenyum senang.
"Mama." ucap Rimba kesenangan karena bertemu dengan mamanya.Dia lansung memeluk tubuh mamanya dengan senyum gembira.
Erik agak kaget dengan kedatangan Elda secara tiba-tiba. Dia tidak tau harus berbuat apa. Karena ia tidak mungkin mengusir Elda di hadapan anaknya.
"Kamu sehat mas?" tanya Elda kepada Erik.
"Seperti yang kamu lihat."
Elda agak kecewa dengan jawaban sang mantan suaminya itu.
"Mas aku boleh aja Rimba nginap di rumah aku nggak? beberapa hari aja, aku kangen." ucap Elda dengan wajah agak bersedih.
"Tapi kamu janji tidak akan pernah membawanya kabur, jika kamu berani maka jangan salahkan saya jika terjadi apa-apa dengan kamu." ancam Erik.
"Nggak mungkin mas, aku pasti akan mengantarkan Rimba pulang."
"Kamu mau nak?" tanya Elda kepada anaknya.
"Au ma, kapi limba unya mama alu Lo ma (Mau ma, tapi Rimba punya mama baru loh ma)." ucap anak itu dengan senang.
Elda kaget dengan ucapan sang anak. Dia bahkan tidak tahu bahwa suaminya sudah menikah lagi.
"Kamu menikah lagi mas?" tanya Elda menatap Erik.
"Iya, dia lagi ke toilet."
Gladys yang baru datang bingung ketika melihat seseorang wanita di antara Rimba dan suaminya. Erik yang melihat itu segera menyusul Gladys agar bergabung dengan mereka.
"Siapa dia mas?" tanya Gladys.
"Dia mamanya Rimba." ucap Erik.
"Mantan istrinya kamu?" tanya Gladys merasa ada yang aneh dengan hatinya. Apalagi ketika ia melihat dari jauh bahwa mereka sangat cocok sekali sebagai keluarga.
Elda melihat Gladys ketika Gladys bergabung ke meja mereka. Dia merasa hatinya tidak terima dengan pernikahan mantan suaminya.
"Mas, jika mas sudah menikah, mungkin mas boleh izinkan Rimba tinggal sama aku mas, mas udah punya pasangan dan teman hidup, sedangkan saya selalu sendirian, biarkan Rimba ikut saya ya mas, toh mas juga bisa dapat anak lagi dari istri mas." ucap Elda dengan wajah iba.
"Tidak, jika kamu kangen silahkan kamu jemput, setelah itu Tolong antarkan kembali ke rumah." ucap Erik tegas tanpa ingin dibantah.
"Baiklah, terima kasih mas atas kesempatannya, aku baru ingat bahwa aku juga nggak bisa membawa Rimba lama-lama karena bekerja, mungkin aku jemputnya Jumat mas, lalu Minggu sore atau Senin pagi aku antar " ucap Elda.
__ADS_1
"Oke." jawab Erik.
"Rimba ikut mama yuk, mama ajak main sebentar, bolehkan mas?"
"Iya."
Merekapun berjalan meninggalkan mereka berdua. Sedangkan. Gladys hanya diam tanpa bisa melarang apapun. Karena bagaimanapun wanita itu adalah mamanya Rimba. Ia tidak mungkin melarang Rimba bertemu dengan ibunya.
Gladys akui bahwa dirinya agak sedikit takut dengan kedatangan mantan istri Erik. Entah kenapa dia takut saja wanita itu memanfaatkan Rimba agar bisa kembali bersama Erik seperti yang ada di sinetron di Indonesia.
"Kamu mikirin apa?" tanya Erik.
"Kenapa kalian bercerai?" tanya Gladys dengan berani.
"Mungkin karena jodohnya sudah habis." jawab Erik tersenyum.
"Aku serius mas."
"Aku juga serius."
"Ah terserah kamu lah mas." ucap Gladys berdiri dari tempat duduknya.
