Nikahi Dia Demi Aku

Nikahi Dia Demi Aku
Bab 34


__ADS_3

Ana sedang menunggu kedatangan Farhan dan Karin serta bibi Mirna. Mereka berjanji akan datang jam 10 pagi.


Sebelum kedatangan Farhan, Ana sudah menyimpan terlebih dahulu foto tentang mereka.


Ana tersenyum saat melihat kedatangan mereka.Farhan jauh nampak gagah di mata Ana hari ini.


Farhan yang memang ingin menghilangkan rasa pusingnya cepat - cepat ingin ketemu Ana. Dia juga merasa aneh dengan dirinya.


Kadang Farhan merasa seperti di pelet sama wanita ini. Akan tetapi dia masih percaya itu tidak ada di zaman saat sekarang.


"Assalamualaikum." ucap Karin dan Bibi Mirna berbarengan.


"Waalaikumsalam."jawab Ana dengan senang.


"Cantiknya hari ini? nampak bahagia sangat." ucap Karin memeluk kakak iparnya.


"Semoga bahagia selalu, dan selalu bahagia." jawab Ana tersenyum.


Melihat senyum Ana membuat hati Farhan meleleh. Dia merasa senyuman wanita ini sangat manis.


Saat pertama menginjak rumah ini Farhan merasa tidak asing dengan suasana rumah ini. Dia merasa seperti sudah terbiasa dengan rumah ini.


Farhan melihat - lihat sekeliling rumah tanpa di suruh. Dia mencari sesuatu yang di curigainya.


Farhan tidak ingin mencoba memaksa mengingat hal tersebut. Dia hanya ingin jawaban dari semuanya. Karena jika ia terlalu memaksa maka kepalanya akan sakit.


"Bang minum dulu, nggak sabaran kali." ejek Karin.


"Biar cepat selesai, boleh nggak Ana saya keliling ketempat lain?" tanya Farhan berdiri sedangkan yang lainnya sudah duduk.


"Boleh, biar saya temani." jawab Ana berdiri.


"Maaf jika lancang, saya lebih nyaman jalan sendiri, sekali maaf, saya jamin nggak akan ada yang hilang." ujar Farhan membuat Karin tertawa.


"Mau kamu ambil juga barang di rumah ini nggak masalah bang." ucap Karin dalam hatinya.


"Apa nggak apa-apa nggak di temani Han?" tanya Ana.


"Nggak apa-apa, maaf yang an."


Ana hanya mengangguk sambil tersenyum. Hatinya agak kecewa karena tidak bisa berdekatan dengan Farhan. Niat Ana menemani karena ingin ada di samping Farhan.


Farhan berjalan menuju lantai dua. Hatinya menuntunnya menuju kamar Ana. Entah apa yang dia rasakan, dia merasa terbiasa berjalan menuju kamar itu.

__ADS_1


Farhan masuk ke kamar Ana tanpa izin. Dia tau ini tidak sopan, tapi dia harus mencari sesuatu. Dia tidak ingin ada kesalahan karena ia amnesia.


Farhan tidak menemukan foto - foto di kamar ini. Ketika menatap ranjang di kamar itu, merasa sering tidur di sana.


Farhan membaringkan tubuhnya di sana. Dia merasa nyaman sekali berada di ranjang itu. Wangi di ruangan ini adalah yang sering ia cium.


Farhan mencoba memejamkan matanya untuk mencari kenyamanan dirinya.


Setelah 10 menit, ia kembali duduk di ranjang itu. Dia sadar bahwa dia tidak mungkin berlama - lama di kamar itu. Dia yakin sebentar lagi Ana akan menyusulnya ke atas.


Farhan melihat ada laci di sebelah ranjang. Ia mencoba membuka laci tersebut bagian atas. Tiba-tiba dia melihat bingkai foto yang di balikkan. Ia mencoba mengambil foto itu.


Dia kaget karena di dalam foto itu ada dirinya dan Ana. Foto tersebut menunjukkan sedang akad nikah. Farhan semakin penasaran dengan foto itu. Dia meletakkan kembali seperti semula. Dia membuka laci berikutnya Tapi tidak menemukan apa-apa.


