
Setelah beberapa hari setelah rapat membahas perjodohan di rumah Aldo, barulah Ana pulang ke rumahnya. Ana sudah memberitahu kepada adiknya bahwa ia pulang ke rumah.
Gladys begitu senang ketika mengetahui sang kakak pulang. Ia sudah berdiri di depan pintu rumahnya menunggu kedatangan sang kakak.
"Kakak, akhirnya pulang juga."
"Aneh sekali kamu ini, sok kangen kakak." ucap Ana masuk ke rumahnya.
"Kangen salah,nggak kangen juga salah." jawab Gladys mengikuti kakaknya masuk dalam rumah.
"Kakak mau bicara dengan kamu ."
"Ya dari tadi juga udah bicara."jawab Gladys duduk di samping sama kakak yang sudah duduk duluan di kursi tamu.
"Bukan begitu, ini tentang masa depanmu."
"Ada apa?"gladis merasa tidak enak dengan perasaannya.
"Kakak sudah menikah, Kakak juga tidak bisa kecapean, jadi kakak tidak bisa membantu banyak pengurus perusahaan, Kakak maunya kamu mengambil alih perusahaan keluarga kita."
"Tapi kan ada bang Farhan."
"Apa kamu bisa mempercayakan perusahaan kepada orang lain?"
"Bang Farhan bukan orang lain, dia suami kakak."
"Tapi bang Farhan juga sibuk dengan perusahaannya, Kenapa gak suami kamu aja yang mengurus perusahaan bersama dengan kamu." ucap Ana.
"Kakak lagi ngelawak ya? suamiku yang mana yang mau mengurus."jawab Gladys sambil tertawa.
"Kamu bisa menikah, kamu udah 19 tahun."
"Kak jangan ngelawak lagi, aku masih muda, masih ingin menikmati masa muda."
"Di umur segitu Kakak juga bertanggung jawab dengan perusahaan, Kakak maunya kamu juga boleh bertanggung jawab dengan perusahaan."
"kakak balas dendam? kak aku ini tidak sehebat kakak?"
"Maka untuk itu menikahlah dengan pilihan kakak." ucap Ana membuat Gladys semakin kaget.
"Kakak apa - apaan, aku masih belum mau menikah Kak, aku masih mau menikmati masa mudaku." jawab Gladys tidak terima dengan ide kakaknya.
"memang dengan menikah kamu tidak bisa menikmati masa muda kamu? kamu ini pewaris perusahaan, kamu harus fokusnya belajar dan fokus mengurus perusahaan." jawab Ana menatap adiknya.
"Emang bang Farhan keberatan mengurus perusahaan kita?" tanya Gladys.
"Bang Farhan nggak sanggup."
"Nggak mungkin, bang Farhan bisa aja menjatuhkan perusahaan kita dengan dia."
"Nggak bisa karena beda jenis industri, dia juga harus fokus menjaga kakak."
"Wuissss segitunya kalian ingin merepotkan aku."
"Merepotkan? belajarlah menjadi orang yang bertanggung jawab dek." ucap Ana.
"Kakak nggak ngerti jiwa aku, aku juga punya pacar kak."
"Pacar kamu bisa apa?"
__ADS_1
"Ya dia kan masih kuliah saat ini, ta bisanya hanya kuliah." jawab Gladys.
"Jangan membohongi kakak, Jika kamu punya pacar nggak mungkin kamu mau ingin menjadi istri bang Farhan saat itu, kamu mau menjadi istri bang Farhan artinya kamu siap menikah." ucapan Ana membuat Gladys kaget lagi.
"Bang Farhan cerita sama kakak?" tanya Gladys menatap sang kakak dengan perasaan campur aduk.
"Tidak."
"Terus tau darimana?" tanya Gladys penasaran.
"Kakak dengar sendiri dengan telinga kakak saat kamu mengucapkan dalam ruangan bang Farhan, sekarang gini dek, lelaki ini sangat baik, dia orangnya sabar, Kakak yakin dia bisa membimbing kamu menjadi istri yang baik, dan kakak juga yakin dia bisa memimpin perusahaan kita sampai kamu siap kerja." ucap Ana.
"Dimana kakak mengenal dia?"
"Bang Farhan yang mengenalkan, dia managernya Aldo." jawab Ana.
"Jadi bang Farhan yang cariin? segitu takutnya dia di ganggu aku?" tanya Gladys.
"Bisa jadi iya, bisa jadi tidak, dengan kamu menikah maka rumah tangga kamu juga akan aman, dan lelaki ini memang duda di umur 25."
"Duda? nggak mau." ucap Gladys kaget sang kakak mencarikannya duda.
"Hey duda terdepan sekarang." ucap Ana tersenyum melihat respon adiknya.
"Dari banyak lelaki di dunia ini kenapa harus dia? apakah istrinya mati?"
"Husss mulut mu, dia cerai hidup."
"Nah apa yang dibanggakan dari dia? dianya cerai dengan istrinya Kak."
Gladys bingung dengan pola pikir kakaknya yang mencarikannya duda.
"Hey dengar dulu, dia ini duda keren, dia cerai karena istrinya selingkuh."
"Kamu harus mau."
"Kakak nggak bisa maksa aku Kak, ini tentang hidup aku, ini tentang masa depan aku." Gladys berjalan meninggalkan kakaknya.
"Gladys kakak mohon, mau ya menikah demi kakak, biar kakak tenang melepaskan kamu."
