Nikahi Dia Demi Aku

Nikahi Dia Demi Aku
Bab 33


__ADS_3

Bibi Mirna dan Ana nampak bahagia sekali. Setelah pemeriksaan ke dokter ternyata dia memang di nyatakan hamil beberapa Minggu.


Ana senang namun tiba-tiba dia murung sendiri. Bagaimana tidak murung, bahkan ia tidak tau bagaimana berbagi kebahagiaan dengan suaminya sendiri.


Bibi Mirna melihat wajah istri keponakannya itu murung. Dia paham akan kesedihan Ana. Tapi mereka memang tidak bisa memberitahu kenyataan secepat itu kepada Farhan.


"Ayok pulang, berdoa aja kepada Allah agar Allah mudahkan semuanya, percayakan kepada Allah." ucap bibi Mirna menghibur Ana.


Setelah dari rumah sakit mereka pulang ke rumah Ana terlebih dahulu. Setelah itu barulah bibi Mirna pulang kerumahnya.


"Ingat jaga diri baik-baik An, nggak usah capek-capek." nasihat bibi Mirna.


"Iya bi." jawab Ana dengan tersenyum.


Ana masuk kerumahnya setelah bibi Mirna pulang. Ana menyuruh asisten rumah tangganya menutup dan menurunkan semua yang berhubungan dengan foto - foto mereka. Dia merasa belum saatnya Farhan melihat foto-foto itu.


Ana masih takut jika Farhan kesakitan lagi jika memaksakan untuk mengingat. Dia ingin kehilangan lelaki ayah dari bayinya saat ini.


"Mama nggak apa-apa nak melihat papa kamu dari jauh, daripada kehilangannya selamanya." ucapnya mengelus perutnya.


Sedangkan di tempat lain, Farhan mencoba mengingat tentang masa lalunya. Dia masih ingat perkataan yang di ucapkan oleh bibi Mirna dan Ana.


Saat memikirkan semuanya tiba-tiba pintu kamarnya terbuka. Di sana nampak Karin masuk membawakan minuman kesukaannya.


Farhan tersenyum melihat adik kesayangannya. Dia sudah beberapa hari tidak bertemu dengan adik cantiknya itu.


'Kemana aja?" tanya Farhan tersenyum melihat adiknya duduk di sebelahnya.


"Kenapa? kangen?" tanya Karin tersenyum sambil menyerahkan minuman yang ada di tangannya.


"Kangenlah, Aldo nggak ikut?" tanya Farhan tidak melihat sahabat sekaligus adik iparnya.


"Lagi keluar kota dari kemarin, ada masalah di kantor cabang." jawab Karin.


"Nggak ikut?" tanya Farhan.


"Nggak bang, kasian anak - anak jika ikut, biar aja dia sendiri di sana." jawab Karin.


"kak Ana kesini tadi bang?"Tanya Karin menatap abangnya.


Mendengar nama Ana membuat Farhan teringat kejadian tadi siang di dapur. Ia masih berpikir apa dia salah dengar.


"Dek apa abang punya hubungan dengan Ana?"


Karin bingung mau menjawab apa. Dalam hatinya sangat ingin berteriak memberitahu abangnya itu.


"Apa Abang ingat sesuatu?"tanya Karin menelisik terlebih dahulu sebelum menjawab.


"Abang masih tidak ingat apa-apa, yang Abang ingat Rosa pacar Abang." jawab Farhan.


"Baik, tapi seandainya aku meminta Abang untuk menikahi kak Ana, kira - kira Abang mau nggak?" tanya Karin.


"Jangan gitu dek, kasihan Rosa."

__ADS_1


"Seandainya Rosa memilih kuliah, lalu aku minta satu permintaan, yaitu Nikahi dia demi aku." ucap Karin agak memperlambat ucapan terakhir.


"Nikahi dia demi aku." ulang Karin lagi.


Tiba-tiba Farhan memegang kepalanya yang kesakitan. Farhan mendengar ucapan itu berkali-kali. Tapi ia tidak ingat siapa yang mengucapkannya. Bahkan Farhan mendengar ucapan itu dari berbagai suara.


Farhan semakin kesakitan karena suara itu semakin terdengar nyata.


"Nikahi dia demi aku."


Itulah kata-kata yang terulang - ulang terdengar dari memorinya. Karin yang melihat abangnya kesakitan jadi semakin kuatir.


"Aaaaaaakhhhh." teriak Farhan.


"Bang tenang bang, tenang agar Abang bisa mengingatnya dengan baik." ucap Karin.


"Tarik nafa dalam - dalam bang." ucap Karin mencoba menenangkan Farhan.


Ceklek


"Apa yang kamu ucapkan Karin?" tanya Rosa masuk marah - marah.


