
Karin sangat senang ketika mengetahui bahwa sang kakak sudah berdamai dengan istrinya. Apalagi ketika tahu bahwa Ana sudah tinggal kembali di rumah mereka.
Senyuman karir tidak hilang dari wajahnya ketika melihat kedatangan sang kakak dengan sang istrinya. Mereka nampak begitu mesra sekali ketika memasuki rumahnya.
"Jika begini terus maka karin akan senang sekali." ucap Karin aktifkan wajah yang bersinar gembira.
"Insyaallah kamu akan melihat kami seperti ini terus, kami akan mengalahkan romantisan kalian." jawab Farhan sambil tersenyum.
"Mana bisa begitu, kalian tetap saing dengan keromantisan kami." jawab Aldo memeluk istrinya.
"Kamu tau kan sejak sekolah bahwa kami adalah pasangan paling romantis." Farhan mengingatkan Aldo tentang julukan yang ia dapatkan zaman sekolah dulu.
"Itu dulu saat aku masih jomblo, sekarang beda karena semua karena Karin." jawab Aldo.
"Ini pada kenapa sih jadi sok paling romantis begini?" tanya Karin heran dengan sikap suami dan
kakaknya.
"Entah, aneh juga." ucap Ana tidak heran melihat kedua sahabatnya itu.
Ana teringat pada masa sekolah dahulu bahwa Kedua lelaki ini sering berdebat tidak jelas. Mereka tidak mau kalah satu sama lain. Akan tetapi keduanya saling mendukung. Ana ingat kembali bahwa hubungan mereka dengan sahabat tapi sudah seperti adik kakak.
"Jadi ke sini Abang hanya mau pamer kemesraan?" tanya Karin kepada abanganya.
"Aku ke sini sebenarnya jenguk kalian sekalian mau bicara dengan Aldo." ucap Farhan.
"Bicara apa?" tanya Aldo penasaran.
"Ini masalah Gladys." ucap Farhan.
"Kenapa lagi dia?" tanya Karin lansung bicara sebelum Aldo.
"Kami sangat kuatir dengan dia, apalagi saat kemaren dia sempat suka dengan abangmu, dan kami kepikiran juga dia tinggal sendiri maka kami berinisiatif mencarikan dia pendamping, semoga ini bisa membimbing dia dan membantu dia mengembangkan perusahaan." ucap Ana.
"Kalian berniat menjodohkannya dengan Aldo? aku nggak terima, anak kamu udah empat jadi tidak membutuhkan istri kedua lagi."jawab Karin dengan cepat.
Mendengar hal itu membuat Farhan tertawa terbahak bahak. Sedangkan Ana hanya diam karena tidak paham dengan ucapan Karin. Dan Aldo hanya kaget mendengar suami istrinya.
"Kenapa kamu berpikiran bahwa gladys akan dijadikan istri kedua? apa dia sejahat itu dipikiran kalian?" pertanyaan Ana membuat semuanya diam.
__ADS_1
"Bukan begitu sayang, dengarkan penjelasan aku." ucap Farhan sambil tersenyum.
"Apa?"
"Kamu mungkin tidak tahu bahwa dulu Aldo pernah menyewa artis bayaran untuk pura-pura akting, jadi perannya wanita itu waktu itu adalah sebagai calon istri kedua Aldo, dan wanita itu adalah adik kamu gladys." cerita Farhan sambil tersenyum karena mencoba menahan tawa ketika mengingat semua itu.
"Buat apa akting sampai segitu?" tanya Ana.
"Waktu itu tujuannya hanya ingin membuat karin cemburu, karena waktu itu cari ngotot ingin Aldo menikah lagi." jawab Farhan.
"Tapi untuk kandidat pemerannya Farhan yang cariin." jawab Aldo dengan cepat.
"Aku hanya ingat dia, dan untungnya dia mau karena sedang butuh uang katanya." jawab Farhan tertawa juga akhirnya.
"Astaghfirullah kelakuan anak itu." ucap Ana mengusap dadanya.
"Jadi waktu dia sering kerumah aku itu urusan itu." cerita Farhan kepada Ana.
"Aku pernah dengar cerita dari dia bahwa kamu marah saat dia sering ketemu aku, padahal itu kami sedang susun strategi." cerita Farhan lagi.
