
Ana baru saja berlari ke rumah sakit saat tau bahwa Farhan kecelakaan. Walaupun dia sangat marah kepada suaminya, namun dia sangat takut kehilangan Farhan.
Ana berlari sekuat tenaga melewati lorong rumah sakit. Air matanya mengalir begitu saja.
"Bagaimana Farhan Karin?' tangan Ana kepada adik iparnya.
"Abang sudah di operasi, tapi belum siuman?" jawab Karin.
"Kenapa di operasi?" tanya Ana ketakutan.
"Sepertinya kepalanya terbentur stir sehingga ada pendarahan di otak." jawab Karin.
"Abang kamu tidak akan meninggalkan kakak kan Rin?" tanya Ana menangis.
Karin memeluk tubuh kakak iparnya. Dia tau bagaimana perasaan kakak iparnya saat ini.
"Abang adalah orang yang kuat, dia tidak akan apa- apa." jawab Karin.
Aldo datang setelah mengurus administrasi Farhan. Dia agak tertegun melihat sahabat dan istrinya menangis berpelukan.
"Insyaallah Farhan akan baik - baik aja, banyak berdoa ya." ucap Aldo.
"Masuklah na, Farhan pasti senang ada kamu." ucap Aldo.
Ana masuk kedalam ruang rawat inap Farhan. Dia melihat tubuh Farhan terbaring lemas di atas ranjang rumah sakit.
"Bangun Farhan, kamu mau tinggalkan aku?" tanya Ana menangis di sebelah kiri ranjang Farhan.
"Jika kamu benar sayang sama aku, kamu harus bangun." ucap Ana.
Ana hanya diam duduk di sana tanpa mau meninggalkan Farhan. Bahkan saat paman dan bibi Farhan menggantikan Ana, Ana tetap menolak. Ia tidak mau kehilangan momen merawat Farhan.Karena saat ia sakit, ia ingat betapa tulusnya Farhan merawat dirinya.
Ana terbangun di tengah malam. Ia mengucek matanya berharap apa yang terjadi adalah mimpi. Tapi ketika ia menemukan Farhan tetap terdiam tidak jauh darinya membuat ia sadar bahwa itu semua nyata.
Ana beranjak mendekati Farhan yang masih terbaring diam. Ia meraih tangan Farhan lalu membawanya ke pipinya. Air matanya meleleh lagi. Entah kenapa hati ya begitu sakit saat mengetahui Farhan belum kunjung bangun.
"Han bangun."
...****************...
__ADS_1
Sudah dua hari Ana menemani Farhan di rumah sakit. Tidak sedetikpun ia tampak meninggalkan kamar inap Farhan. Walaupun keluarga Farhan mengunjunginya dan menyuruhnya istirahat, tapi tetap saja Ana menolak. Gladys juga menyuruh kakaknya pulang beristirahat, namun tetap saja Ana tidak mau. Baginya setiap momen harus ada di samping Farhan.
"Kamu nggak kangen sama aku? kamu nggak ingin kita berantem lagi." ucapnya dengan Isak memenuhi ruangan.
"Han, aku sangat sayang sama kamu, jangan tinggalkan aku, aku tidak tau tanpa kamu." ucap Ana menangis di hadapan Farhan.
"Tolong bangun, aku janji tidak akan marah soal foto itu lagi." ucap Ana dengan sedih.
Ana tidak mau tau dengan cerita insiden yang menimpa Farhan . Dua hari yang lalu di urus oleh Aldo dengan cepat. Yang ia pikirkan adalah bagaimana agar Farhan bangun dari tidurnya.
"Han, aku marah jika kamu nggak bangun, kamu jahat tau nggak jika tinggalin aku lagi." tangisnya pecah lagi.
"Ayolah gan,aku bahkan belum bilang cinta sama kamu, bangunlah han."
Ana tidak tahan dengan suasana seperti ini. Dia menunduk dan membenturkan keningnya tepat di sebelah tubuh Farhan.
Hanya suara tangis Ana yang terdengar memenuhi ruangan rumah sakit. Dia tidak tau bahwa bisa sehancur ini ketika Farhan hanya terbaring diam.