Langkah kaki Gladys berhenti. Dia geram mendengar ucapan sang kakak.
"Jika begitu berhenti peduli kepadaku jika itu memberatkan bagi kakak."
Gladys mempercepat langkah kakinya menunjukkan kamarnya. Dia agak kecewa dengan sikap kakaknya.
" dek dengar Kakak dulu"teriakan Ana dari ruang tamu.
Gladys tidak peduli dengan teriakan sang kakak. Dia perlu memikirkan semuanya.
Sedangkan di kantor Aldo, nampak Farhan, Aldo dan Erik berada di ruangan Aldo. Erik agak kaget ketika dipanggil keruangan bosnya.
"Ada apa tuan?" tanya Erik duduk di sebelah Farhan.
Erik kenal dengan ipar Aldo ini. Karena Farhan memang sejak dulu datang sekedar bermain.
"Aku mau minta tolong dengan kamu Rik." ucap Farhan.
"Ada apa ini?" tanya Erik bingung.
__ADS_1
"Kamu bantu aku memajukan perusahaan keluarga istriku."
"Bapak yakin?"
"Tapi ada lagi." ucap Farhan agak ragu ragu.
"Begini Rik, pak Farhan ini iya seorang ipar, jadi sedang mencari seseorang suami,nah yang kami rasa kamulah kandidat yang cocok untuk posisi itu." ucap Aldo menerangkan.
Erik sangat kaget mendengar penuturan dari bosnya. Ia tidak menyangka bahwa pekerjaannya ada syarat tertentu.
"Maaf tuan Aldo dan pak Farhan, saya rasa saya bukan kandidat yang cocok, mungkin Bapak atau tuan bisa mencari laki-laki yang lain, Saya juga tidak bisa menerima pekerjaan yang ditawarkan atas dasar ada syaratnya tertentu."Jawab Erik.
Dia tidak mau di beli dengan jabatan.Menikah baginya sangat sakral dan ia tidak mau memaafkan situasi seperti ini untuk sebuah jabatan.
"Bukan maksud kami menukar semua itu dengan jabatan, tujuan awalnya hanyalah ingin menjodohkan dengan pak Erik, saya tadi sebenarnya salah bicara di awal."ucap Farhan.
Aldo juga merasa seperti itu. Menurutnya seharusnya Farhan tidak membahas soal perusahaan terlebih dahulu. Ini seperti tukar menukar jabatan. Hanya lelaki matre yang akan mau di jodohkan lalu dapat jabatan yang bagus.
"Iya, sebenarnya awalnya hanya ingin menjodohkan, kami sangat ingin kamu menjadi bagian dari keluarga kami, kami memang banyak kenalan, tapi kami hanya percaya dengan kamu." ucap Aldo.
Bagi Aldo dan Farhan tentu gampang saja carikan lelaki untuk Gelas. Tapi mereka tidak mau sembarang pilih.
"Pak rumah tangga saya pernah gagal."Erik menjelaskan kekurangannya.
"Itu bukan kesalahan kamu, kami juga tahu semua ceritanya." jawab Aldo.
"Tolong saya pak Erik, tolong nikahi dia." ucap Farhan agak memohon.
"Saya rasa bapak tidak pantas memohon seperti ini pak, saya hanya manusia biasa, lagian saya yakin adik ipar bapak adalah wanita yang cantik, yang tidak pantas aja bapak lakukan seolah dia tidak laku." jawab Erik.
"Cantik atau tidak dia akan banyak lelaki yang berebut karena kami memutuskan dia penerima tahta kerajaan bisnis keluarganya." jawab Farhan.
"Saya hanya percaya kepada Anda, saya hanya tertarik dengan anda." ucap Farhan lagi.
"Rik bolehkan saya yang meminta tolong, nikahi dia demi saya." ucap Aldo yang meminta.
Erik tidak bisa menjawab karena ini permintaan dari bosnya. Ia tau bahwa bosnya sudah begitu baik kepada dia. Dia tidak tahu cara membalas kebaikan bosnya.
"Apakah ini jalannya membalas budi?" tanya Erik dalam hatinya.
Ia ragu dengan perjodohan ini karena dia pernah gagal berumah tangga. Apalagi dia di jodohkan dengan seorang yang tidak di kenal nya.
"Sedangkan istri pertama dulu pacaran eh gagal juga." gumamnya dalam hati.
"Gimana Rik?" tanya Aldo.
"Tapi pak, saya takut orang akan berpikir saya memanfaatkan peluang ini." jawab Erik ragu.
"Bukannya peluang itu memang seharusnya dimanfaatkan dengan baik?" tanya Farhan sambil tersenyum.
"Sejak kapan kamu memikirkan omongan orang lain, itu bukan kamu bro."ujar Aldo yang sangat mengenal lelaki yang hanya terpaut 5 tahun dibawahnya.
"Semoga ini yang terbaik pak." jawab Erik.
Erik memang selalu nggak konsisten dalam memanggil Aldo. Kadang ia memanggil Tuan dan kadang pak Aldo.
Mendengar ucapan Erik, Aldo dan Farhan tersenyum lega. Mereka yakin bahwa Erik adalah kandidat yang terbaik.
"Minggu depan kita atur pertemuannya di rumah saya, setelah itu baru kita tentukan tanggal pernikahan." ucap Farhan.
__ADS_1
"Baiklah." ucap Erik.
"Baik, nanti kami kabari lagi ya Rik, terima kasih atas pertimbangannya." ucap Aldo.