Farhan mencoba membuka lemari yang ada di kamar tersebut. Dia hanya menemukan baju lelaki di lemari itu.


"Apakah itu bajuku?"tanyanya sendiri.


Farhan melihat ada sesuatu di dalam lemari itu. Dia yakin lemari ini sama dengan miliknya.


Farhan mendorong lemari tersebut


Ternyata di dalam lemari ada pintu yang menghubungkan ke ruangan lain.


Farhan mencari sesuatu lagi. Di dalam ruangan itu banyak barang-barang berharga. Farhan menemukan brankas di sana.


Farhan kembali mencoba kode pin yang sama dengan miliknya. Dan brangkas itu terbuka. Dia melihat banyak emas batang dan uang di dalamnya.


"Apa benar aku Suaminya?" tanya Farhan.


Farhan menutup kembali brankas tersebut. Lalu ia melihat ada lemari di sana. Ia membuka lemari itu dengan hati - hati.


Dia menemukan banyak berkas di sana. Dia menemukan berkas penting perusahaannya.


"Pantas tidak ada dirumah, ternyata di sini." ucapnya.


Lalu ia membuka dokumen yang lain. Di sana ia juga menemukan surat kepemilikan rumahnya. Rumah itu ternyata atas namanya.


"Gimana wanita ini mau jual rumah ini, jika rumahnya masih atas namaku." ucapnya sambil tersenyum sendiri.


Farhan menemukan dia buah buku nikah. Dia membuka buku nikah tersebut. Di dalam buku tersebut ada nama dirinya dan Ana.


"Ternyata dia benar istriku, lalu kenapa mereka tidak memberi tau kebenarannya? lalu kenapa aku putus dengan Rosa?" tanya Farhan bingung sendiri.

__ADS_1


"Apa mereka menjaga aku agar tidak sakit? baiklah akan aku ladeni main kucing - kucingnya." ucapnya lalu membereskan semuanya.


Farhan kembali keluar dari ruangan itu. Di a menutup semua akses ke ruangan itu dengan baik. Dia juga keluar dari kamar itu lalu menuju tempat lainnya.


Ketika baru saja menutup pintu kamar itu, Ana sudah berada di sana.


"Maaf sepertinya ini kamar kamu ya, tadi tidak sengaja aku masuk, tapi aku hanya melihat aja." jawab Farhan dengan sopan.


"Tidak apa-apa, aku kira kamu tadi Kenapa - Napa." jawab Ana.


"Aku nggak Kenapa - Napa, aku akan mencoba mengingat hubungan kita dengan perlahan, kasihan kamu harus melihat kemesraan aku dengan Rosa tiap hari." ucap Farhan dalam hati.


Ana bingung melihat wajah Farhan seperti melamun. Dia mencoba menepuk pundak Farhan.


"Kamu kenapa? apa ada yang sakit?" tanya Ana.


"Harusnya kamu lebih peduli dengan dirimu sendiri."


"Kamu nggak apa-apa?" tangan Ana lagi.


"Aku nggak apa-apa, mari." uang Farhan.


Ana berjalan beriringan dengan Farhan menuju lantai satu. Mereka melihat bibi Mirna dan Karin sedang memasak di dapur.


"Kenapa memasak? emang mau lama di sini?" tanya Farhan.


"Ini bibi masakin Ana bentar, kasihan dia lagi nggak selera makan." jawab bibi Mirna.


"Aku mau juga di masakin, tapi Ana yang masak." ucap Farhan sangat ingin memakan masakan wanita itu.


"Tapi Ana sedang tidak enak badan." ucap bibinya.


"Nggak apa-apa bi, kamu masih mual?" tangan Ana dengan lembut.


"Begitulah, sepertinya obatnya ada di sini, di makanan kamu salah satunya." jawab Farhan tersenyum.


"Ada - ada aja." jawab Ana.


"Iya ada - ada aja." jawab Bibi Mirna.


Semua tertawa di dapur sambil memasak bersama. Mereka juga di bantu oleh asisten rumah tangga Ana. Farhan berdiri di sebelah Ana dengan alasan ingin melihat wanita itu memasak. Padahal dia ingin menghirup aroma wangi tubuh wanita ini.


"Jika aku seperti ini, yakin bahwa dia istri aku." ucapnya dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2