Nikahi Dia Demi Aku

Nikahi Dia Demi Aku
Bab 15


__ADS_3

Benar saja dengan feeling Farhan bahwa Ana menuju rumahnya. Farhan melihat Ana sedang duduk di dalam kamarnya. Farhan langsung menghampiri anak yang sedang duduk di tepi ranjang.


Ana sedikit kaget melihat kedatangan Farhan. Dia tidak tahu bahwa Farhan akan menyusulnya ke rumah.


"An Tolong dengar penjelasan ku." ucap Farhan memulai sambil duduk di sebelah Ana.


"Tidak ada yang perlu dijelaskan, tidak ada yang salah di sini."jawab anda dengan tenang.


"Maksud kamu apa?"Farhan tidak mengerti dengan apa yang diucapkan oleh Ana.


"Kita di sini sama-sama tahu bahwa kita menikah karena ada something, jadi Apakah kita harus berpura-pura terus?"


"Berpura-pura? kamu pikir kita sedang main rumah-rumahan." jawab Farhan agak emosi.


"Lalu apa jika bukan seperti itu? faktanya itu yang terjadi kan? kamu menikahi aku karena permintaan Karin, itu satu, lalu kedua karena kamu kasihan karena aku sakit, lalu point yang ketiga karena perusahaanku sedang bangkrut, tidak ada alasan di sini karena cinta."


"Kamu dengar dulu penjelasan dari aku."


"Penjelasan apa? penjelasan bahwa kita harus tetap menjalani rumah tangga ini dengan kepura-puraan? mau sampai kapan Farhan? aku ini manusia biasa bukan artis atau boneka." jawab Ana.


"Lalu aku apa?" tanya Farhan juga terbawa emosi.


"Apakah Aku barang yang disuruh-suruh? Apakah aku boneka yang tidak punya perasaan? Pertama disuruh menikahi kamu, aku berpikir lama untuk menyetujuinya, aku pikirkan dengan matang." jawab Farhan.


"Lalu apa jawaban yang kamu berikan kepadaku? Nikahi dia demi aku, kata-kata itu yang kamu ucapkan sebagai syarat pernikahan, kata-kata itu yang kamu jadikan supaya menerima lamaran ku, Apakah kata-kata itu pantas untuk jawaban lamaran seseorang?" tanya Farhan membuat Ana terdiam membisu.


Ia melihat Farhan begitu emosi dan ada kekecewaan di matanya.


"Lelaki mana yang tidak kecewa ketika orang yang dilamarnya memberikan wanita lain untuk dirinya."


"Itu karena kamu tidak pernah serius sama aku." jawab Ana.


"Kamu bilang aku tidak pernah serius? Apakah aku pernah bercanda dengan hubungan kita dari SMA? Apakah ada aku tidak serius dengan kamu sejak pertama kita pacaran? ingat siapa yang menghianati? ingat siapa yang memutuskan menikah diam-diam." teriak Farhan.


"Karena itu kamu membenci aku, bahkan kamu tidak pernah membuka pintu maafmu untuk aku, lalu tiba-tiba kamu datang melamar aku,Apakah itu tidak aneh? coba kamu pikir pakai logika kamu wanita mana yang percaya ketika dilamar oleh lelaki yang membencinya setengah mati."


"Kamu selalu egois, apakah hati seseorang tidak bisa berubah? jika Tuhan membuka pintu hati aku, kenapa ada yang tidak mungkin, kamu terlalu egois hanya mau memikirkan dirimu sendiri."


"Dimana letak keegoisan aku?" tanya Ana kesal.

__ADS_1


"Dari dulu kamu hanya mementingkan diri kamu dan keluarga kamu dalam hubungan kita, jika bukan karena kamu menikah karena harta waktu itu, mungkin kita sukses bersama, waktu itu kamu hanya memandang aku bukan siapa-siapa, kamu memilih lelaki itu untuk jalan pintas agar perusahaan kamu tidak bangkrut."


"Kamu bicara seperti itu karena tidak berada di posisi aku."


"Justru jika aku berada di posisi kamu, maka aku akan memilih cara yang berproses, aku akan memberi tau pacarku saat itu apa kesusahan yang terjadi."


"Lalu apa yang pacar kamu bisa lakukan?"


"Itulah kamu terlalu menyepelekan orang."


