
Semakin lama kesehatan Ana semakin membaik.Bahkan dia sudah dinyatakan oleh dokter sudah sembuh dari sakitnya.Farhan sangat bahagia mendengar bahwa istrinya di nyatakan sembuh.
Ia berjanji kepada dirinya bahwa akan membahagiakan Ana di kehidupan berikutnya. Ia tidak akan membiarkan Ana bekerja sampai kelelahan.
Sesuai janjinya, Farhan selalu ada waktu untuk barang istri. Hal itu membuat Gladys semakin keki. Setelah kakaknya sembuh, tidak ada tanda-tanda perceraian dari keduanya.
Gladys terbawa oleh perasaannya. Padahal saat itu dia yang meminta kakaknya agar menikah agar kakaknya bahagia.
"Apakah aku yang akan menjadi duri dalam pernikahan kakakku?"
"Tapi jika mereka saling mencintai maka aku akan mundur, aku akan memastikan terlebih dahulu perasaan mereka masing-masing." ucapnya bicara sendiri di ruang tamu.
Gladys melihat sang kakak sedang duduk diruang tengah. Ia mendekati kakaknya untuk mencari tau sesuatu.
"Sibuk kak?" tanya Gladys duduk di sebelah kakaknya.
"Nggak juga, kamu nggak ngampus?"
"Pagi ini dosen nggak masuk kak, lagi sakit katanya, boleh tanya sesuatu nggak kak?" tanya Gladys.
"Tanya apa?"
"Gimana perasaan kakak dengan bang Farhan?"
"Kenapa kamu bertanya seperti itu?" tanya Ana menatap sang adik.
"Ya hanya ingin tau aja, kakak kan udah sehat, jika memang tidak bahagia kenapa harus masih bersama? berpura-pura atau main - main rumah tangga." jawab Gladys.
"Dari penglihatan kamu apakah kami nampak seperti bermain peran rumah tangga?" tanya Ana.
"Nggak tau juga, makanya nanya kakak, aku takut nanti kakak tersakiti."
"Maksud kamu?"
"Bagaimana jika bang Farhan sukanya seseorang? apa kakak nggak merasa bahwa selama ini bang Farhan hanya terpaksa menikahi kakak karena perintah Karin, itupun waktu itu karena kakak sakit, nah sekarang dia tidak punya kewajiban lagi untuk jaga kakak lagi, pasti dia ingin bahagia dengan wanita yang di cintainya."
"Kakak nggak ngerasa dia terpaksa."
"Itu karena kakak waktu itu sedang sakit, jadi kakak berharap lebih."
__ADS_1
"Tapi......"
"Kak, sewaktu kakak operasi aja, ada wanita lain menghampirinya, dan kakak juga jangan melupakan fakta bahwa bang Farhan di kelilingi wanita cantik dan muda, kakak ini hanya masa lalu bagi dia, jaga diri kakak sebelum kakak terlalu sakit hati."
Ana terdiam saat mendengarkan penjelasan dari adiknya. selama ini dia tidak pernah terpikir hal-hal yang seperti itu. Walaupun di antara mereka belum pernah mengucapkan kata cinta,
tapi ada yakin bahwa dia dan Farhan sama-sama saling menjaga.
Tetapi perkataan gladis juga ada benarnya. Dia tahu bahwa sejak berpisah darinya Farhan selalu dikelilingi oleh wanita cantik. Ana juga tahu bahwa Farhan adalah seorang player.
Melihat sang kakak terdiam, membuat Gladys meninggalkannya. Dia berjalan menuju kamarnya. Dia merasa sedikit bersalah kepada kakaknya. Namun dia harus memastikan perasaan keduanya saat ini.
Tidak begitu lama, Gladys nampak keluar lagi menenteng sebuah tas. Ana menoleh saat adiknya turun dari tangga.
"Mau kemana?"
"Mau cari angin sebentar kak, cari bahan juga buat tugas kuliah."
Ana hanya diam tanpa menjawab apa - apa.
Setelah Gladys pergi, ana juga bangkit dari tempat duduknya. Ia mengganti bajunya dengan baju yang lebih bagus. Ia ingin melihat Farhan ke tempat ia bekerja.
Ana masih belum di bolehkan mengendarai mobil oleh Farhan. Sehingga dia memesan taksi menuju kantor Farhan.
