
Ana berjalan menuju kantor suaminya. Namun dia tidak menemukan Farhan di kantornya. Menurut sekretarisnya Farhan saat ini sedang rapat.
Ana hanya duduk di dalam ruangan Farhan menunggu suaminya kembali. Ia duduk di kursi kebesaran Farhan.
Ana mencoba membuka laci meja kerja Farhan. Ia melihat banyak berkas - berkas pekerjaan di sana.
Ketika membuka laci paling atas, mata Ana melihat seperti sebuah bingkai foto di telungkup. Ana membalikkan bingkai foto tersebut.
mata Ana membulat saat melihat foto yang ada di tangannya. Foto itu adalah foto wanita yang beberapa hari yang lalu ia lihat bersama Farhan.
"Kenapa dia masih menyimpan foto wanita ini?" tanya Ana lansung menangis.
Ceklek
Farhan yang baru saja masuk dengan senyum karena dapat berita kedatangan istrinya dari sekretaris. Namun senyum Farhan hilang saat itu juga ketika melihat istrinya menangis.
"Kamu kenapa?" tanya Farhan mendekati Ana.
"Apa ini?" tanya Ana memberikan bingkai foto tersebut kepada Farhan.
Melihat bingkai foto itu membuat Farhan mengingat sesuatu. Dia ingat bahwa di laci itu ada foto Rosa yang belum ia buang. Ia benar-benar lupa membuangnya.
"Dengarkan aku sayang." ucap Farhan memegang tangan Ana.
"Apa kamu masih mengharapkan dia?" tanya Ana.
"Bukan begitu sayang, aku benar lupa ada foto itu disana, aku lupa membuangnya." jawab Farhan meyakinkan Ana.
"Jangan berbohong mas, mana mungkin bisa seseorang lupa membuang foto masa lalunya jika bukan masih cinta." jawab Ana dengan emosi.
"Sayang percaya sama aku, aku sudah tidak ada perasaan apa - apa sama dia setelah kita kembali, percayalah cinta aku ke kamu lebih besar." jawab Farhan masih mencoba menyakinkan Ana.
"Simpan omongan manis kamu, jujur lebih baik."
"Aku sudah jujur yang."
"Kamu pembohong." teriak Ana sambil menangis.
"Sayang, kamu harus percaya aku." ucap Farhan.
"Mungkin untuk saat ini, kita sementara waktu intropeksi diri masing-masing,jangan temuin aku jika kamu masih belum bisa lepas dari dia." ucap Ana meninggalkan Farhan.
"Ana dengarkan aku, jangan pergi."
Ana tidak menghiraukan suaminya. Dia berjalan sambil menghapus air matanya. Sedangkan Farhan sengaja tidak mengejarnya karena tidak ingin karyawannya tau masalah pribadinya.
__ADS_1
Setelah agak lama,barulah Farhan menyusul Ana. Dia tidak akan bisa konsentrasi bekerja jika Ana sudah marah seperti ini. Dia juga tidak lupa membawa biang masalah ini.
Farhan membawa mobil dengan terburu-buru. Namun malang sekejap mata. Mobil yang ia bawa menabrak mobil yang berhenti di depannya dengan keras. Sebuah mobil di depannya berhenti secara mendadak.
Kepala Farhan terbentur ke setir dengan sangat keras. Ia sempat tersadar sesaat, namun tidak lama semua menjadi gelap.
...****************...
"Kak! kak! teriak Gladys memanggil kakaknya dari pintu masuk.
"Kemana sih kakak ini." ucap gladys kesal karena tidak menemui keberadaan Ana.
Gladys mencoba menghubungi kakaknya. Namun nomor teleponnya tidak tersambung.
"Is kemana sih kakak ini, dia nggak tau apa suaminya sedang bertahan hidup." ucap Gladys kesal.
Gladys beranjak dari rumah setelah mengetahui bahwa Ana tidak berada di rumah dari pelayanan rumah Ana dan Farhan.
Gladys mencoba menghubungi suaminya. Dia harus meminta tolong suaminya agar bisa membantunya mencari Ana.
Jika urusan merawat Farhan, dia yakin sudah ada Karin dan keluarganya di sana.