"Ini semua seperti nyata kak." ucap Karin.
"Dan ini tidak akan terulang dramanya di Pernikahan kita kan?" tanya Ana menatap Farhan.
"Ya nggak dong sayang, makanya kamu jangan suruh aku nikah juga, apapun itu yang terjadi antara kita pada masa depan nanti." ucap Farhan kepada Ana.
"Yup."
"Jadi apa hubungannya dengan aku?" tanya Aldo makin bingung.
"Aku mau minta tolong agar kamu mau mengatur perjodohan Gladys dengan manajer kamu." ucap Farhan.
Aldo kaget mendengar penjelasan Farhan yang duduk berhadapan dengannya.
"Kenapa harus Erik? saya tidak tahu gimana reaksi Erik ketika tahu dijodohkan dengan gadis seperti Gladys." ucap Aldo tidak bisa membayangkan respon Erik sang managernya.
"Erik lelaki yang tepat membantu Gladys yang agak nakal, apalagi dia itu sabar, dan dia cocok di jadikan pimpinan di perusahaan keluarga Ana." jawab Farhan.
"Memang Ana kenapa?" tanya Aldo.
__ADS_1
"Aku maunya Ana hanya fokus jadi rumah tangga, karena kesehatannya juga sangat penting, aku tidak mau dia kecapean." jawab Farhan.
"Iya, aku mau istirahat saja, biar perusahaan di ambil alih Gladys dan suaminya, makanya Carikan dia suami yang bertanggung jawab, bukan hanya mau harta keluarga kami." ucap Ana menjelaskan.
"Tapi Gladys masih muda, kasihan dia belum puas menikmati masa mudanya." ucap Karin sambil memikirkan kebebasan wanita itu akan di kekang di umur muda.
"Erik adalah lelaki yang sabar yang saya temui, saya yakin dia bisa menghandle wanita seperti Gladys." jawab Farhan.
"Tapi bang dia pernah gagal dalam rumah tangganya, dia nggak bisa mendidik istrinya." ucapkan mengutarakan pikirannya.
" Itu karena istrinya tidak tahu diri, dia bahkan berkali-kali selingkuh dengan lelaki lain, sebenarnya Erik saya udah lama, tapi dia masih mencoba sabar." jawab Aldo menerangkan tentang Erik.
"Tetap aja sih, kenapa nggak dengan asistennya Abang Farhan aja?" tanya Karin kepada Farhan.
Dia tidak mungkin menyarankan asisten Aldo pernah tahu sudah menikah.
"Asisten ku itu sudah punya pacar, kan nggak mungkin aku suruh putus." ucap Farhan.
"Besok saya coba bicara dengan Erik, semoga dia mau." ucap Aldo.
"Apakah kami memberi tau Gladys sebelum Erik tau?" tanya Farhan.
"Ada baiknya tanya Gladys dulu, nanti Erik mau eh Gladysnya kabur pula."jawab Karin.
"Gladys tidak punya nyali seperti itu." jawab Farhan yang mengenal Gladys.
"Iya, Gladys tidak akan berani berbuat begitu, dia nggak bisa hidup tanpa uang, nggak bisa hidup susah."jawab Ana yang kenal betul karakter adiknya.
"Ya, tapi tetap saja kasih tau Gladys terlebih dahulu." ucap Aldo.
"Baiklah, nanti siang saya akan pulang ke rumah." jawab Ana.
"Siang ini saya akan bicara dengan Erik, tapi apakah pernikahan ini akan secepatnya?" tanya Aldo kepada Farhan dan Ana.
"Jika bisa jangan terlalu lama, takutnya Gladys terlalu lama sendiri, dan perusahaan terbengkalai."
"Tapi Gladys itu sudah besar, nggak harus di jaga seperti itu juga,dan masalah perusahaan apakah bang Farhan nggak bisa bantu lagi?" tanya Karin masih belum sependapat dengan Ana dan Farhan.
"Gladys di nikahkan agar tidak terjadi yang tidak di inginkan, dia hobi clubbing, perusahaan di serahkan ke dia agar dia belajar bertanggung jawab melalui suaminya kelak." ucap Ana.
__ADS_1
"Jika itu sudah pembicaraan matang, kami hanya bisa mendukung yang terbaik." jawab Karin akhirnya paham dengan kekuatiran sang kakak.