
"Halo." terdengar suara perempuan menjawab teleponnya di seberang sana. Ia yakin bahwa itu adalah Karin istri Aldo.
"Halo Karin, apakah Aldo ada?" tanyanya dengan ragu.
"Maaf buat apa ya cari suami saya? apa mau main drama lagi? maaf suami saya tidak tertarik."
"Aku ada kepentingan, tolong kasih teleponnya ke Aldo."
"Maaf, suami saya menyarankan saya yang mengangkat, jadi jika ada yang perlu kamu omongin silakan sampaikan ke saya, suami saya ada di samping saya mendengarkannya." jawaban Karin membuat kesal Gladys.
"Wanita itu benar-benar merepotkan aku." gumamnya dengan pelan.
"Jadi gimana? nggak jadi?" tanya Karin di seberang sana.
"Bang Aldo, kak Ana dan bang Farhan berantem, bang Farhan meninggalkan rumah, dan Kak Ana siap mengirimkan surat penceraian ke pengadilan, bang Aldo tolong bantu aku." ucapnya.
"Apakah kamu hanya bisa merengek? apakah cirikhas kamu adalah wanita yang merengek ke suami orang? apakah hal itu juga yang kamu lakukan ke Abang ipar kamu?" tanya Karin membuat Gladys semakin kesal.
"Aku tidak bicara dengan kamu."
"Tapi jawaban Aldo sama dengan aku, coba berpikir untuk diri sendiri, kamu cantik, jangan merusak rumah tangga kakakmu sendiri."
"Aku tidak pernah melakukan apa yang kamu tuduhkan, rumah tangga mereka memang sudah hancur sebelum itu terjadi."
"Jadi itu benar terjadi? jadi kamu memang mencintai Abang iparmu?" tanya Karin terdengar tertawa mengejek.
"Jika kamu tidak memberikan saran apa - apa lebih baik diam." ucap gladys.
"Sama nasehat aku untuk kamu, jika kamu tidak bisa berbuat apa-apa mending kamu nggak usah ada di dunia ini, belajar malas, maunya yang instan makanya cari suami orang kaya yang sudah kenal yaitu suami kakak sendiri, hehehe."
Karena kesal Gladys mematikan sambungan teleponnya.
Di seberang sana Karin semakin tertawa karena Gladys mematikan telponnya. Aldo sebenarnya ingin menegur Karin yang di anggap sudah keterlaluan. tapi ia sedang tidak ingin bertengkar karena wanita lain.
"Hati - hati loh, nanti dia stres lalu bunuh diri, kamu yang di cari polisi."
"Aku hanya memberikan dia nasehat yang benar dalam. menjalani hidup." jawab berdiri sambil masuk ke ruang ganti baju.
Aldo penasaran melihat Karin nampak bersiap - siap.
"Kemana?" tanya Aldo.
"Mau cari Abang ipar kamu sayang sekaligus teman kamu yang pe'a itu." jawab Karin.
"Kamu di dengar Farhan nanti gimana?"
"Emang dia pe'a, masa ngurus masalah dia sama istrinya saja nggak bisa."
"Bukan nggak bisa, mungkin dia kasih Ana ruang berpikir, biarkan dulu mereka menenangkan diri, Jika sudah dua hari masih nggak ada perubahan, baru kita ikut campur." jawab Aldo.
__ADS_1
"Tapi..."
"Dengar mas, jika kamu ikut campur sekarang, nanti jika Farhan meminta maaf kepada Ana, maka Ana akan berpikir bahwa Farhan menikahinya hanya karena kamu."
"Bukannya kamu melihat bahwa bang Farhan sangat menjaga dia waktu di rumah sakit, bang Farhan mencintai dia." jawab Karin.
"Iya, cuma abangmu itu belum menyadari nya dan belum mau mengakui, bukannya wanita butuh pengakuan?" tanya Aldo.
"Iya, makanya aku mau Bang Farhan mengakuinya di depan kak Ana."
"Biar dia yang menyelesaikannya jika memang dia sangat mencintai Ana, cinta akan membawanya kembali." jawab Aldo.
"Romantis sekali anda tuan Aldo."
"Berkat saya terlanjur mencintai istri saya nyonya Karin."
"Ohw begitu, Ya sudahlah, mau tidur ah, ngantuk."
"Masih pagi."
"Udah jam 10 pun, lagian ngantuk ngurus bayi besar tadi malam, kamu sana ke kantor." ucap Karin mengusir suaminya yang sudah memakai baju kantoran.
"Maunya tidur bareng."
