
Gladys baru saja membuka matanya. Dia merasakan ada sebuah tangan yang melingkar di atas perutnya.
Gladys melihat wajah lelaki yang sudah menjadi suaminya. Gladys tersenyum saat mengingat kejadian tadi malam. Ia tidak bisa mengungkapkan dengan kata - kata bagaimana lembutnya lelaki itu memperlakukannya.
"Sudah bangun?" tanya lelaki itu dengan suara serak.
"Udah." jawab Gladys dengan lembut.
"Kenapa aku seperti kucing yang takut air." ucapkan Gladys dalam hatinya.
"Ya sudah tunggu sebentar aku siapkan air mandi dulu." Erik lansung bangkit dari tempat tidurnya.
"Aku bisa sendiri."
"Kamu yakin bisa jalan? udah biar aku saja."
Erik lansung memakai celananya dengan cepat. Gladys yang menyaksikan secara lansung menjadi malu.
"Kenapa harus di depan aku memakainya." ucap Gladys dengan pelan.
Gladys mencoba bangkit dari tidurnya. Dia mencoba berjalan mengambil baju yang ada di lantai. Namun baru selangkah ia merasakan sesuatu yang sakit sekali.
"Aduwww sakit." erangnya.
Erik nampak terburu-buru berjalan mendekati gladis ketika mendengar aduan wanita itu.
"Duduk aja, nggak usah gerak, pasti sakit." ucap Erik.
Gladys hanya mengikuti saran sang suami. Dia menutup tubuhnya dengan selimut.
Erik kembali menuju kamar mandi. Tidak sampai 5 menit lelaki itu keluar kembali.
"Ayo mandi." ucap Erik bersiap untuk mengangkat tubuh istrinya.
"Aku bisa sendiri." jawab Gladys malu di gendong.
"Udah, pasti sakit." jawab Erik lansung menggendong sang istri.
Wajah Gladys memerah saat ia di gendong oleh lelaki itu. Apalagi lelaki itu menggendongnya tanpa baju sehelai pun.
Erik tersenyum saat melihat wajah istrinya memerah. Entah kenapa ia merasa senang ketika melihat wajah Gladys memerah karena dirinya.
Erik meletakkan Gladys di bathtub yang sudah berisi air hangat. Lelaki itu juga menambahkan esensial sehingga Gladys nampak rileks.
"Aku bisa sendiri." ucap Gladys ketika Erik ingin menyabuninya.
"Nggak apa-apa, biar tenaga kamu bisa di simpan untuk nanti." jawab Erik sambil tersenyum.
"Apaan sih." ucap Gladys dengan manyun.
"Emang nggak suka?" tanya Erik dengan senyum mesum.
"Suka apaan?" tanya Gladys pura - pura tidak paham.
"Yang tadi malam, tapi nggak mungkin nggak suka, kan kamu yang meminta lagi." ucap lelaki itu terus terang membuat wanita itu semakin malu mengingat kejadian tadi malam.
__ADS_1
"Kapan kita jemput Rimba?" tanya Gladys ingin mengalihkan pembicaraan.
"Kenapa harus buru - buru jemput Rimba?" tanya Erik.
"Isa ayah apaan ini, bukannya cariin anaknya malah tanya kayak gitu."
"Masalahnya dia aman bersama Beby sisternya di rumah." jawab Erik sambil menyabuni punggung Gladys yang mulus dan putih.
"Emang kamu nggak kangen dia?" tanya Gladys.
"Ya kangenlah, tapi aku hanya ingin menikmati waktu dengan istriku." jawab Erik.
"Udah ah, aku mau selesai." ucap Gladys ingin menyudahi mandinya karena tangan suaminya sudah kemana - mana.
"Biar kayak gini dulu." ucap Erik lansung masuk kedalam bathtub.
Gladys kaget saat melihat Erik masuk dan melepaskan celananya.
"Kamu mau ngapain?" tanya Gladys gugup.
"Mau mandi juga." jawab Erik.
Gladys lansung kaget saat Erik memeluk tubuhnya dari belakang. Gladys merasakan ada yang aneh di tubuhnya.
"Jangan di sini." ucap Gladys.
Erik lansung menyiram tubuh istrinya. Dia ingin cepat-cepat menuntaskan pekerjaannya pagi ini.
...****************...
