
Semenjak pulang dari rumah Ana, wajah Karin nampak cemberut. Sejak tadi dia mendiami Aldo. Aldo bingung sendiri kenapa dia di diami.
Aldo mencoba mencari tahu apa yang menyebabkan istrinya diam. Tapi ia benar - benar tidak menemukan penyebabnya.
Saat di rumah, Karin nampak sibuk dengan ke empat anaknya. Dia begitu cuek dengan Aldo. Karin tidak pernah begitu, walaupun sibuk dengan anaknya namun dia tidak pernah lupa dengan kewajibannya melayani Aldo.
Sudah beberapa jam Karin hanya sibuk menghabiskan waktu bersama anak-anak. Aldo paham sekali bahwa ada yang salah hari ini.
Aldo menghampiri Karin di kamar anak - anaknya yang tidak jauh dari kamar mereka. Saat Aldo membuka pintu kamar anak - anaknya, dia melihat Karin nampak sedang berbaring di sofa yang ada di kamar mereka.
"Apa mereka udah tidur?" tanya Aldo dengan lembut.
Karin tidak menjawab pertanyaan Aldo.
"Bisa kita bicara di kamar? kita harus selesaikan masalah kita di kamar, nggak enak di dengar oleh mereka." ucap Aldo kepada Karin.
"Mereka belum mengerti apa-apa."
"Justru itu, kita harus membiasakan membahas masalah kita berdua tanpa di hadapan mereka, semarah apapun kita tapi harus tetap harmonis didepan anak - anak."
"Tunggu aku panggil baby sisternya anak - anak."
"Baik."
Aldo berjalan kembali menuju kamarnya. Aldo tau bahwa Karin sedang memanggil Beby sister anaknya.
Ukuran kamar yang sangat luas untuk keempat bayinya. Para Beby sister harus ada yang berjaga menemani anak-anak mereka. Setiap anaknya memiliki satu Beby sister. Namun walaupun begitu, Karin tidak pernah absen merawat anaknya. Dia ingin tetap ada dan dekat dengan anak - anaknya.
Tidak lama setelah Aldo masuk kamar, Karin nampak menyusul. Dia duduk di sebelah Aldo, yang sedang duduk di tepi ranjang yang ada di kamarnya.
"Kamu ada masalah apa dengan mas?"
"Nggak ada."
"Jika nggak ada nggak mungkin kamu diamkan mas selama ini, sejak tadi loh."
"Ya pengen diam aja."
"Ayolah ngomong, mas tidak dukun yang bisa menebak apa yang ada di kepalamu."
"Tapi kita sudah lama hidup bersama, setidaknya kamu peka."
__ADS_1
"Ya sudah mas minta maaf jika tidak peka, tapi tolong kasih tau mas agar mas bisa memperbaiki kesalahannya mas." ucap Aldo meraih tangan Karin.
"Aku hanya nggak suka jika kamu terlalu dekat dengan Gladys."
"Ya ampun ternyata kamu cemburu sama Gladys, dia sudah aku anggap adik." ucap Aldo tertawa dengan pengakuan Karin.
"Terserah kamu, aku nggak suka mas kamu terlalu dekat dengan dia, apalagi mengacak rambutnya." ucap Karin dengan jujur.
"Mas dengan Farhan memang sudah bertemu dia waktu dia masih kecil, kami menganggap dia adik kecil kami."
"Selagi itu bukan ada hubungan apa-apa tetap aja itu salah, jika kamu tidak bisa mengubah kebiasaan itu, tapi tolong lakukan demi aku."
"Tapi kamu aneh aja sayang."
"Aneh? aku cemburu begini kamu anggap aneh?" tanya Karin menyipitkan matanya menatap Aldo.
"Iya, masa kamu cemburu sama Gladys yang kecantikannya jauh di bawah kamu, bagi mas kamu wanita paling cantik."
"Tetap aja dia juga wanita dan kamu lelaki biasa yang bisa nyaman jika terlalu lama nyaman bersama dia."
"Baiklah sang pujaan hati mas, demi kamu apa yang nggak mas lakukan."