"Hey jangan, sana kerja sayang ku, cari duit yang banyak untuk ke empat anak kita, lagian istrimu ini matre, nanti nggak cukup untuk biayanya." usir Karin dengan halus.
"Jika aku nggak masuk sekali-sekali tidak akan bangkrut perusahaan." jawab Aldo.
"Baiklah, tunggu aku nanti malam, istirahat yang benar biar cepat pulih tenaganya." ucap Aldo siap berangkat.
Setelah mencium kening karin, Aldo keluar dari kamarnya. Sedangkan melanjutkan tidur paginya yang tertunda.
Dia merasa merdeka ketika melihat Aldo sudah berangkat. Entah kenapa dia merasa dia nyenyak tidur jika Aldo masih di rumah.
...****************...
Farhan telah memikirkan semuanya.Dia mengakui bahwa dirinya sudah keterlaluan berucap kemarin.
Dia sadar bahwa tidak seharusnya dia berkata seperti itu kepada ana. Apalagi dengan status Ana yang baru sembuh dari sakitnya.Membuat wanita itu tampak ragu dengan pernikahannya.
"Bodoh, seharusnya aku memberi dia penjelasan, jika begini terus kapan selesainya?" Farhan berbicara pada dirinya sendiri.
"Sedang ngapain dia ya?" Tanya Farhan merasa rindu dengan wanita itu.
Farhan tidak ingin membuat wanita itu berpikir yang macam-macam lagi. Dia tidak ingin wanita itu benar-benar melayangkan surat perceraian ke kantor pengadilan agama.
Farhan segera meraih kunci mobilnya. Dia bergegas menuju rumah Ana.
Saat ia membuka pintu utama rumahnya, ia dikagetkan dengan sosok Ana yang sudah berdiri di depan pintu.
__ADS_1
"Kamu ngapain di sini?"
"Tadi aku kerumah lama, tapi kata bibi nggak ada pulang kesana, makanya aku kesini."
"Buat apa?" tanya Farhan.
Ditanya begitu membuat Ana terdiam.Ia tidak tahu harus menjawab apa karena begitu gugup.
Farhan merasa pertanyaannya begitu bodoh. Ia merutuk dirinya sendiri yang merasa lidahnya ikut kelu.
"Aku... aku.. di sini..."
"Kamu mau aku antar ke pengadilan?" Farhan semakin mengutuk dirinya sendiri dalam hatinya.
"Kamu maunya begitu?" tanya Ana nampak agak gemetar.
Farhan lansung membawa Ana masuk kedalam rumah mereka. Rumah ini adalah rumah mereka setelah menikah. Mereka pernah tinggal di sini sebelum Ana operasi.
"Duduk dulu." ucap Farhan.
Ana duduk di kursi jati ruang tamu bewarna coklat. Ia benar-benar kehilangan kepercayaan diri.
Setelah semalaman ia berpikir untuk hidupnya, namun ketika bertemu lelaki ini semua hilang bagai ditelan bumi.
"Aku mau...." ucap Ana dan Farhan bersamaan.
"Kamu aja duluan." ucap Farhan.
"Kamu aja." ucap Ana.
"Ladies first." jawab Farhan.
"Kamu aja." ucap Ana.
"Baiklah, aku mau minta maaf soal yang kemaren, tidak seharusnya aku berkata demikian,aku tidak mau berpisah denganmu lagi."ucap Farhan.
Ana tersenyum mendengar ucapan Farhan. Melihat Ana tersenyum membuat Farhan agak lega.
"Kamu mau?" tanya Farhan menyentuh tangan Ana.
"Iya mau, aku juga minta maaf soal yang kemaren." ucap Ana.
"Iya, jangan di ulangi lagi, jangan coba-coba menjodohkan aku dengan siapapun, terus jangan memikirkan masalah sendirian, berbagilah bersamaku." ucap Farhan memeluk wanita itu.
"Iya, tapi bagaimana dengan Gladys?"
"Itu biar menjadi urusan aku, biar aku Carikan dia jodoh, minta Gladys mau menikahi dia demi kamu, biar kita tau seberapa sayang dia sama kamu."
Ana hanya mengangguk setuju dengan ide suaminya. Melihat Ana mengangguk membuat Farhan tersenyum senang. Farhan lansung mengecup bibir Ana untuk pertama kalinya setelah menikah.
__ADS_1
"Tetap manis." ucap Farhan sambil tersenyum.
"Untuk sekarang dan kedepannya kita akan tinggal di sini, kita akan kesana sekali - kali aja." Farhan menarik tangan Ana menuju kamar mereka.