Gladys pulang menuju rumahnya terlebih dahulu. Dia ingin melihat Rimba terlebih dahulu, barulah berangkat ke rumah sakit.
"Kamu darimana?" tanya Erik lansung mencium kening istrinya.
"Baru saja dari rumah Kak Ana, tapi dia tidak ada di sana." ucap Gladys.
"Yuk masuk, nanti mas akan perintahkan anak buah mas cari kak Ana."
"Baik mas, terima kasih mas."
Mereka berjalan bergandengan tangan masuk ke dalam rumah. Akan tetapi senyum keduanya menghilang karena melihat mantan istri Erik berada di dalam rumah itu.
"Kamu ngapain di sini?" tanya Erik kaget.
"Kamu aneh bertanya seperti itu, ini juga rumah aku." jawab Elda dengan tersenyum.
"Rumah kamu? sedikitpun tidak ada uang kamu membangun rumah ini." ucap Gladys agak emosi.
"Ini rumah Erik, Erik itu papa dari anak aku, tentu saja ada hubungannya dengan aku." jawab Elda sombong.
"Sebelum kamu ke sini apa kamu tidak pernah menyelidiki terlebih dahulu? sayangnya ini rumah pemberian orang tua aku." jawab Gladys tersenyum penuh kemeengan.
"Kamu menerima Erik saat sukses aja, Erik aku mau rumah kamu yang di daerah X untuk aku."
__ADS_1
"Untuk kamu? setelah semua sudah aku berikan, lalu kamu masih berharap rumah aku satu-satunya?" tanya Erik.
"Kamu jangan lupa mas, kita punya anak bersama, Rimba berhak mendapatkan harta kekayaan kamu, maka aku ingin kamu memberikan rumah itu kepada Rimba." ucap Elda.
"Kamu tau malu nggak sih? Jelas Rimba dalam pengasuhan aku, pasti dia akan mendapatkan apa yang terbaik dari aku." jawab Erik.
"Erik aku yakin kamu tidak bisa melupakan aku, aku ini cinta sejati kamu, maka dari itu kita bisa bersama lagi, aku tau kamu tidak bahagia bersama wanita ini."ucap Elda.
"Omongan kamu terlalu besar sekali, keluar dari sini." usir Erik.
"Mama." Teriak Rimba berlari memeluk Elda.
Gladys berpikir bahwa wanita yang akan di peluk Rimba adalah dirinya. Namun semuanya hanya pikiranya semata.
"Mama dicinj ulu (Mama di sini aja dulu)." ucap Rimba.
"Tapi tempat mama kamu bukan di sini sayang." ucap Elda berpura-pura bersedih.
"Pa ialkan mama aman aku ya, iarkan mama di cini (Papa biarkan mama sama aku, biarkan di sini)."
"Tidak bisa nak."
"Iya nak, ini rumah mama Gladys. Nanti mama Gladys akan marah sama mama." ucap Elda dengan lembut.
"Mama Adis ahat ( mama Gladys jahat)" ucap Rimba berteriak kepada Gladys.
Gladys bingung menghadapi Rimba saat ini. Dia bahkan tidak menyangka akan keluar kata - kata itu dari mulut Rimba.
"Jangan bicara seperti itu Rimba, minta maaf sama mama Gladys." ucap sang papa.
"Ndak au,papa uga ahat, limba au ikut mama aja ( tidak mau, papa juga jahat, Rimba mau ikut mama aja."
Erik dan Gladys sangat kaget mendengar teriakan sang anak. Apalagi Erik karena selama ini anaknya tidak pernah mengalami tempramen.
"Mas tenang, Rimba masih kecil, dia hanya bisa berkata seperti apa yang ia rasakan saja, biar sementara waktu Rimba aku bawa, agar ia tenang dulu." tiba - tiba Elda berbicara dengan nada lembut seperti paling mengerti.
"Aku bisa menangani dia."
"Jangan marahin dia mas, dia masih kecil."
"Mama, Limba au ikut mama." ucap Anaknya menangis terisak-isak.
"Mas, sekali lagi biar aku tenangkan Rimba dulu, kasian dia jika menangis seperti ini." ucap Elda dengan lembut.
"Bawalah satu hari, besok antar kembali ke sini." ucap Erik tidak mau pusing dengan kekacuan ini.
__ADS_1