****************
"Na pulanglah dulu, kamu butuh istirahat." ucap bibi Farhan baru saja kembali kerumah sakit.
"Nggak bi, aku nggak mau pulang jika Farhan belum bangun." jawab Ana dengan malas. Ia berjanji akan pulang setelah Farhan bangun.
Ana belum terlalu stabil dengan kesehatannya. Dia masih harus banyak beristirahat.
"Bi aku takut jika Farhan pergi saat aku tidak di sini." ucap Ana sangat takut sekali.
"Pemikiran apa itu Ana, kamu itu seorang istri yang pintar,tadi dokter bilang kan perkembangan Farhan bagus, kita hanya menunggu dia sadar." ucap bibi Farhan ingin menyadarkan Ana.
"Maaf bi." ucap Ana menundukkan wajahnya.
"Kamu semangat, kita sama - sama berdoa untuk kesembuhan Farhan ya." ucap bibinya memeluk anak menantunya.
"Bu Farhan akan bangun kan?."
"Iya sayang, hari ini kamu pulang ya, nanti biar Paman yang jaga."
"Bagaimana jika Farhan sadar, tapi aku tidak ada di sini bi, nanti Farhan mencari aku bi." ucap Ana ngeyel.
__ADS_1
"Paman akan menghubungi kita, percaya deh." bujuk bibi Farhan.
"Aku tidak mau kehilangan Farhan bi, aku tidak mau saat aku pergi Farhan kesepian, lagian aku di rumah tapi pikiranku di sini, maka aku juga nggak bisa istirahat juga." ucap Ana membujuk bibi Mirna.
"Hari ini kamu harus beristirahat, kita akan kan hotel sekitar sini, agar kamu lebih gampang ke sini." bujuk bibinya
Melihat usaha bibinya membuat Ana juga patuh. Dia juga merasa tidak enak hati jika harus menjawab bibinya terus menerus. Dia tau bahwa bibinya hanya mengkuatirkan kesehatan dirinya.
"Han aku istirahat sebentar ya, besok aku kembali ke sini, jangan lama lama tidurnya, nanti aku ngambek." ujar Ana.
Vina dan Frans adiknya Farhan membawa Ana menuju hotel terdekat. Mereka juga bisa beristirahat tanpa harus bolak balik terlalu jauh dari rumah mereka.
Di tempat lain, Gladys sedang duduk diam bermenung. Dia melihat akhir - akhir ada perubahan pada sikap Rimba kepadanya.
"Kenapa Anak itu berubah drastis? apa ada omongan wanita itu yang tidak benar sehingga Rimba menjadi seperti ini?" Tanya Gladys curiga.
"Ini juga, dua hari ini nampaknya sikap mas Erikpun seperti berubah." ucap Gladys.
Glady mencoba menghubungi Erik. Namun hasilnya mustahil.
Tidak lama setelah itu, barulah nampak Erik masuk ke kamarnya.
"Darimanapun kamu mas?"Tanya Gladys lansung agak emosi.
"Aku ada urusan, ini Rimba sakit pula, mana aku jenguk Rimb setelah ini." ucao Erik.
"Bawa aja dia pulang."
"Aku masih bingung apa yang terjadi dengan saat kamu bersama Rimba, sehingga dia sangat takut melihat kamu, bahkan dia berteriak bilang kamu jahat." tegur Erik.
"Aku juga nggak paham, saat itu Rimba hanya main sama mamanya, setelah itu eh dia ngomong kasar.
"Aku rasa ini hasutan dari matan istri kamu." ucap Gladys dengan yakin.
"Jangan menuduh sembarangan Dia, mas nggak suka kamu bicara tanpa bukti, mungkin sikap kamu yang harus di rubah." ucap Erik agak kesel ketika Gladys menuduh Elda.
Erik yang kepala akhirnya pergi meninggalkan Gladys. Dia ingin menuju rumah mantan istrinya.
Gladys semakin kesal saat ia melihat suaminya pergi meninggalkannya demi jandanya.
__ADS_1
"Awas aja kamu nanti." ucap Gladys kesal sendiri.
"Dia lebih peduli mantannya daripada aku, liat aja sendiri." ucap Gladys semakin kesal.