
Ana telah di bawa pulang setelah kondisinya membaik. Semua pihak keluarga menjemputnya dengan gembira. Farhan dan Ana pulang ke rumah orang tua Ana sesuai dengan permintaan Ana. Farhan hanya mengikuti keinginan wanita itu tanpa protes apa - apa.
Gladys orang paling senang ketika kakak dan kakak iparnya kembali ke rumah orang tua mereka. Dia merasa tidak perlu capek-capek jika ingin bertemu dengan Farhan.
"Ah setiap hari akan melihat wajahnya, semoga setelah kak Ana sembuh, dia membuat keputusan." gumam Gladys dengan senang.
"Kamu ngapain senyum - senyum sendiri?" tanya Aldo merasa heran dengan adik temannya yang sedang tersenyum sendiri.
"Nggak bisa liat orang senang, suka ganggu aja." omel Gladys.
"Beraninya sekarang." Aldo mengacak rambut Gladys kesal ketika
"Aku sudah besar kak." ucap Gladys kesal ketika rambutnya di acak oleh Aldo.
Tanpa mereka sadari ada sepasang mata melihat aksi keduanya. Dia adalah Karin. Karin nampak kesal ketika suaminya tampak sedang bercanda dengan wanita itu.
Sebagai wanita ia cemburu, walaupun wanita itu adalah adik dari sahabatnya Aldo. Menurut Karin itu tidak pantas di lakukan oleh Aldo. Bahkan Aldo tidak pantas berbuat begitu ke sahabatnya apalagi adiknya.
Karin menahan diri agar tidak marah di depan yang lainnya. Sedangkan Ana paham dengan raut wajah Karin. Dia mengerti bahwa adik iparnya itu sedang cemburu.
"Gladys, kamu nggak kuliah?" tanya Ana kepada adiknya.
Ana paham bahwa adiknya tergolong agak ngeselin. Dia tau bahwa banyak wanita di luar sana kesal dengan sikap adiknya yang suka semaunya.
"Kan libur dulu kak, masa kakak pulang aku kuliah." jawab Gladys dengan cuek.
"Sana pergi kuliah, mana bisa bolos sesukamu."
"Aku mulai capek kak, belum pulang kuliah harus ke kantor."
"Hidup banyak bersyukur, di luar sana masih banyak orang yang berjuang untuk mencari sesuatu nasi." ujar Ana kesal dengan adiknya.
"Udah, tidak usah ribut, ini kepulangan kamu, nanti kamu stress, jika memang Gladys capek, biar aja dia fokus dengan kuliahnya." jawab Farhan.
"Tapi dia memang harus belajar bang, benar kata kak Ana,di luar sana banyak orang cari kerja untuk bisa hidup dan kuliah." ucap Karin membuat Gladys semakin kesal.
__ADS_1
"Kamu siapa? ikut campur mengurus aku?" tanya Gladys tidak terima dengan nasihat Karin.
"Aku orang yang pernah susah, orang yang bingung mau kerja apa, sementara mimpiku banyak, aku tidak mau mati kelaparan, aku tidak mau anak - anakku nanti hidup seperti aku, maka aku berpikir untuk memperbaiki pendidikan aku, sehingga aku bisa bekerja di tempat yang layak, jika aku punya dan kayapun saat itu, maka aku tetap memperioritaskan pendidikan aku." jawab Karin.
"Kamu sudah adik Farhan, mana mungkin kamu pernah hidup susah, kita itu dari kecil hidup berkecukupan, bahkan ketika kita tidak kerjapun, uang akan mengalir ke rekening kita."
"Kata siapa aku hidup senang? aku bahkan baru bertemu dengan bang Farhan ketika mengenal mas Aldo, kata siapa jika nggak bekerja keras maka rekening tetap terisi, kamu nggak belajar dari pengalaman kakak kamu, dia bekerja mati - Matian bahkan menikah dengan seseorang kepercayaan orang tua kamu, tapi apa yang dia dapat, perusahaan kalian tetap pailit, hampir gulung tikar jika..."
"Cukup Karin." ujar Ana entah kenapa kesal dengan Karin karena masa lalunya di bawa - bawa.
Dia ingin melupakan semuanya akan tetapi adik iparnya itu dengan lancang membahas itu kembali.
