
Gladys kaget saat pintu kamarnya di gedor - gedor oleh sang bibi. Dia bangkit dari tidurnya dengan perlahan. Dia takut pergerakannya membangunkan Rimba.
Gladys berjalan menuju pintu kamar. Ketika dia membuka pintu, dia kaget karna di balik pintu bukan pembantunya akan tetap Erik.
Erik terdiam saat melihat Gladys membuka pintu. Dia terdiam melihat apa yang ada di depan matanya. Baju yang di kenakan Gladys sangat tipis sehingga memperlihatkan bentuk lekuk tubuh wanita itu.
Gladys tersadar dengan arah tatapan mata Erik. Dia langsung menutup pintu sambil berteriak kaget.
"Dasar lelaki mesum." teriak Gladys.
"Hati - hati bicara, kamu sendiri yang berniat menggodaku kan? makanya kamu sengaja membawa Rimba kesini, karena kamu tau aku akan mencari Rimba ke sini." terdengar suara Erik dari balik pintu, karena pintu kamar tidak tertutup rapat.
"Ngapain juga kamu ke sini, dah sana pulang." usir Gladys.
"Aku mau menjemput anakku, lagian kenapa kamu membawanya ke sini."
"Dia tertidur, aku tidak tega mengantarnya pulang, maka aku bawa ke sini." jawab Gladys.
"Aku hargai cara kamu mendekati Rimba, sangat suka dengan papanya kan?"
Gladys semakin kesal dengan kepedean lelaki yang berada di balik pintu itu.
"Kamu bisa menyingkir dulu nggak sih, aku mau tutup pintu ini, mau ganti pakaian."
Erik membiarkan Gladys menutup rapat pintunya. Dia menunggu Gladys di kursi yang tidak jauh dari kamar Gladys.
Tidak sampai 15 menit Gladys keluar sambil menggendong Rimba. Erik tersenyum saat melihat Rimba sudah bangun.
"Papa." teriak Rimba girang.
"Udah bangun nak? yuk pulang." sang papa mengambil alih menggendong Rimba.
"Kapi pa limba Aci ingin ma mama Adis (Tapi pa Rimba masih ingin sama mama Gladys)." ucap Anaknya dengan manyun.
"Besokkan masih bisa jumpa." jawab sang papa.
"Limba ape, ua di uapin mama Adis( Rimba lapar, mau di suapin mama Gladys)" ucap sang anak meminta di Gending oleh Gladys.
Gladys bingung pada awalnya. Karena dia tidak pernah membujuk Rimba agar mau dekat dengannya.
"Kenapa anak ini mau sama aku? padahal aku nggak ada ngapa - ngapain?" tanya Gladys dalam hati.
__ADS_1
"Nak mama Gladys sedang capek, kita cari makan di luar aja ya." bujuk sang papa.
Erik tidak tau kenapa anaknya begitu mudah dekat dengan Gladys. Dia tidak tau apa yang di lakukan oleh wanita itu kepada anaknya.
"Kapi mama Adis Ayus ikut ( Tapi mama Gladys harus ikut)." ucap Rimba.
Gladys memang merasakan perutnya juga sedang lapar. Ia menawarkan diri makan di rumahnya saja.
"Makan di sini aja gimana? sepertinya bibi udah masak."
"Au au ( mau mau)" jawab Rimba lansung minta turun dari gendongan sang papa.
Ia berjalan mengikuti langkah kaki Gladys. Entah kenapa Rimba sangat menyukai Gladys saat ini.
Erik hanya ikut mengikuti langkah kaki Gladys sambil menghela nafas. Dia tidak bisa menolak keinginan sang anak.
Sesampai di dapur, Karin tidak melihat lauk yang sudah di masak. Ia baru ingat bahwa memerintahkan bibinya agar tidak masak karena ia sangat jarang makan malam dirumah.
"Maaf, aku lupa bahwa aku jarang makan di rumah, kita makan di luar aja ya." ucap Gladys dengan tersenyum terpaksa.
Senyum di wajah Rimba tanpa menghilang. Erik melihat semua itu.
"Rimba ingin makan di sini, kamu masak aja."
Gladys memang pernah memasak. Akan tetapi ia sangat jarang memasak di dapur rumahnya. Dia hanya memasak membantu mamanya saat mamanya masih hidup.