Ana melihat siapa yang menelepon suaminya itu. Ana melihat ada foto seorang wanita. Ana ingat siapa wanita itu.
"Ngapain dia nelpon Farhan pagi - pagi begini?" tanya Ana mengambil ponselnya Farhan.
Ana mengangkat telepon dari wanita itu. Ana hanya diam tanpa menjawab sepatah katapun.
"Hallo Farhan, maish bisa kita ketemu siang ini? sekalian kita bahas proyek kita."
Ana melihat Farhan keluar dari kamar mandi. Farhan juga bingung ketika melihat ponselnya sedang sama Ana.
"Sayang ada yang nelpon." ucap Ana kepada Farhan.
Farhan menyerngitkan keningnya saat mendengar ucapan sayang dari mulut istrinya. Sangat jarang kata sayang keluar dari mulut istrinya kecuali jika mereka sedang menikmati peluh malam.
"Siapa sayang?" tanya Farhan lansung memeluk istrinya.
"Sepertinya mantan kamu sekaligus klien terbarumu." jawab Ana.
"Kamu aja yang bicara." jawab Farhan malas.
"Nggak bisa dong, kan dia bahas proyek kalian." jawab Ana menyerahkan ponsel suaminya.
"Iya hallo." ucap Farhan menerima telpon itu dengan perasaan tidak enak.
"Siapa tadi?"
__ADS_1
"Istriku, ada apa?" tanya Farhan.
"Kamu nanti ada waktu?" terdengar suara wanita itu dengan lembut.
"Aku nggak punya."
"Tapi kan kita nanti meeting bahas proyek."
"Asistenku yang mengurusnya." jawab Farhan.
"Nggak bisa begitu dong, bos kami tidak akan mau seperti itu."
"Bos kamu aja tidak datang dan memberikan proyek ke kamu, lalu kenapa baku tidak bisa?" tanya Farhan lansung mematikan sambungan teleponnya.
"Kok di matiin begitu aja?" tanya Ana.
"Nggak penting."
"Kok nggak penting? itu menyangkut pekerjaan kamu loh."
"Emang kamu nggak mara" tanya Farhan menatap istrinya.
"Kenapa harus marah jika berhubungan dengan pekerjaan." jawab Ana tersenyum.
"Kamu nggak cemburu aku berbicara dengan mantanku?" tanya Farhan.
"Kan kamu bukan ingin kembali dengan dia tapi bahas pekerjaan."
"Sayang tapi itu bisa memicu CLBK loh." jawab Farhan agak kecewa karena sang istri tidak cemburu saat ini.
"Jika itu terjadi maka aku bukanlah jodoh mu." jawab Ana tersenyum.
"Kamu senangi hati aku kek yang, bilang aja cemburu." jawab Farhan memeluk istrinya dengan erat.
"Aku percaya dengan kamu makanya aku seperti ini, aku tidak akan bersikap kekanak-kanakan, kita lebih lama bersama darioada mantanmu itu." ucap Ana membalas pelukan sang suami.
Farhan tersenyum mendengar jawaban sang istri. Dia lansung mencium bibir istrinya.
"Makin sayang dengan kamu." ucap Farhan dengan wajah tersenyum.
"Sayang juga myFar."
MyFar adalah panggilan sayang Ana kepada suaminya sejak sekola dulu.
Farhan mendekati bibirnya ke bibir Ana lagi. Kali ini bukan sekedar mengecup saja. Tapi dia ******* bibir wanita itu. Ana mendorong tubuh Farhan sehingga ciuman itu terlepas.
"Aku belum gosok gigi." ucapnya.
"Memang kenapa jika belum gosok gigi?" tanya Farhan bingung dan nampak agak kecewa.
"Bau loh." ucap Ana.
"Itu yang aku suka sayang." ucap Farhan memeluk sang istri lebih erat lagi. Dia tidak membuang - buang waktu lagi. Dia lansung ******* bibir seksi istrinya yang merah merona.
Ana membiarkan suaminya melakukan apapun byabg dia senangi. Farhan tersenyum saat tidak ada perlawanan dari sang istri.
__ADS_1
Ana sudah terbuai dengan ciuman. yang di berikan oleh Farhan. Sehingga dia begitu menikmatinya. Bahkan ia tidak sadar bahwa bajunya sudah mendarat di lantai.