
Mezza sedang berdiskusi dengan uncle Amar dan rey mengenai operasi yang cocok di lakukan untuk Ana. Mereka nampak di ruangan dokter Amar didepan komputer.
"Jadi jenis operasi mana yang akan kita lakukan dok?" tanya dokternya kepada sang mertua yang kebetulan sebagai dokter juga.
"neuroendoskopi ."
"Apa alasannya dok? kenapa tidak menggunakan operasi Ommaya reservoir?" tanya Rey.
"Prosedur neuroendoskopi dapat dilakukan untuk mengangkat sebagian atau seluruh tumor yang terletak di area yang terisi cairan otak (ventrikel). Operasi kanker otak ini juga bisa menyedot penumpukan cairan di otak." ucap Amar menerangkan.
Rey sebagai dokter Bedah paham maksud pembicaraan dokter Amar. Akan tetapi dia masih ragu dengan pilihan yang di ambil oleh dokter Amar.
"Pada operasi ini, dokter biasa akan membuat lubang kecil di kepala untuk memasukan alat yang disebut endoskop. Alat ini terdiri dari tabung panjang dan dilengkapi dengan kamera yang bisa terhubung dengan monitor dalam lensa mata yang dipakai dokter bedah."
"Untuk hal itu saya juga tau Dok." jawab Dokter Rey.
"Melalui endoskop, kita bisa melihat bagian dalam otak untuk menemukan lokasi tumor ganas. Di ujung endoskop juga terdapat tang dan gunting yang bisa digunakan oleh dokter untuk mengangkat tumor otak." jawab dokter Amar.
Mezza tertawa dalam hati ketika uncle Amar menjelaskan. Mezza tau bahwa dokter Rey paham dengan jenis operasi ini, namun pertanyaannya dokter Rey adalah apa alasan dokter ini melakukan operasi jenis itu.
"Kamu tau tentang Ommaya reservoir?"
"Tau dok."
"Coba kamu jelaskan." pinta dokter Amar.
"Operasi kanker otak tidak hanya dilakukan untuk mengangkat tumor dari jaringan otak. Dokter bisa menyarankan pasien menjalani operasi untuk pengobatan kemoterapi atau disebut juga dengan prosedur Ommaya reservoir." Dokter Rey menjelaskan.
"Lanjut."
"Pada prosedur ini, dokter akan membuat lubang kecil di kepala yang menembus tulang tengkorak Setelah itu, dokter akan memasang tabung fleksibel yang dapat terhubung dengan ventrikel yaitu area yang terisi oleh cairan otak (serebrospinal)."
"Lalu?" tanya dokter Amar.
"Melalui selang ini, obat-obatan kemoterapi selanjutnya akan dimasukkan sehingga bisa dialirkan melalui serebrospinal ke jaringan otak yang terdampak."
Dokter Amar nampak menganggukkan kepalanya karena apa yang dijelaskan oleh dokter Rey betul.
"Cara seperti ini bisa membuat pengobatan kemoterapi yang dilakukan lebih efektif, terutama ketika tumor ganas tidak dapat diangkat secara langsung dari otak." lanjut dokter Rey.
"Untuk keperluan pemeriksaan, dokter juga bisa mengambil sampel cairan serebrospinal dengan cara ini." lanjutnya.
"Lalu apakah tindakan tersebut tanpa operasi?"
"Tapi tindakan tersebut juga beresiko pendarahan, bahkan pembengkakan di otak dok."
"Posisi tumornya vertikal, jadi menurut saya lebih muda memakai jenis operasi yang saya sebut tadi."
"Baik dok jika begitu." jawab dokter Rey.
__ADS_1
"Besok kita siapkan, dan kamu Mezza tolong di cek pasiennya, jenis bius mana yang harus kamu pakai."
"Baik dok, saya akan usahakan sebaik mungkin."
"Bagus."
Mereka berpisah dari kamar tersebut. Mezza dan Rey keluar dari ruangan dokter Amar. Sedangkan dokter Amar kembali membaca hasil MRI di komputernya.
...****************...
Ana nampak sedang duduk di meja makan menunggu Farhan turun dari kamar. Dia dan Farhan memang tinggal di rumah Ana. Ana tidak tega untuk meninggalkan Beby sendirian.
Ana sudah memasak beberapa menu sejak pagi. Dia mengerjakan semua di bantu oleh bibi asisten rumah tangganya.
"Kok Farhan lama sekali." ucap Ana bertanya dalam hatinya.
Saat Ana siap untuk berdiri menjemput suaminya, dia terdiam terkesima melihat sang suami turun berbarengan dengan sang adik. Mereka nampak saling tertawa.
