
Erik ambruk di sebelah Gladys yang juga nampak kelelahan. Setelah olahraga berjilid - jilid membuat mereka nampak kelelahan.
Erik memeluk wanita itu dengan erat. Ia cukup puas dengan pelayanan wanita itu. Dia merasa ini jauh lebih dahsyat daripada saat bersama Elda.
"Maaf." ucap Erik mengecup kepala Gladys.
"Buat?" tanya Gladys menatap lelaki itu.
"Buat semuanya, mas berjanji akan menjadi suami yang baik untuk kamu, mengenai Rimba kita akan bujuk secara perlahan, kamu tidak perlu memikirkannya." ucap Erik.
"Terima kasih mas." ucap Gladys tersenyum senang.
"Besok mas akan masuk bergabung dengan perusahaan keluarga kamu, mas harap kamu juga ikut bergabung di sana agar kamu bisa belajar."
"Tapi aku malas mas, aku capek harus kuliah dan kerja, aku percaya sama mas."
"Kamu bisa aja mas tipu jika percaya sama mas, gimana mas pindahkan saham atas nama mas, setelah itu mas tinggalkan kamu dan mencari wanita lain." ucap Erik.
"Jika mas begitu biar bang Farhan yang menggorok leher mas." jawab Gladys.
"Bang Farhan dengan amnesia, kamu nggak takut mas berbuat curang?"
"Nggak mas, jika mas berbuat curang, mas nggak akan bilang saat ini." jawab Gladys tersenyum.
"Baiklah, kamu fokus kuliah,fokus belajar agar cepat selesai."
"Gimana jika aku hamil mas, pasti aku malas untuk kuliah." tanya Gladys.
"Berhenti aja kuliah, fokus jadi ibu rumah tangga." jawab Farhan tersenyum lalu mencium kening Gladys.
"Mas aku belum siap hamil, kita tunda dulu ya, aku nggak bisa bayangin jika badanku bengkak besar." jawab Gladys membuat Erik agak kecewa.
Erik sangat ingin mendapatkan anak kembali. Tetapi istrinya yang masih muda tidak siap punya anak. Bahkan wanita itu tidak rela badannya melar.
"Jika kamu nggak siap hamil berarti mas cari istri lagi, karena mas ingin anak lagi." jawab Erik tersenyum senang.
"Mas, awas aja jika kamu berani cari istri lagi." ancam Gladys.
"Kan ceritanya kamu nggak mau hamil." jawab Erik tersenyum.
"Ya udah, nggak ada cerita tidur bareng aku, tidur masing-masing." ucap Gladys mendorong tubuh suaminya.
Erik tertawa melihat ekspresi sang istri. Dia memeluk wanita itu dengan erat.
"Mas tadi hanya bercanda." ucap Erik tersenyum.
__ADS_1
Erik kembali mencium bibir Gladys yang candu baru baginya. Awalnya hany ciuman biasa. Lalu setelah itu bibirnya ******* bibir wanita itu dengan menuntut.
Dan setelah itu terjadilah apa yang terjadi sesuai dengan bayangan pembaca masing-masing.
...****************...
Sudah beberapa Minggu setelah kecelakaan Farhan. Hari - hari Ana lebih banyak di habiskan bersama dengan Farhan.
Wanita itu mengurus Farhan sebagai teman. Dia beralibi teman sejati yang akan merawat Farhan sampai sembuh.
Padahal Farhan sudah sehat, hanya saja dia selalu lemas dan pusing akhir - akhir ini.
Dan Farhan membiarkan Ana berada di sisinya karena dengan keberadaan wanita itu membuat lelaki ini agak nyaman. Aroma wangi tubuhnya wanita itu membuatnya lebih fresh.
Farhan juga merasa aneh ketika Ana masak, ia memakannya dengan lahap. Berbeda jika ia makan diluar atau di masakan oleh yang lain.
Siang ini nampak Ana sedang duduk di hadapannya sambil membaca ponselnya. Tidak jauh di sana ada Rosa yang sangat rajin datang untuk merawat Farhan.
Di ruangan itu juga ada bibi Mirna dan Fina adiknya Farhan. Mereka nampak sangat akrab satu sama lainnya.
