Nikahi Dia Demi Aku

Nikahi Dia Demi Aku
Bab 31


__ADS_3

Semenjak Farhan sakit, Karin selalu datang merawat abangnya itu. Tidak lupa Karin juga membawa ana ke rumah Farhan yang lama. Farhan bahkan lupa bahwa dia telah membeli rumah untuk keluarga barunya.


Farhan sudah biasa dengan kedatangan Ana. Bahkan Farhan terkadang memperhatikan wanita itu. Entah kenapa hatinya selalu bergetar saat melihat wanita itu.


"Sepertinya ada yang salah, kenapa hatiku selalu bergetar saat menatap dia, ingin rasanya merangkul dia." ucap Farhan dalam hati.


Karin selalu melihat abangnya menatap Ana dalam diam. Walaupun abangnya amnesia, tapi ia yakin bahwa hati abangnya masih bersama dengan Ana.


"Kak dekati dia dengan pelan - pelan." ucap Karin.


"Iya." jawab Ana.


"Han, kamu kapan masuk ke kantor?" tanya Ana duduk di samping Farhan.


"Nanti liat situasi dulu, Rin kamu tau nggak kemana Rosa, kok abang hubungi nggak di respon.?" tanya Farhan teringat dengan Rosa.


Ana bersedih ketika Farhan menanyakan Rosa di hadapannya. Tapi dia menyembunyikan kesedihannya.


"Nggak tau bang, mungkin kerja." jawab Karin seadanya.


"Bang, ada yang jual rumah, Abang mau nggak beliin untuk Karin." tanya Karin juga duduk di sebelah kiri abangnya.


"Suamimu kaya, belikan sama dia."


"Tapi kan Abang belum pernah beliin karin rumah, ingat bang keponakan Abang banyak loh, ya bang." rengek Karin.


"Ya udah, silakah di urus."


"Menurut Abang bagus nggak rumahnya?" tanya Karin memperlihatkan foto rumah Farhan dan Ana.


Farhan melihat foto rumah yang ada di ponsel adiknya. Dia terdiam saat melihat foto rumah itu.


"Rumah ini kayak familiar sama Abang." ucap Farhan mencoba mengingat sesuatu.


"Abang yakin?" tangan Karin semakin penasaran.


"Iya, tapi mungkin perasaan Abang aja, atau apa Abang pernah melihat rumah ini untuk mempersiapkan pernikahan dengan Rosa." jawab Farhan.


"Nggak mungkinlah bang, kapan kita bisa liat bang?" tanya Karin.


"Nanti - nanti aja." ucap Farhan.


Tiba-tiba Farhan merasakan kepalanya pusing. Kali ini bukan pusing karena kecelakaan itu. Tapi dia merasa perutnya sangat mual saat ini.


"Hoek hoek.'" Farhan berlari menuju kamar mandi di dapur.


Ana dan Karin bingung melihat Farhan yang nampak kurang enak badan. Mereka segera menyusul Farhan di kamar mandi dapur.

__ADS_1


" Abang nggak apa-apa?" tanya Karin.


"Sini Ana pijit." ucap Ana.


Melihat tangan wanita itu dengan lancang memijit dirinya membuat Farhan kesal. Tapi kekesalan itu hilang saat ia mencium aroma tubuh wanita itu.


Kepalanya sudah tidak pusing lagi. Bahkan ia juga tidak merasakan mual lagi.


"Di sana aja." ucap Farhan.


Ana dan Karin mengikuti langkah abangnya menuju ruang tengah. Farhan lansung duduk di kursi sedangkan Ana hanya berdiri saja tanpa melakukan apapun.


"Katanya mau bantu aku pijit, kok berdiri di sana aja." ucap Farhan yang entah kenapa tidak suka melihat Ana terlalu jauh berdiri dari dirinya.


Ana mendekati Farhan yang duduk di kursi. Lalu ia memijit tubuh Farhan. Sedangkan Karin tersenyum melihat keduanya.


"Kok wangi tubuhnya enak, rasanya aku tidak bisa jauh dari tubuhnya." ucap Farhan dalam hatinya.


Saat Ana memijit Farhan, tiba-tiba Rosa datang dari luar. Dia kaget saat melihat Ana memijit Farhan.


Rosa tidak membiarkan Farhan di pijit oleh Ana begitu saja. Walaupun dia tau bahwa wanita itu istri dari lelaki itu, namun ia tidak rela. Dia berjanji akan mengurus semuanya selagi Farhan lupa ingatan.