Ana bingung entah apa yang mereka obrolkan. Hati kecil Ana lagi - lagi terkecil hati. Tapi ia tidak tau apa yang akan dia lakukan saat ini selain diam diri.
"Kamu sudah di bawah kak?" tanya Gladys.
"Sudah sejak tadi." jawab Ana.
"kirain tadi kamu di mana An, yuk kita makan." ajak Farhan.
"Aku sudah siap makan, silakan kalian lanjutkan."jawab Ana sudah tidak nafsu untuk makan.
"Ya sudah, aku mau naik dulu." ucap Ana berpamitan pergi ke kamar.
Ana lansung berlari menuju kamarnya. Saat di tangga dia masih mendengar suara ketawa dari keduanya.
"Kenapa hatiku sakit saat mendengar mereka tertawa begitu? bukannya Farhan sudah janji akan menjaga perasaan aku." ucapnya sambil bersedih.
Ana membuka pintu kamar. Tiba-tiba kepalanya terasa sakit saat bini. Ana mengambil persediaan obat yang ada di kamarnya.
Ana meminum obat yang telah diberikan oleh Dokter Amar. Dia merasakan semangat untuk hidup kembali. Rasa sakit di kepalanya, membuat dia semakin semangat untuk sembuh dengan mengikuti langkah yang dilakukan oleh dokter.
Ana membaringkan tubuhnya di atas ranjang miliknya Ia mencoba untuk memijit perlahan keningnya.
Sekitar 15 menit namun Ana masih belum bisa tertidur. Dia hanya memejamkan matanya sejak tadi sambil memijit keningnya.
Ceklek
Ana membuka matanya dan melihat Farhan masuk membawa sepiring nasi dan segelas air putih.
"Sakit lagi?" tanya Farhan duduk di tepi ranjang.
"Iya, sedikit."
__ADS_1
"Ayo makan dulu, biar minum obatnya."
"Sudah minum obat."
"Kenapa minum obat sementara belum makan?" tanya Farhan.
"Aku sudah....."
"Jangan berbohong, kamu belum makan kata bibi."
Ana terdiam karena tidak bisa mengelak lagi.
"Ayo bangun." Farhan membantu Ana bangun dari tidurnya.
Ana sudah duduk siap menjangkau piring yang ada di nakas sebelah ranjang. Namun Farhan lebih cepat mengambil piring tersebut.
Ana membuka mulutnya saat Farhan menyuapkan nya. Farhan menyuapkan dengan telaten. Ana merasa agak berselera untuk makan. Tidak terasa Ana sudah menghabiskan nasi yang ada di piring.
Setelah selesai makan, Farhan membantu memijit kepala Ana dengan lembut. Ana merasa nyaman karena pijitan Farhan. Tidak lama kemudian dia tertidur.
Farhan mengecup kening Ana dengan lembut. Ia berharap semoga sakitnya Ana segera di angkat. Sehingga dia tidak merasakan sakit seperti ini lagi.
...****************...
Karin nampak lelah karena mengurus anaknya yang rewel. Baru saja diam yang satu, tiba -tiba satu lagi menangis. Memang ada beberapa Beby sister yang membantu, namun Karin tidak tega meninggalkan anak-anaknya begitu saja.
Mendapati Karin tidak ada di kamar, Aldo mencarinya ke kamar Karin. Di sana ia melihat istrinya nampak kelelahan menggendong bayi wanitanya.
"Kenapa kamu nggak tidur sayang?" tanya Aldo.
"Dia nggak bisa tidur mas, padahal sudah aku kasih ASI."
"Beby sisternya kan ada."
"Tapi nggak bisa diam juga mas."
"Coba bawa sini." Aldo mengambil bayi perempuannya dari tangan sang istri.
Ketika di tangan sang papa, tiba-tiba si bayi terdiam. Dia tidak rewel seperti tadi lagi.
"Ohw kamu mau bobok sama papa nak?" tanya Aldo tersenyum melihat bayinya terdiam.
"Ayuk kembali ke kamar, yang bertiga biarkan sama Beby sister masing - masing, dia bawa ke kamar kita aja." Aldo membawa Karin kembali ke kamar mereka.
Sampai di kamar, Aldo menaruh Beby D di tepi kiri ranjangnya. Dia juga meletakkan dirinya di tengah sedangkan sang istri pas di sebelah kanannya.
"Di tengah aja taruh dia yang." ucap Karin.
"Nggak usah, biarkan dia di tepi sana karena mana bisa mas tanpa pelukan kamu, dia yang penting harus tidur dengan papanya " jawab sang papa.
__ADS_1
"Kamu ini aneh-aneh aja." ujar Karin mencubit pipi sang suami. Sedangkan suaminya hanya tersenyum memeluknya.