"Sudahlah jangan bertele-tele, saat ini aku sedang bahas masa sekarang bukan masa lalu." kata Ana melirik Farhan.


"Karena masa sekarang terjadi akibat egoisan kamu di masa lalu, itu ada hubungan kolerasi."


"Sudahlah, jangan cari pembenaran diri terus, buat aja keputusan untuk masa sekarang."


"Keputusan apa yang kamu mau?" tanya Farhan berdiri dari duduknya berjalan menghadap jendela.


"Mungkin lebih baik kita berpisah aja."


"Apakah itu yang kamu mau?" tanya Farhan membalikkan tubuhnya menghadap Ana.


"Lalu jika adikmu mencintai aku maka aku harus mencintai dia?"


"Kalian saling mencintai, kalian punya hobi yang sama, kalian bahkan mempunyai karakter yang hampir sama."


"Belajar lagi menilai orang, balik lagi ke bangku kuliah atau bahkan ke bangku sekolah."


"Kamu itu player, banyak wanita di keliling kamu, banyak wanita yang mendampingi kamu."


"Lalu kamu mau minta aku menikahi mereka demi kamu juga? hey cinta aku tidak sebesar itu kepadamu Monaroh." ucap Farhan semakin kesal.


"Apa kamu panggil aku?" tanya Ana kesal.


"Munaroh." panggil Farhan.


"Kamu." ucap Karin kesal lalu berdiri bersiap mengayunkan tinjunya ke tubuh Farhan.


Namun Farhan dengan sigap menangkap tangan itu.

__ADS_1


"Tangan sekecil ini mau memukul aku? besarin dulu baru coba." ucap Farhan melepaskan tangan Ana.


"Ceraikan aku, jika tidak maka aku yang akan mengurusnya kepengadilan."


"Silahkan, kamu taukan dimana letak pengadilan agama?" jawab Farhan berjalan pergi meninggalkan Ana.


"Aku serius." teriak Ana.


"Aku juga serius."


"Setelah bkita cerai, menikahlah dengan Gladys."


Ucapan Ana membuat Farhan menghentikan langkahnya. Ia membalikkan badannya kembali menghadap Ana.


"Dalam mimpimu, mana Sudi aku terjebak dalam keluarga ini lagi." uajr Farhan meninggalkan Ana dikamar.


Ketika meninggalkan Ana, ia berpapasan dengan Gladys. Farhan sangat emosi melihat wanita itu.


"Ini kan yang kamu mau? silahkan kamu liat penderitaan kakak kamu, adik tidak tau diri." ucap Farhan dengan kata-kata pedasnya.


"Kok Abang kasar kali?"


"Mau aku lebih kasar sama kamu ha, aku ini jauh lebih kasar dari itu, menangis 7 hari 7 malam kamu nanti, urus semua sama kamu, dan jangan berharap aku mau nikah sama kamu jika pernikahan aku gagal dengan kakakmu."


Farhan berjalan meninggalkan Gladys. Gladys terdiam melihat sikap Farhan. Dia merasa kembali melihat sikap Farhan yang arogan ketika di tinggalkan Ana kakaknya.


Gladys berjalan dengan pelan menuju kamar kakaknya. Ia mencoba mengintip apa yang terjadi di kamar itu.


Gladys melihat Ana menangis di kamarnya. Ia terduduk di lantai sambil menyadarkan keningnya ke tepi kasur.


"Dia bersedih? dia mencintai bang Farhan?" tanyanya dalam hati.


"Tapi bang Farhan tidak mencintai dia? apa yang akan aku lakukan? apa aku sejahat itu memisahkan mereka?" tanyanya lagi sambil berjalan menuju ke kamarnya.


Gladys berpikir panjang tentang semua yang terjadi hari ini. Dia tidak tau harus meminta solusi dari siapa. Tiba-tiba dia teringat sosok Aldo


Dia yakin bahwa Aldo sangat begitu paham diri Farhan karena pertemanan yang terjalin di di antara mereka sudah sangat lama. Bahkan mereka sudah seperti adik kakak sendiri karena Farhan di besarkan oleh keluarga Aldo.


Gladys mencoba menelpon Aldo. Namun telponnya sama sekali tidak di angkat oleh Aldo. Ia telah mencoba berkali-kali. Namun hasilnya Nihil.

__ADS_1


__ADS_2