Nikahi Dia Demi Aku

Nikahi Dia Demi Aku
Bab 17


__ADS_3

Gladys mulai gelisah ketika kakaknya Ana belum juga kembali kerumah. Dia mencoba menghubungi Ana berkali-kali namun kakaknya tidak pernah mengangkatnya.


"Kemana sih dia?" tanya Gladys mulai kuatir.


"Apakah kak Ana patah hati lalu pergi jauh?" tanyanya sambil mondar-mandir sendiri di ruang tamu.


Gladys mencoba menelpon Farhan, namun lelaki itu juga tidak mengangkat teleponnya. Gladys semakin gelisah karena tidak ada satupun yang bisa ia ajak bicara.


Ia tidak mungkin menelpon Aldo lagi. Karena dia tau bahwa Karin yang akan menjawab telponnya. Dan itupun pasti omongan wanita itu tidak mengenakan.


"Kemana aku harus mencarinya? apa aku telpon teman - temannya?" ucapnya bicara sendiri.


Gladys benar - benar mengkuatirkan kakak wanitanya. Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Sedangkan di tempat lain, orang yang dikuatirkan sedang asyik memadu kasih bersama orang yang di sayang.


Farhan tersenyum memeluk Ana. Ia merasa tidak akan pernah lepas dari wanita itu. Farhan tidak meragukan cintanya ke Ana walaupun ada wanita lain yang di masa lalunya kembali ke hidupnya.


"Kamu udah makan?" tanya Farhan pada istrinya.


"Belum mas." jawab Ana dengan tersenyum.


"Kenapa belum makan? apa sudah mulai mengabaikan makan sekarang?" Farhan lansung duduk ketika tau Ana belum makan.


Ana kaget saat melihat Farhan lansung bangkit dari tidurnya. Sang suami juga memakai bajunya dengan cepat.


"Mau kemana?" tanya Ana.


"Mau ke bawah, suruh bibi masak." jawab Farhan.


"Boleh pesan online aja?"


"Masakan rumahan lebih higienis, ingat kamu baru saja sembuh sayang." ucap Farhan dengan lembut.


Ana tersenyum mendengar jawaban Farhan. Dia baru menyadari bahwa Farhan masih tetap Farhan yang dulu jika ia sudah sayang.


Ketika Farhan keluar dari kamarnya, Ana bergegas masuk ke kamar mandi.


Setelah 15 menit, Ana kembali keluar dari kamar mandi. Dia mencari ponselnya yang masih di dalam tas. Tasnya berada di kursi ruang tamu. Ana berjalan meninggalkan kamarnya.


Saat menuju ruang tamu, Ana berpapasan dengan Farhan. Farhan lansung mengajak Ana untuk segera makan.


"Ayo makan dulu."


"Aku coba kabari Gladys dulu, nanti dia cari aku."


"Kesehatan kamu lebih penting An, kabari adikmu masih bisa nanti." jawab Farhan.


"Kamu masih marah sama adikku?" tanya Ana merasa Farhan tidak senang dengan adiknya.


"Marah pasti, tapi bagaimanapun dia adik kamu, aku ini ipar, ipar itu racun ana, jadi antara ipar juga harus ada batasannya, tapi bagaimanapun aku akan tetap melindungi dia, maka untuk itu lebih baik dia kita nikahkan secepatnya." jawab Farhan.


"Nikah muda? dia baru semester awal."


"Nggak apa-apa, demi kebaikan dia, jika dia udah ada suami maka kita akan tenang, suaminya pasti akan menjaganya dengan baik."

__ADS_1


"Siapa lelaki itu?" tanya Ana penasaran.


"Dia manager Aldo, dia duda, tapi dia sangat baik, dia juga akan bisa mengelola perusahaan kamu dengan baik."


"Apakah tidak ada yang lajang? kenapa harus duda?" tanya Ana merasa kurang setuju.


"Umurnya masih muda, dia baru saja menceraikan istrinya yang kurang ajar dengan Karin, dia punya anak satu."


"Kenapa hanya masalah Karin dia sampai menceraikan istrinya segala? nggak punya pendirian?"


"Istrinya ketauan selingkuh, dan itu bukan hanya sekali, awalnya dia memaafkan, tapi ketika terakhir kali ketauan saat bersama Aldo, maka dia memilih berpisah."


"Kamu yakin dengan dia?"


"Kenapa kamu meragukan aku?" tanya Farhan menatap manik mata Ana.