"Iya sayang." Aldo membawa Karin kedalam pelukannya. Dia tidak lupa mencium rambut kepala Karin yang sangat harum baginya.
"Mas kayaknya Gladys aneh deh mandangin bang Farhan."
"Ah kamu aja yang sudah merasa cemburu ke dia, makanya mikirnya aneh - aneh."
"Jadi kamu belain dia?"
"Bukan gitu, tapi dia memang seperti itu, agak tomboi gitu, agak nakal sedikit."
"Tapi sebagai wanita aku melihatnya dia seperti suka dengan bang Farhan."
"Ya nggak mungkin sayang, kan Farhan suami kakaknya."
"Banyak loh di dunia ini adik jadi pelakor bagi Kakaknya, kamu tau nggak tetangga sebelah kita, dia bercerai dengan suaminya karena adiknya menjadi orang ketiga dalam pernikahannya."
"Kok jadi ngegosip yang?" tanya Aldo mengecup bibir Karin sekilas.
"Dengar dulu, padahal mbak itu bawa adik ya dari kampung, eh malah suaminya di embat oleh adiknya, dan adiknya itu sekarang juga sedang hamil, gila kan?"
__ADS_1
"Biar ajalah sayang, yang penting bukan kita."
"Ah kamu juga pernah suka sama kakakku walaupun kita udah menikah waktu itu."
"Jangan bahas masa lalu kita lagi sayang, itu berbeda dengan mereka, mas tau mas salah, tapi itu berbeda cerita ya sayang."
"Aku takut aja kamu ngulangin hal yang sama."
"Kamu nggak percaya sama mas? apa mas pernah membohongi kamu setelah mas terperangkap ke dalam cinta mu." tanya Aldo menatap manik mata Karin.
Karin menyadari memang hal antara dia dan Aldo adalah kasus yang berbeda. Dia sangat bersyukur bahwa suaminya itu adalah suami yang setia.
"Percaya mas, jika nggak percaya sudah lama kita pisah." jawab Karin.
"Jangan berprasangka buruk lagi ya sayang, waspada boleh, tapi jangan pernah kamu berpikir mas bisa lari dari pelukan kamu, mas sudah termehek-mehek dengan kamu sayang." ucap Aldo mengecup kening Karin kali ini.
"Kita udah lama nggak kencan berdua, nanti malam kita pergi berdua ya sayang." ajak Aldo.
"Tapi anak-anak?"
"Biar aja mereka tinggal sehari, kita butuh me time berduaan sayang, jika perlu kita ulang berbulan madu." ujar Aldo tersenyum.
"Nggak ada, bulan madu buat aku nggak bisa jalan,di kamar terus."
"Namanya bulan madu sayang."
"Nanti - nanti aja mas, aku masih ingin fokus dengan anak-anak."
"Ya sudah, kita bulan madunya di sini aja." ucap Aldo tersenyum senang menatap wajah istrinya.
Mereka memadu kasih seakan tidak ada habisnya. Mereka sangat menikmati waktu berduanya tanpa ada gangguan.
Karin bersyukur suaminya selalu suka dengan dirinya. Bahkan Karin akui bahwa suaminya semakin mencintai dirinya. Karin bisa menilai banyaknya perlakuan lembut suaminya kepada dirinya.
Begitupun dengan Aldo, dia sangat bersyukur memiliki Karin. Tidak ada wanita lain di hatinya saat ini. Walaupun ia pernah suka sama Fina sang kakak Karin, namun itu sewaktu pencarian cintanya.
Nyatanya saat ini dia tidak bisa lepas dari wanita ini. Saat keluar kota, Aldo selalu mengajak sang istri. Dia tidak bisa jika harus berjauhan dengan sang istri.
Pernah satu kali dia tidak membawa Karin ikut dinas keluar kota karena hamil besar. Aldo sangat tidak fokus sehingga dia video call setiap saat. Dan pekerjaan yang seharusnya selesai selama seminggu ia kerjakan selama 3 hari.
Begitu lah cinta mereka berdua. Saat ini tidak ada yang bisa mengalahkan cinta mereka berdua.
__ADS_1