"Papa aja yang asak, angan mama Adis, Asian mama Adis pa ( papa aja yang masak, jangan mama Gladys, kasihan mama Gladys pa)." ucap Rimba membuat Erik menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Jika kamu memihak mama Gladys terus, papa bisa kalah terus nak." ucap Erik melangkah menuju kulkas yang ada di dapur.
"Papa laki-laki, mama Adis wanita Ayus di indungi ( papa laki-laki, mama Gladys wanita harus di lindungi)."
Gladys tersenyum mendengar jawaban Rimba. Dia langsung langsung menggendong dan mencium pipi Rimba sepuasnya.
"Kamu gagah sekali, sayangnya mama Gladys, kita harus kompak selalu ya, agar kita tidak mudah di kalahkan." ucap Gladys sambil mencium sang anak.
Rimba tertawa saat Gladys menciumnya. Sedangkan bibir Erik melengkung melihat semua keakraban Gladys dengan Rimba.
"Bahkan Rimba nggak sedekat ini dengan mamanya." ucap Erik dalam hatinya sambil memasak.
Setelah selesai masak,Erik lansung menghidangkan makanannya di meja makan.
__ADS_1
Mereka makan dengan senang. Apalagi Rimba yang di suapi oleh Gladys. Dia makan dengan lahap sekali. Erik memperhatikan cara Gladys menyuapi Rimba. Erik melihatnya tidak ada yang istimewa di lakukan wanita itu. Namun anaknya begitu lengket padahal baru satu hari bersama.
"Habis makan kita pulang ya." ucap Sang papa.
"Limba AU bobok Ama mama Adis pa, enak kidur ma mama Adis, di eluk - eluk (Rimba mau bobok sama mama Gladys, enak tidur sama mama Gladys di peluk)." jawab sang anak memeluk Gladys.
"Nak mama Gladys capek, nanti kamu nangis minta pulang malam - malam, siapa yang mau antar?" tanya Erik dengan lembut.
"Mama Adis bobok lumah limba aja ( mama Gladys bobok di rumah Rimba aja)." ucap sang anak.
"Nggak bisa nak, nanti ada waktunya, malam ini kita pulang dulu ya." bujuk Erik.
"Limba au bobok cini aja, olehkan mama(Rimba mau bobok sini aja, bolehkan mama)?" tanya Rimba.
Gladys bingung harus menjawab apa. Dia tidak tau harus mengurus anak kecil. Tapi ia tidak bisa menolak permintaan Rimba. Karena mata anak itu berharap dia mengiyakan keinginannya.
"Tapi Rimba harus janji jangan nangis malam - malam ya." ucap Gladys.
"Iya."
"kamu yakin? nanti dia cariin aku loh." ucap Erik tidak yakin karena dia tau bagaimana jika Rimba terbangun tengah malam yang selalu mencari dirinya.
"Aku coba dulu, jika nanti dia nangis kamu kesini aja." jawab Gladys dengan polos.
"Kamu kira ruang kita bersebelahan." jawab Erik kesal karena Gladys asal jawab.
"Ya sudah, biar aku yang antar nanti."
"Aku tidak mau merepotkan kamu."
"Aku nggak repot." jawab Gladys dengan cepat.
Gladys merasa ada bagusnya ada Rimba agar ia punya teman tidur.
"Udah kamu pulang aja sana, jika kamu malas pulang, kamu bisa tidur di kamar tamu." ucap Gladys asal.
"Apa kamu selalu menawarkan lelaki tidur di rumah kamu?" tanya Erik membuat Gladys kesal.
"Aku tidak semurahan itu, udah sana kamu pulang aja sana, jika kamu nggak bisa menyenangkan orang lain lebih baik diam aja." ujar Gladys meninggalkan Erik sendirian di dapur.
Ia tidak lupa menggendong Rimba bersamanya. Erik hanya terdiam melihat anaknya di bawa wanita itu.
__ADS_1
"Kenapa dia lebih berkuasa atas Rimba dari pada aku?" tanya Erik bangkit dari duduknya.
Erik berjalan meninggalkan rumah Gladys. Ia tau bahwa di mobilnya ada baju Rimba. Erik mengambil baj Rimba lalu memberikan kepada sang pembantu rumah tangga.