Setelah itu nampak Fina dari belakang Rosa. Dia juga kaget melihat abangnya kesakitan.


"Kasih abang obat." ucap Fina mengingatkan adiknya.


Karin segera mengambil obat dari laci abangnya. Rosa nampak menepis tangan Karin saat bersiap mengambil obat tersebut.


"Awas, semua pasti karena kamu, kamu mengatakan yang tidak-tidak." ucap Rosa dengan marah.


"Aku pacar Abang kamu, sopan sedikit, minggir." ucap Rosa membantu Farhan minum obatnya.


Setelah meminum obatnya, Farhan lansung beristirahat. Sedangkan Fina menarik adiknya agar tidak bersitegang dengan Rosa di depan abangnya.


"Kenapa kakak narik aku sih?"


"Nggak usah bersitegang di depan Abang, bagaimana jika sakit Abang semakin parah karena ucapan yang tidak di sengaja." tegur Fina.


"Maaf kak, aku benar tidak bicara apapun, hanya tadi Abang bertanya lansung." jawab Karin.


"Kakak percaya kamu, tapi nanti lebih hati-hati lagi, kasihan jika Abang kesakitan kaya tadi." ucap Fina.


"Ada apa ini?" tanya Bibi Mirna baru masuk rumah.


"Bang Farhan tadi sakit kepala bi, tapi sekarang udah nggak apa-apa." jawab Karin.


"Bibi darimana?" tanya Fina baru melihat bibinya.


"Dari rumah sakit."


"Siapa yang sakit?" tanya Ana dan Fina berbarengan.


"Tidak ada yang sakit, ini kabar gembira sebenarnya tapi sayang Abang kalian kondisinya seperti itu." jawab bibi Mirna.

__ADS_1


"Kenapa bi?" tanya Fina.


"Ana sedang hamil beberapa Minggu."


"Benarkah? Alhamdulillah." ucap Karin senang sekali.


"Semoga kak Ana sehat selalu." ucap Fina juga senang.


"Maka dari itu perlahan kita harus bangun kedekatan antara keduanya, biar cepat pulih, jika hamil besar Farhan nggak tau juga, kan bahaya juga." ucap bibi Mirna.


"Semoga bi." jawab Fina.


"Besok aja Farhan kerumah mereka, tadi dia sudah tanya rumah itu kepada Ana."ucap bibi Mirna.


"Besok kita antar bi, kakak nggak ada kegiatan kan?" tanya Karin kepada Fina.


"nggak, kakakkan sekarang pengangguran sukses." jawab Fina tersenyum.


"Kamu kerja di kantor abangmu nggak mau, di kasih buka usaha juga enggan." jawab Bibinya kepada Fina.


"Dia ingin nikah kayak aku bi." jawab Karin.


"Bukan tipe kakak seperti itu, kakak ini akan jadi wanita karir, tapi jika bisa tidak di kantor Abang."


"Banyak gaya kam, itu bang Di Farhan juga butuh bantuan kali kak."


"Nantilah kakak pikirkan." jawab Fina nyengir.


"Itu si Rosa dimana? belum pulang juga dia?" tanya Bibi Mirna mulai nggak suka dengan keberadaan wanita satu itu.


"Entah, bosan juga aku liatnya." jawab Karin.


"ngab liat dia bi, kepo aja sama urusan di rumah ini, kadang seperti nyonya besar di rumah ini." jawab Fina.


"Belum menikah aja udah belagu, apalagi dah jadi, nggak kebayang punya ipar kayak dia." jawab Karin.


"Apa kamu bilang Rin? nggak kebayang punya ipar kayak aku? emang kenapa aku?" tanya Rosa.


"Ah pakai bertanya pula."ucap Karin tersenyum sinis.


"kamu liat aja besok aku bilang sama Farhan." ancamnya.


"Hei kamu nggak segan ada saya di sini?" tanya Bibi Mirna jadi kesal.


"Bibi sih nggak bisa mendidik mereka, hargai aku dong sebagai pasangan Farhan." jawab Rosa kesal.


"Lalu kamu menghargai istrinya nggak sebagai wanita?" tanya Karin balik.


"Kan dia ingatnya aku, artinya yang dia cintai aku bukan wanita itu." jawab Rosa.


"Dasar wanita bunglon, pandai aja mengambil kesempatan." ucap Karin berjalan meninggalkan wanita itu.


"Dah kamu pulang sana, muak juga saya liat kamu tiap hari di sini." ucap bibi Mirna.

__ADS_1


"Lihat aja kalian Jika aku jadi istri Farhan, satupun tidak akan ada yang tinggal dirumah ini." ucapnya mengancam.


"Silahkan di coba." ucap Fina juga mulai muak melihat wanita itu.


__ADS_2