Ana telah sampai dilantai ruangan khusus CEO. Dia melihat sang sekretaris duduk di depan mejanya.
"Selamat pagi Bu."
"Pagi, bapak ada?"
"Ada Bu, tapi ada nona Gladys di dalam."
"Gladys?" tanyanya heran sendiri. Dia tidak tau apa maksud tujuan adiknya ke kantor suaminya.
Ana memberikan isyarat kepada sang sekretaris agar diam. Ana mencoba membuka pintu dengan perlahan.
Sedangkan di dalam ruangan Farhan, Farhan hanya sibuk melihat laptopnya tanpa peduli dengan Gladys. Ia sungguh marah dengan wanita yang satu ini. Dia heran kenapa Ana bisa mempunyai adik sekejam dan sekeji dia.
"Jadi gimana bang?" tanya Gladys.
__ADS_1
Farhan melihat bahwa pintu terbuka walaupun dengan pelan. Dia tau bahwa ada seseorang yang mencoba menguping pembicaraannya. Dia tidak yakin bahwa itu sang sekretaris. Dia berpikir itu adalah Aldo atau Karin.
"Bawa jauh - jauh perasaan kamu, mau saya cinta atau tidak dengan Ana bukan urusan kamu, yang jelas saya ini Abang ipar kamu, tolong hormati saya sebagai Abang iparmu, saya tidak mau masalah ini sampai ke telinga Ana, saya tidak mau dia sedih memiliki adik seperti kamu, adik yang tidak tau di untung."
"Tapi aku benar - benar mencintai Abang, kak Anapun menolak Abang waktu Abang menikahinya, bahkan dia memberikan syarat kepada Abang."
"Apakah kamu berharap Ana akan mati? kejam sekali kamu sebagai adik."
"Bukan seperti itu, aku mendoakan dia sembuh, tapi jika kalian tidak cinta kenapa harus bertahan, ada aku yang sangat mencintai Abang di sini."
"Tapi sayangnya aku tidak."
"Setidaknya masih ada satu pihak yang mencintai Abang, atau apa mungkin karena wanita kemaren?"
"Wanita kemaren tidak ada sangkut pautnya dengan kamu ataupun Ana."
"Apakah itu wanita yang Abang cintai, karena Abang nampak kecewa dengan dia."
"Jangan sok tau dengan urusan saya, mungkin dibandingkan kamu, dia jauh lebih baik, ya saya pernah mencintai dia setelah putus dari kakak kamu, tapi apa dayaa sama pengkhianatnya dengan kakak kamu, lalu apakah kamu akan berpikir bahwa saya akan kembali kepada penghianat."
Ana terkejut mendengar ucapan Farhan. Dia tidak tau bahwa Farhan masih dendam dengan dirinya.Dia berpikir selama ini Farhan sudah memaafkan dirinya, apalagi setelah tau cerita yang sebenarnya.
Ana mundur kebelakang. Ia berbalik untuk pergi. Sang sekretaris bingung melihat Ana pergi dengan menangis. Dia tidak tau apa yang terjadi.
Tidak lama kemudian nampak Gladys keluar dari ruang bosnya dengan berderai air mata. Di belakang wanita itu tampak Farhan sedang celingak-celinguk seperti mencari sesuatu.
"Dimana Aldo ataupun Karin?" tanya Farhan ke meja sang sekretaris.
"Tidak ada pak Aldo atau pun ibuk Karin pak."
"Apakah kamu yang membuka pintu?" tanya Farhan menatap sang sekretaris dengan tatapan tajam.
"Bukan pak, itu tadi ada ibu Ana, tapi tidak lama dia pergi sambil menangis." jawab Sang sekretaris dengan takut.
"Sial." ucap Farhan berlari mengejar Ana.
"Pak, siang ini ada meeting."
"Kamu aja yang pergi, jika tidak hubungi wakil CEO." ucap Farhan.
__ADS_1
Farhan berbalik ke dalam ruangannya mengambil tas serta kunci mobilnya. Dia lansung berlari mengejar Ana.
Farhan membawa mobilnya menuju rumah Ana. Dia tau bahwa wanita ini pasti pulang kerumahnya. Dia sangat paham tipe Ana. Jika dia bersedih maka rumahlah tempat tujuannya.