
Akhir - akhir ini kepala Ana sudah agak jarang merasakan sakit. Semenjak meminum obat yang di berikan oleh Dokter Amar. Dia juga masih bisa menyelesaikan pekerjaan yang bisa ia kerjakan.
Ana masih ke perusahaan walaupun perusahaannya sudah di ambil alih oleh Farhan sang suami. Di perusahaan juga di bantu oleh Gladys. Walaupun wanita ini sedang kuliah, namun adiknya nampak sangat serius bekerja akhir - akhir ini.
Saat keluar dari ruangannya, dia berjalan untuk mencari makan siang. Dia tidak melihat Farhan sejak satu jam yang lalu, padahal lelaki ini jadwalnya di kantornya hari ini.
Dalam seminggu Farhan akan menyempatkan diri satu kali ke sana. Ana agak sedikit senang, setidaknya dengan bantuan Farhan perusahaannya kembali stabil. Apalagi sekarang ia juga bekerja sama dengan Arkarna Kontruksi.
Tiba-tiba langkah Ana terhenti melihat pemandangan yang tidak jauh dari tempatnya berdiri. Tidak jauh dia melihat Farhan dan gladys saling tertawa.
Mereka seperti pasangan yang sedang kasmaran. Mereka sungguh nampak saling mengisi.
"Kenapa hatiku sakit? bukannya ini memang tujuanku dari awal menikah?" gumamnya sambil berlinang air mata.
Ana heran dengan apa yang ia rasakan. Baru saja melihat kedekatan Farhan dengan sang adik, namun sudah berhasil menancapkan duri di hatinya.
"Apa ini? apa aku masih belum melupakan Farhan?" tanya Ana mengelus dadanya.
Tiba Ana segera menetralkan dirinya saat beberapa mata tertuju kepadanya. Ana Segeran menghampiri mereka dengan tersenyum.
"Kalian nggak pada mau makan?" tanya anak kepada adik dan suaminya.
"Kami udah makan." jawab Gladys tersenyum.
"Ohw gitu, Han aku mau bicara dengan kamu." ucap Ana menatap Farhan.
"Kenapa nggak disini aja?" tanya Farhan.
"Ini masalah kita berdua, ayo ikut aku." ucap Ana seperti memerintahkan anak buahnya.
Keduanya lansung berjalan keluar dari perusahaan. Mereka masuk ke dalam mobil milik ana.
"Kamu masih bawa mobil? kenapa ngeyel sekali." ucap Farhan ketika masuk kedalam mobil.
"Tadi di sopirin."
"Trus Sekarang mana sopirnya?"
"Ada keperluan sedikit, aku masih bisa."
"Biar aku yang menyetir, ayo pindah tempat."
"Kali ini biarkan aku, aku sedang baik - baik saja." jawab Ana.
Akhirnya Farhan hanya bisa pasrah ketika wanita itu memutuskan untuk menyetir. Dia hanya perlu berdoa agar kepala wanita itu tidak sakit.
Tidak lama akhirnya mereka sampai di restoran yang tidak jauh dari perusahaan. Mereka turun dari mobil berbarengan. Mereka berjalan menuju meja yang sedang kosong.
"Mau bicara apa?" tanya Farhan tidak sabar mendengar apa yang akan dibahas oleh Ana.
__ADS_1
"Tidak sabar amat, baru saja duduk, tunggu aku pesan makanan dulu." jawab Ana.
Ana memanggil pelayan restoran. Farhan hanya bisa menunggu wanita ini selesai memesan makanannya. Sedangkan Farhan hanya memesan secangkir kopi.
"Kenapa kamu terlalu dekat dengan Gladys?" tanya Ana memulai pembicaraannya dengan Farhan.
"Loh bukannya ini permintaan kamu?"tanya Farhan bertanya balik.
"Kapan aku meminta seperti itu, apa tanggapan orang lain terhadap hubungan kita Jika kalian terlalu akrab."
"Tapi kan kami butuh pendekatan agar jika kami menikah nanti, kami sudah tidak perlu penyesuaian lagi."
Jawaban Farhan membuat sakit hati Ana. Dia tidak tau kenapa bisa sesakit ini mendengar jawaban lelaki ini.
"Saya memang menyuruh kamu menikahi dia setelah saya pergi, tapi bukan berarti kalian bisa bermesraan selagi aku hidup, apalagi kalian lakukan itu di kantor atau di depan mataku."