"Biar aku aja yang mijit." ucap Rosa datang lansung menyingkirkan Ana.


"Biar aku saja, nanggung." ucap Ana masih mode sopan.


"Kamu nggak mau aku pijit lagi?" tanya Rosa pura pura mengambek.


"Ya udah sini." ucap Farhan membawa Rosa dalam pelukannya.


Tapi ada yang aneh dengan. perut Farhan. Ketika Rosa mendekatinya tiba - tiba perutnya mual kembali.


"Parfum kamu apa yang? kok bau seperti ini buat kepala aku sakit." ucap Farhan menutup hidungnya.


Karin dan Ana tersenyum mendengar ucapan yang keluar dari mulut Farhan. Sedangkan Rosa semakin marah.


"Apaan sih yang, Parfum aku masih yang lama kok, Kan biasa kamu beliin." jawab Rosa.


"Menjauh dulu sebentar." mohon Farhan yang masih pusing.


Farhan ingin kembali menghirup aroma tubuh Ana. Dia merasa semua ada yang salah dengan dirinya sendiri.


Karin dengan sengaja meninggalkan keduanya. Dia berharap muncul nostalgia di antara mereka berdua.


...****************...


Erik pulang kerumah lamanya. Di sana ia duduk menatap wanita yang bermain bersama anaknya.

__ADS_1


Elda adalah pacar Erik di masa lalu. Erik sangat senang saat mereka akhirnya naik ke pelaminan.


Erik sangat mencintai Elda, namun wanita itu berani mengkhianatinya. Wanita itu bahkan dengan teganya menyewa gigolo untuk memenuhi hasratnya itu.


"malam ini kamu nginap di sini lagi?" tanya Elda tersenyum manis.


"Tidak, aku akan pulang membawa Rimba."


"Tapi dia tidak akan mau, biar Rimba di sini bersama aku." ucap Elda.


"Tapi aku akan tetap membawanya." ujar Erik.


"Coba aja aku tidak pernah melakukan kesalahan, pasti rumah tangga kita baik - baik aja, apa nggak ada pintu maaf untuk aku mas?" tanya Elda.


Erik bingung menanggapi ucapan Elda. Jujur hanya wanita ini yang mampu mengetuk pintu hatinya.


Tiba-tiba ia teringat wajah Gladys yang menunggunya di rumah.


"Maaf aku sudah memaafkan kamu, tapi aku sudah menikah." ucap Erik.


"Tapi ini demi anak kita, dia nggak sayang dengan anak kita mas." ujar Elda mencoba mempengaruhi Erik.


Elda dengan lancang memeluk Erik dari belakang. Ia juga meraba dada lelaki itu.


"Lepaskan Elda." ucap Erik kesal.


Wanita itu memang pernah di hatinya, namun ia tidak suka wanita itu meraba dadanya tanpa malu.


"Mas, kembalilah demi anak kita agar anak kita merasakan kasih sayang mama dan papanya dengan utuh." ucap Elda mencoba memeluk Erik lagi.


Erik berdiri dari tempat duduknya sambil melepaskan pelukan wanita itu. Wanita itu memang yang ia cintai, tapi rasa sakit yang di lakukan wanita itu tidak akan pernah ia lupakan.


Ia lalu berjalan meninggalkan Elda dengan bergegas. Sedangkan Elda nampak sangat kesal ketika Erik memilih meninggalkannya.


Erik memacu mobilnya menuju rumahnya. Setelah meminum air yang di suguhkan oleh Elda. Dia merasa kepalanya pusing.


"Sial wanita murahan." ucap Erik dengan marah.


Ia tau apa yang terjadi dengan tubuhnya saat ini. Dia yakin ini adalah perbuatan yang tidak lain adalah mantan istrinya.


Erik segera menuju kamar ia dan Gladys di lantai dua. Jiwanya bergejolak saat melihat wanita itu memakai baju tidur yang transparan.


Gladys lansung kaget saat melihat suaminya pulang ke rumah dengan tatapan yang tidak bisa di artikan. Lelaki itu lansung berjalan dan membawa wanita itu ke kasur yang ada di kamar mereka.


Erik lansung mencium bibir wanita itu dengan menuntut lebih. Gladys tidak mau kalah, dia juga membalas ciuman Erik yang menuntut.


Ciuman itu terlepas dan Erik melanjutkan ke daerah leher wanita itu. Erik tidak bisa menahan hasratnya ketika mendengar suara ******* wanita itu.

__ADS_1


__ADS_2