
Gladys dan Erik sudah duduk di taman belakang. Mereka memang di beri waktu untuk berbicara berdua. Tujuannya agar mereka agar bisa lebih mengenal satu sama lain.
Gladys yang biasanya cerewet merasa kehilangan topik saat berduaan dengan lelaki itu. Dia sama sekali buntu saat ini. Dia juga merasa tidak kikuk.
"Kenapa gua kikuk seperti ini?" gumam Gladys dalam hatinya.
"Ah dia juga diam aja, dia kan lelaki, kenapa nggak bicara." ucap Gladys kesal dalam hati.
"Jika nggak ada yang di bicarakan kita masuk aja." ucap Gladys lansung berdiri.
Gladys tidak tau jika terlalu lama berdiam diri seperti ini. Apalagi lelaki ini nampak seperti tidak peduli dengan dirinya.
Erik kaget saat mendengar ucapan Gladys. Dia tidak menyangka bahwa wanita itu akan berkata seperti itu.
"Bukannya kamu yang punya topik untuk memulai." jawab Erik menatap wanita yang baru saja berdiri dari duduknya. Sedangkan Erik memang berdiri dari tadi tidak jauh dari posisi Gladys.
"Kamu kan lelaki, harusnya kamu yang memulai." jawab Gladys dengan kesal.
"Apakah segala sesuatu harus di mulai dengan lelaki?"
"Kamu kan yang berniat melamar aku?"
Erik terdiam mendengar pertanyaan Gladys. Dia merasa bahwa Gladys tau alasan perjodohan ini. Tetapi seakan wanita itu berkata bahwa dirinya yang meminta dirinya.
"Saya juga terpaksa kali menikah dengan kamu" jawab Erik jujur.
"Jika kamu terpaksa,kenapa datang ke sini?" tanya Gladys semakin kesal.
"Toh kamu pasti juga tau alasannya, saya hanya membantu kamu di sini, saya menerima ini karena pak Aldo."
"Alasan? mungkin karena jabatan yang di janjikan."
Erik semakin kesal dengan jawaban wanita itu. Dia menyadari bahwa mulut wanita ini jauh lebih kejam.
"Jika jabatan makan saya sudah punya jabatan saat ini, lagian kamu cari tau berapa besar kantor saya bekerja dengan perusahaan kamu."
Gladys terdiam karena jika di bandingkan dengan perusahaan keluarganya dengan perusahaan milik keluarga Aldo, tentulah perusahaan dia bukan tandingannya.
"Ah sombong sekali, bahkan Daffin Arkarna yang punya perusahaan paling berkuasa aja nggak sesombong kamu yang masih pekerja."
"Memang kamu mengenal dia? lagian andai juga kenal, kamu bukan saingan Mezza Dazzuri Kusuma, jika bukan dengan istrinya jangan harap mendapatkan perlakuan hangat dari dia." ucap Erik yang tau betul siapa Daffin Arkarna.
"Jadi mau kamu apa?"
"Bukannya kamu yang mau nendang aku tadi siang?"
Mendengar pertanyaan lelaki itu buat Gladys ingat kejadian tadi sore.
__ADS_1
"Kamu kan yang ingin...."
Kamu bicara apa sih? kamu mau seperti apa pernikahan kita?" Gladys coba mengalihkan topik pembicaraan.
"Emang kamu mau menikah dengan saya? saya ini pernah gagal loh, saya punya satu anak."
"Emang aku bisa menolak? kamu bertanya tapi kamu sendiri tau jawabannya." jawab Gladys kembali duduk di bangku yang ia duduki tadi.
"Kamu memang nggak punya pacar?"
Pertanyaan Erik membuat ego Gladys memberontak.
"Aku mau menikah sama kamu karena permintaan keluarga, bukan berarti tidak ada yang mau dengan aku, banyak lelaki yang mau dengan aku,tapi keluargaku menolak."
"Saya rasa jawaban anda sangat tidak nyambung dengan pertanyaan yang saya berikan, pertanyaan saya apakah anda punya pacar?"
Gladys semakin geram karena lelaki itu memanggilnya dengan kata anda.
"Kenapa anda terlalu kepo dengan masalah pribadi saya?"
"Ini bukan kepo, saya hanya tidak mau di kemudian hari pacar anda menyebabkan masalah."