"Mau kemana?"
"Mau keliling aja."
"Ikut." ucap Erik mengikuti langkah Gladys setelah membayar tagihan makan mereka.
"Berarti Tante tadi mama tiri kamu?" tanya Elda memulai pembicaraan.
"Mama Adis ma,ukan mama Ili ( mama Gladys ma bukan mama tiri)" jawab Rimba dengan lucu.
"Itu namanya mama tiri, karena mama kamu ya mama, seorang mama itu hanya satu orang yang melahirkan kamu." ucap Elda mencoba menghasut anaknya.
"Apa mama tili ma?( apa mama tiri ma?)"
"Seorang yang rebut papa dari mama kamu, seseorang yang memisahkan mama dari papa, rimba mau bantu mama?" tanya Elda dengan mencoba keberuntungannya di sini.
"Rimba jangan coba-coba ngadu ke papa kamu ya, kamu simpan aja sendiri rahasia kita, bisa?" tanya Elda.
"Baik ma." ucap Rimba.
"kamu lihat ini."
Elda memberikan sebuah ponsel kepada sang anak. Dia memperlihatkan sebuah film tentang anak tiri.
"Kamu lihat ini, dia tersenyum sambil melihat sebuah tanyangan. Rimba sedih melihat orang yang di video sangat memprihatikan.
"Ma kenapa dia di pukul?"
"Nah seperti itu jika punya mama tiri, mama tiri itu jahat, dia hanya baik di depan papa." cerita Elda.
__ADS_1
"Atutttt." ucap Rimba.
"Makanya Rimba jangan terlalu dekat, kamu tolak aja wanita itu, dia itu mama tiri." ucap Elda.
"Aik ma."
Setelah puas bermain, mereka bertemu kembali dengan Erik dan Gladys.
Saat Gladys memegang tangan Rimba. Rimba menepis sentuhan tangan dari Gladys. Gladys kaget saat melihat rimba menolak tangannya.
"Mas terimakasih, nanti Jumat depan aku kembali jemput dia ." ucap Elda.
"Baik.
"Terimakasih."
Mereka berpisah dengan Elda tapi meninggalkan luka di hati Rimba. Ia tidak tau bahwa kado itu sudah dipersiapkan.
...****************...
Di tempat lain Aldo bapak sibuk mengendong anak perempuannya. Dia memang sayang kepada bayi perempuan.
" kamu jika udah besar pasti cantik kayak mama kamu." ucap Aldo tersenyum.
"Mas bawa D ke sini, dia mau asi." ucap Karin.
"Sebentar lagi sayang, lagi tanggung." jawab Aldo mendaoat pelototan sang istri.
"Mas nanti dia nangis Jika terlalu lapar."omel sama istri.
Aldo segera memberikan Beby D kepada Karin sebelum wanita itu mengomelinya.
"Mas tolong jaga baby A ya." ucap Karin.
"Iya sayang."
Aldo tersenyum menggendong anaknya Alam. Baby A sangat ganteng seperti dirinya.
"Nanti jika udah besar, playboy kayak papa ya." ucap Aldo tersenyum.
"Jangan di ajari yang bukan bukan mas, kata - kata itu doa, aku nggak mau dia kayak mas." jawab Karin mendengar ucapan istrinya.
"Kan keren sayang, kamu saja tergila-gila sama aku." jawab Aldo.
"Jangan kamu coba - coba merusak impian anak bujang ku, mas itu karena terpaksa karena takdir terakhir, nggak ada yang bisa di pilih lagi makanya milih kamu." ucapnya dengan keras membuat kuping Aldo memanas.
"Dengar nak, mama kamu malu mengakuinya, kamu nanti jangan kayak mama yang nggak le." ucap Aldo mencium anaknya.
"Mas tolong boboin Beby Alam ya, biar semua bobok." ucap Karin
"Ya sayang." jawab Aldo tersenyum.
__ADS_1