"Kamu nampak pucat akhir - akhir ini An?" tanya bibi Mirna.
"Aku hanya merasa capek aja bi." jawab Ana.
"Mungkin capek urus bang Farhan." jawab Fina.
"An, kita ke dapur bentar, bantu Tante mengerjakan sesuatu." ucap bibi Mirna.
Ana berjalan menuju dapur bersama ibu Mirna. Sedangkan Farhan hanya menatap kepergian keduanya.
Baru beberapa menit Ana menjauh membuat Farhan sudah pusing kembali. Rosa melihat Farhan bangkit dari tempat duduknya.
"Mau kemana sayang?"Tanya Rosa curiga Farhan mengikuti Ana.
"Mau cuci tangan bentar, kamu nggak usah ikut." jawab Farhan.
Rosa sebelumnya ingin mengikuti langkah kaki Farhan. Namun ia takut lelaki itu marah kepadanya.
Farhan tidak lansung ke dapur. Ia memang sengaja ke sana hanya ingin tau apa yang di bicarakan keduanya.
"Ada apa bi?" tanya Ana.
"Kamu bulan ini datang bulan?" tanya bibi Mirna.
"Emang kenapa bibi?"
__ADS_1
"Bisa jadi kamu lagi hamil, kamu liat gimana tidak bisa lepasnya Farhan dari kamu."
"Aku memang belum datang bulan bi, tapi ini mungkin hanya terlambat aja."
"Kamu yakin? kamu cek dulu, bibi liat Farhan kenapa Sindrom simpati, dimana suami yang mengidam." ucap bibi Mirna.
Farhan yang mendengar itu semua merasa ada yang aneh. Karena setau dia Ana belum menikah. Dan kenapa bibinya mengaitkan dirinya dengan Ana.
Farhan berjalan menjauhi dapur. Ia mencoba mengingat apa yang sebenarnya terjadi. Dia masih bingung dengan semua ini.
"Apa benar Ana itu pernah menikah dengan aku?" tanya sambil berjalan menuju ruang tengah.
Kepalanya terasa sakit saat mencoba mengingat siapa Ana. Lalu ia duduk sambil memegang kepalanya. Ia mencoba mengingat semua dengan jelas. Tapi hanya bayangan gelap yang ia sendiri tidak tau.
"Kamu kenapa?" tangan Rosa melihat Farhan memegang kepalanya.
"Aku hanya ingin istirahat."jawab Farhan ketus kepada Rosa
Rosa terdiam saat Farhan membentak dirinya. Sementara Ana dan bibi Mirna kembali ke ruang tengah. Mereka berdua sangat kaget ketika melihat Farhan kesakitan.
"Kamu kenapa Han?" tanya Bibi Mirna.
"Tiba-tiba aja kepikir seseorang aja bi, dan kepalaku terbantu oleh dia." jawab Farhan.
"Ana boleh bawa besok saya kerumah yang kamu mau jual itu, saya mau melihat tanpa ada yang dikurangi." ucap Farhan pindah ke ke tempat lain.
"Baik, tapi harus ada Aldo dan Karin." jawab Ana dengan yakin.
Ada kesenangan dari dalam dirinya tapi ada juga ketakutan Ana dengan penyakit suaminya itu jika dia tau tentang semua secepatnya.
Farhan meninggalkan Ana dan yang lainnya. Sedangkan Ana diam aja memperhatikan gerak dan gerik Farhan masuk ke dalam kamar.
"Ana jangan lupa ucapan bibi tadi." ucap Bibi Mirna mengingatkan Ana.
"Iya bi,."Jawab Ana.
"Atau langsung aja bibi antar sekarang, bibi nggak sabar mau tau kebenarannya." ucap bibi Mirna.
Ana awalnya menolak namun bibi Mirna memaksanya sehingga berangkatlah mereka menuju rumah sakit.
Rosa tidak paham dengan ucapan keduanya. Rosa tidak mengetahui bahwa mereka menuju rumah sakit.
"Kemana bibi Fin?" tanya Rosa kepada Fina yang sedang duduk memainkan ponselnya.
"Nggak tau kak, biar aja lah kak" jawab Fina dengan cuek.
__ADS_1
Dia memang tidak mau ikut campur antara wanita itu dan kakak iparnya.