"Udah Karin, biarkan saja Gladys berbuat sesuka hatinya, masa depannya dia yang punya, jadi biarkan dia memikirkannya sendiri." ucap Aldo.
"Iya Karin, oke mungkin lebih baik kita makan kali ya, soalnya bibi udah hidangin masakan di meja makan." ucap mama Aldo tersenyum mencoba mengalihkan pembicaraan.
Menurut mama Aldo ucapan menantunya ada benarnya. Akan tetapi mungkin Karin bukan orang yang tepat menasehati adiknya Ana. Meskipun saat ini mereka sudah menjadi keluarga besar.
"Makan makan." ucap Aldo tersenyum.
"Ayo kita makan semuanya." ajak Farhan.
Mereka berjalan menuju meja makan. Gladys juga berjalan di belakang Farhan. Sedangkan Ana merasa bersalah. Tidak seharusnya dia bersikap seperti itu kepada Karin. Karena bagaimanapun Kariblah yang membantu dirinya. Jika tidak Farhan tidak akan Sudi menikahinya. Apalagi Farhan juga ikut membantu perusahaannya sehingga mulai stabil seperti ini.
Mereka makan sambil bercengkrama. Namun saat di meja makan, Ana merasa ada yang aneh dengan adiknya. Sang adik nampak sedang memandangi Farhan sambil senyum-senyum.
"Kenapa dia menatap Farhan seperti itu?" tanya Ana dalam hatinya.
"Apa Gladys suka Farhan? ah tidak mungkin, aku aja yang berpikiran negatif." Ana membuang negatif thinking yang ada dalam dirinya.
...****************...
Ana membuka matanya dengan perlahan .Setelah semua pulang, Ana beristirahat di kamarnya. Dia merasa lelah setelah pulang dari rumah sakit.
Ana tidak menemukan suaminya di kamarnya.Ana tidak tau dimana keberadaan suaminya itu. Karena saat tidur tadi, Farhan ada di sampingnya menemaninya.
__ADS_1
Ana turun dengan perlahan dari ranjang miliknya. Dia berjalan dengan perlahan keluar dari kamarnya mencari air putih.
Ketika di tangga dia melihat suami dan adiknya sedang asik bermain game. Keduanya nampak tertawa gembira tanpa menyadari kedatangan Ana.
"Mereka sangat cocok, bahkan keduanya punya hobi yang sama." gumamnya dalam hati.
Kali ini Ana mulai cemburu dengan keduanya. Tapi mengendalikan dirinya, karena dia tau bahwa Gladys hanya menganggap Farhan sebagai Abang. Apalagi mereka pernah dekat sejak Gladys kecil.
"Hmmmmm, kalian ngapain?" tanya Ana.
Mereka tersadar karena deheman Ana.
"Udah tau main game masih aja tanya kak, apa nggak ada pertanyaan yang berbobot gitu." ujar Gladys nampak mencemeeh kakaknya.
"Ayo lanjut bang, lagi seruh nih." ujar Gladys tanpa menatap Farhan.
Farhan yang sedang fokus melihat layar, tidak menjawab pertanyaan Ana. Dia hanya fokus bermain game.
"Yah kalah." ucap Gladys dengan nada agak kecewa.
"Kamu sih payah untuk di andalkan."
"Kak Ana tadi ganggu konsentrasi sih." ujar Gladys tidak mau di salahkan.
"Kok kakak?" tanya Ana bingung dengan pernyataan adiknya.
"Coba aja kakak tadi diam aja tanpa bertanya, pasti kami konsentrasi, ini game butuh konsentrasi." jawab Gladys.
"Ya sudah, lanjut ajalah." jawab Ana berjalan menuju dapur.
Farhan ikut berdiri ketika melihat Ana berjalan menuju dapur. Ketika Farhan berdiri, Galdys lansung menegurnya.
"Kemana bang? ayo mulai lagi mainnya agar misi kita selesai." ucap Karin menarik tangan Farhan agar duduk lagi di sofa ruang tengah mereka.
Ana melirik ke arah mereka ketika adiknya memegang tangan Farhan. Farhan tidak menolak di sentuh boleh adiknya.
__ADS_1
"Apa mereka sudah mulai dekat karena permintaan ku sendiri? bukannya aku yang meminta farhan untuk menikahi dia, tapi itu kan jika aku mati." ujar Ana dengan pelan.