"Jika kamu yakin, aku percaya dengan kamu, umurnya nggak di atas kitakan?"


"Nggak, dia nikah muda saat itu, udah ayo makan, nanti lanjut lagi bahas." Farhan menarik agar istrinya berjalan menuju meja makan.


Ana melihat beberapa menu sudah tersedia di meja makan. Ana menyantap makanannya dnegan lahap karena memang lapar.


Setelah selesai makan Ana lansung mengambil tasnya di kursi ruang tamu. Farhan melaratnya tapi lakukan pekerjaan rumah tangga.Alasan Farhan adalah karena masih baru sembuh.


Ana mengeluarkan ponselnya dari dalam tasnya.Dia kaget saat melihat banyak panggilan dari nomor Gladys.Ana telepon balik adiknya saat itu juga.


"Tuttuttut."


"Hallo kak, kamu dimana?apa kamu perlu aku jemput? kamu bilang aja di mana?" Ana tersenyum saat mendengar pertanyaan beruntun dari sang adik.


"Kenapa kak? Kakak marah sama aku?" tanya Gladys.


"Bukan."


"Kakak tidak usah kecewa dengan bang Farhan, masih banyak lelaki lain yang mau menerima kakak."


"Hey jangan coba-coba mencarikan dia laki - laki lain jika kamu masih mau hidup." ucap Farhan yang sudah duduk memeluk Ana.


"Abang?" tanya Gladys di seberang sana.


"Kamu apaan sih begitu ngomongnya." cubit Ana.


"Biar aja yang." ucap Farhan mencium pipi Ana.


Farhan menghidupkan kamera ponsel Ana agar Gladys melihat kemesraan mereka.


"Kenapa harus video call?" tanya Ana.


"Biar dia melihat betapa mesranya kita." jawab Farhan.


Tidak lama muncul wajah Gladys di layar ponsel Ana.


"Kakak di rumah kakak yang baru?" tanya Gladys.

__ADS_1


"Iya, mulai sekarang kakak akan tinggal di sini."jawab Ana.


"Kenapa kakak meninggalkan aku sendirian?" tanya Gladys sedih karena tinggal sendirian di rumahnya yang termasuk besar.


"Kan kakak udah nikah, nanti kita juga bakal tinggal di rumah masing-masing, lagian kita masih bisa saling berkunjung."


"Kalian yakin dengan hubungan kalian?" tanya Gladys yang ragu bertanya.


"Yakin." jawab Ana.


Sedangkan Farhan mencium pipi Ana di depan Gladys. Dia ingin memperlihatkan kemesraan mereka.


"nggak gitu juga kali." ucap Gladys kesal.


"Biar kamu sadar, berhenti berharap yang tidak-tidak." jawab Farhan.


"Jika kalian memang sama-sama saling menyukai ya tidak masalah,baguslah." jawab Gladys.


Ana dan Farhan tersenyum mendengar jawaban dari Gladys.


"Besok kakakmu akan pulang mau bicara dengan kamu, ada hadiah besar." ucap Farhan.


Farhan tau bahwa adik Ana senang dengan hadiah. Ia sengaja mengolok olok Gladys.


"Aku tunggu." jawab Gladys dengan cepat.


"Tidak boleh menolak."


"Mana pernah aku menolak jika hadiah bagus."


"Hadiahnya bagus dan tidak akan pernah bisa kamu lupakan."


"Benar begitu kak?" tanya Gladys kepada Ana.


"Nggak tau."jawab ana jujur.


"Kakakmu belum tau hadiahnya, pas dia bawa dia pasti akan senang juga, intinya semua orang akan senang." jawab Farhan.


"Ku tunggu."


"Dis kamu awas keluyuran nggak jelas." nasehat Ana.


"Mana bisa di keluyuran, pengawal akan menjaga dan melaporkan ke aku." jawab Farhan.


"Aku nggak mau ada pengawal."


"Baik, tapi uang kuliah cari dengan kerja di kantor." jawab Farhan.


"Sekalian aja Carikan aku suami ustadz agar aku zikir aja di rumah, masa udah besar begini masih aja dikekang."jawab Gladys.


"Ide yang bagus, nanti abang Carikan." jawab Farhan.


""Udahlah, assalamualaikum." Gladys mematikan teleponnya.

__ADS_1


Farhan dan Ana hanya tersenyum melihat Gladys kesal.


__ADS_2