"Untuk hal itu anda tenang aja."jawab Gladys sambil berdiri.
"Saya rasa pembicaraan kita sudah selesai." Gladys berjalan meninggalkan Erik.
"Erik hanya mengikuti langkah kaki Gladys. Otaknya masih berpikir bagaimana nanti menghadapi wanita yang satu ini.
Apalagi dia harus membina rumah tangga dengan wanita yang ia belum kenal?
Mereka di sambut oleh keluarga Gladys. Nampak semua pihak keluarga wanita itu tampak bahagia sekali. Dan yang Erik kiat, wanita itu juga seolah-olah nampak bahagia didepan keluarganya.
"Jika kalian sudah saling mengenal, maka kapan kamu membawa keluarga kamu untuk melamar Gladys secara resmi?" tanya Farhan kepada Erik.
"Secepatnya saya kabari pak."
"Baik, kamu ingin pernikahan ini jangan terlalu lama, secepatnya pernikahan ini harus terlaksana." ucap Farhan.
"Bulan depan?"Tanya Erik.
"Kamu maunya Minggu depan." jawab Ana.
Gladys dan Erik sangat kaget mendengar jawaban Ana. Mereka tidak mengira akan secepat itu.
"Kasih saya waktu dua Minggu, saya akan mengenalkan Gladys kepada anak saya." ucap Erik meminta waktu.
"Apakah anak kamu tinggal bersama kamu?" tanya Aldo yang sedari tadi diam.
__ADS_1
"Iya."
"Jika memang seperti itu, maka kita perlu memberi waktu takutnya sang anak keberatan." jawab Aldo.
"Baiklah dua Minggu, lalu pesta seperti apa yang kalian inginkan?" tanya Ana nampak gembira sekali.
"Pesta biasa aja." jawab mereka kompak.
"Saya mau biasa aja tanpa banyak undangan." ucap Erik.
"Aku juga begitu, jika perlu nikah lalu doa aja." ucap Gladys.
"Tapi ini pernikahan kamu,ini cuma sekali seumur hidup."
"Aku tidak masalah kak."
"Baiklah." jawab Ana mengalah.
Pembicaraan telah selesai. Erik akhirnya undur diri. Tidak lama setelah Erik pulang, Karin dan Aldo juga pulang.
Sepanjang acara Karin Menag tidak banyak bicara. Ia takut jika ia bicara maka akan membuat yang lainnya tersinggung. Apalagi Karin dan Gladys tidak begitu bagus hubungannya.
Sedangkan Ana dan Farhan nampak agak lega sedikit setelah perundingan malam ini. Ana hanya berharap semoga rumah tangga adiknya langgeng terus. Ana sebagai kakak selalu berdoa terbaik untuk sang adik.
"Udah puas kamu sayang?" tanya Farhan lansung memeluk sang istri.
"Puas sih cuma belum lega aja hati ini sampai pernikahan mereka tiba."Jawab Ana.
"Semoga mereka bahagia ya." ucap Ana lagi.
"Aamiin, jadi apakah malam ini aku sudah bisa melakukannya tugas berikutnya?" tanya Farhan tersenyum.
"Tugas apalagi?' tanya Ana bingung.
"Tugas negara sayang."
Mendengar jawaban Farhan membuat Ana merinding. Ia merasa lelah sekali hari ini.
"Hari ini kalender merah,jadi libur, ayok tidur." ucap Ana lansung menutup matanya.
Farhan hanya tersenyum mendengar jawaban sang istri. Melihat istrinya memejamkan mata, membuat ia menyelimuti tubuh istrinya.
Farhan juga menutup matanya karena ia juga lelah hari ini. Mengambil alih perusahaan keluarga istrinya membuat waktunya cukup tersita banyak. Ia merasa lelah karena banyaknya meeting yang harus ia hadiri.
Ana membuka matanya saat mendengar suara dengkuran lembut keluar dari Farhan. Ia tersenyum saat melihat sang suami tertidur dengan cepat.
"Kamu pasti lelah banget, terima kasih telah selalu membantu aku untuk keluar dari setiap masalah yang rumit."ucap Ana sambil mengelus rambut Farhan.
__ADS_1
"I Love You."
Ana mengecup pipi Farhan sebelum ia memejamkan matanya kembali.