"Aku bingung harus bagaimana, bukannya ini permintaan kamu, tapi mendengar ucapan kamu barusan seolah kamu cemburu dengan hubungan kami, padahal semua ini adalah rencana kamu, jadi saya harusnya seperti apa?"
Ana juga bingung dengan sikap dirinya. Dia juga tidak paham kenapa dia sangat cemburu melihat kedekatan sama suami dan adiknya.
"Kamu maunya aku sama Gladys atau bukan? jika tidak maka aku akan menjauhinya."
"Kenapa harus menjauhi? terserah kalian mau gimana, pusing aku memikirkan semua." jawab Ana.
"Ya harus jelas, kamu maunya aku seperti apa?" ucap Farhan dengan tegas.
"Kamu tetap menikahinya, tapi setelah aku tidak ada."
"Hey aku ini bukan mainan, hati aku ini sangat rapuh." jawab Farhan agak kecewa dengan Ana.
"Baik, kamu boleh pendekatan dengan Gladys, tapi aku mohon jangan di kantor, gosip di kantor agak lebih cepat beredar."
"Apakah di dalam kamar bolehnya?" tanya Farhan.
"Kamu jangan kurang ajar ya, aku tidak akan mengizinkan."
"Baik, Apalagi?"
"Sudah, itu saja untuk saat ini." ucap Ana.
Pelayan datang mengantarkan pesanan Ana. Setelah selesai makan, Ana permisi ke toilet sebentar.
Saat Ana sedang mencuci tangan, tiba - tiba dia melihat seorang wanita masuk. Wanita ini tampak glamor sekali. Wanita itu berdiri di sebelah kanannya.
"Kamu putri Ana?" tanya Wanita itu tanpa menatap Ana.
"Iya, kenapa?" tanya Ana melirik wanita itu sekilas.
"Saya Rara, wanita kesayangan Farhan pada masanya." jawab wanita itu.
__ADS_1
"Pacar?"
"Lebih dari itu, kamu boleh tanya Karin jika mau pengen tau."
"Jika saya tidak ingin tau, gimana?" jawab Ana.
"Kamu akan menyesal seumur hidup, Farhan lelaki yang tidak pernah puas dengan satu wanita, dia sangat terkenal player."
"Lalu apa hubungannya dengan saya?" tanya Ana tersenyum mengejek.
"Kamu yakin dengan pernikahan kamu? dan aku dengar kamu memaksa Farhan untuk menikahi Adik kamu, Jika kamu tidak sayang kepada diri sendiri mungkin setidaknya kamu lebih peduli kepada adikmu."
"Terimakasih atas nasihatnya."
"Farhan tidak akan pernah bisa mencintai kamu atau Adik kamu, jadi lebih baik kamu stop sebelum semuanya sakit hati." ucap wanita bernama Rara.
"Sekali lagi atas nasihatnya." jawab Ana melangkahkan kaki keluar dari toilet.
Dia berjalan mengingat ucapan dari wanita yang bernama Rara. Dia berjalan dengan lemas menuju meja restoran.
"Kok lama kali?" tanya Farhan agak cemas ketika Ana lama di toilet.
"Tadi aku bertemu salah satu wanita kamu." jawab Ana dengan jutek.
"Wanita aku? siapa?" tanya Farhan bingung.
"Saking banyaknya, kamu tidak tau namanya." ucap Ana tersenyum mengejek.
Di dalam hatinya ada sebuah harapan yang hancur.
"Siapa? aku juga bingung siapa yang kamu maksud."
"Rara, apakah kamu masih ingat dengan wanita itu?" tanya Ana.
"Rara? dimana dia sekarang?" tanya Farhan lansung berdiri.
"Dia mungkin masih toilet."
"Aku pergi kesana menemuinya dulu." ucap Farhan berpamitan sambil berjalan dengan cepat.
"Wah begitu berartinya wanita itu bagi kamu Farhan, sampai - sampai kamu tega meninggalkan aku." Ana dengan cepat menghapus air mata yang meleleh.
Ana memainkan ponselnya sambil menunggu Farhan. Tidak lama kemudian Farhan kembali ke kursi dengan nafas yang terengah-engah.
"Kamu yakin itu Rara? aku tidak melihatnya.
"Dia berkata seperti itu." jawab Ana cuek tanpa menatap Farhan.
"Ya sudah ayo kembali." ajak Farhan.
__ADS_1