Nikahi Dia Demi Aku

Nikahi Dia Demi Aku
Bab 9


__ADS_3

Ana sudah berasa di rumah sakit sejak tadi pagi. Mereka pihak rumah sakit telah menghubunginya untuk melakukan operasi yang diminta.


Sejak tadi pagi Ana telah berpuasa. Harusnya ketika siang Ana sudah bisa di operasi. Namun saat ia di periksa oleh dokter Mezza sang dokter anestesi, dokter Mezza tampak marah kepada sang suami.


"Bisa - bisanya dia memberi makan bubur ayam." ucap Mezza kesal kepada Farhan.


"Dok, jika istri saya kelaparan bagaimana?" tanya Farhan membalas tatapan sinis Mezza dengan senyuman.


"Kamu bodoh ya, mana bisa di suntik bius jika pasien baru siap makan, ini kadar gulanya naik." jawab Dokter Mezza.


"Emang nggak bisa di bius?" tanya Farhan.


"Ya bisa namun beresiko, konsekuensinya tinggi, tekanan darahnya naik karena mengonsumsi karbohidrat, besok - besok kamu tolong ikuti aturan dokter, kamu ini menyusahkan saja Farhan, sekolah tinggi tapi......"


"Sudahlah dok, mundur aja operasinya."


"Enak kamu ngomong begitu, ruangan sudah di siapkan."


Tiba-tiba dokter Amar datang bersama perawat.


"Apa apa ini dok?" tanya Dokter Amar mendengar sekilas keributan Mezza di ruangan ini.


"Saya tidak bisa memberikan suntik bius ke tubuh pasien karena pasien tekanan darahnya tinggi, tolong kasih saya waktu 6 jam lagi dok."


Amar paham kekuatiran yang di alami oleh dokter Mezza. Namun nasi sudah menjadi bubur. Dan buburnya sudah di makan.


"Baiklah, nanti jika sudah siap, kamu hubungi saya." ucap dokter Amar meriksa kondisi Ana sekilas.


"Semoga operasi kamu berjalan dengan lancar Ana, om akan senang jika kamu punya semangat hidup." ujar Dokter Amar menasehati Ana.


"Pastinya dok."


"Kemungkinan berhasil besar kan dok?" tanya Farhan lagi untuk kesekian kalinya.


"Iya pak, Tetap kita serahkan kepada Allah ya pak karena saya hanya manusia, jangan pernah berputus asa."jawab dokter Amar.


Dokter Amar meninggalkan ruangan itu bersama dengan dokter Mezza. Mezza nampak uring-uringan karna kerjaan Farhan.

__ADS_1


Sedangkan Ana hanya dia merenggut karena mengingat perkataan dokter Mezza tadi. Dia juga mengakui salah karena melanggar apa yang di perintahkan oleh dokter.


"Salah kamu sih, memaksa aku makan." ujar Ana tidak mau di salahkan.


"Kok aku? kan yang makan kamu, coba aja kamu nolak pasti buburnya masih utuh." jawab Farhan yang juga tidak mau kalah.


"Aku jadi nggak enak sama dokter Mezza." ucap Ana.


"Tenang aja, dia itu teman aku, dia nampaknya seperti itu namun dia baik." jawab Farhan.


Detik berganti menjadi menit, dan menit berganti Jam. Telah enam jam setelah peristiwa tadi. Ana sudah siap dibawa oleh perawat untuk masuk ke ruang operasi. Ana nampak agak ketakutan untuk masuk ke dalam sana.


"Tenang, kamu pasti selamat." bisik Farhan.


"Jika aku gagal dalam operasi ini, kamu janji akan menikahi adik aku demi aku?" ujar Ana.


"Iya, kenapa harus jadi bicara seperti itu saat ini." ujar Farhan.


"kamu harus janji dulu dari sekarang."


"Kamu kan udah dengar, jangan sampai harus berkali-kali."


Farhan Terduduk di kursi tunggu. Ia harus memastikan keadaan Karin baik - baik saja.


Farhan Terduduk lama di sana. Sudah dua jam dia menunggu namun lampu operasi belum juga padam.


Farhan sedikit takut jika kehilangan Ana secepat ini. Rasa yang pernah hilang telah mulai tumbuh di hatinya kembali saat ini.


Farhan tampak semakin panik ketika melihat beberapa perawat mondar mandir keluar. Mereka sibuk mencari stok darah saat itu.


"Ada apa ini?" tanya Farhan panik sendiri.


Tidak ada yang merespon pertanyaan Farhan. Farhan akhirnya mencegat perawat ketika keluar lagi dari dalam ruangan operasi.


"Ada apa dengan operasi istri saya.?" tanya Farhan kepada perawat yang ada di depannya.


"Istri bapak mengalami pendarahan, untuk saat ini kami mencari stok darah, dan sampai saat ini pendarahan belum selesai." jawab perawat.

__ADS_1


Setelah menjawab sang suami, perawat kembali ke ke tugasnya semula.


Farhan hanya bisa berdoa saya ini agar sang istri selamat dalam operasinya. Itu saja doa Farhan dalam hatinya.


Sedangkan di dalam ruang monitor, Direktur Galuh sedang berdiri mengamati operasi yang sedang berlangsung. Di dalam ruangan sana ada nampak adiknya dokter Amar sedang fokus melakukan operasi menggunakan mikroskop sistem. setelah sekian lama, akhirnya pendarahan dapat di hentikan oleh dokter Amar.


Semua yang ada di dalam kamar operasi tampak bahagia karena operasi berjalan dengan baik. Begitu juga dengan Galuh, dia sangat bahagia melihat kebahagiaan dokter - dokter serta perawat yang membantu jalannya operasi.


Setelah selesai,Dokter Amar menyuruh dokter Rey untuk melakukan jahitannya. Dokter Amar lansung keluar karena tugasnya telah selesai.


Setelah selesai, dokter yang lain juga ikut keluar. Mereka mencuci tangan mereka agar bersih dari kuman yang membahayakan.


Ketika Mezza keluar dari ruang operasi, Farhan lansung menghampirinya sang dokter.


"Bagaimana dokter?"


.


"Alhamdulillah dia selamat, bahkan setelah pendarahan , dia memang sangat kuat ." jawab perawat dengan senyum.


"Alhamdulillah." ucap Farhan senang.


"Kapan saya bisa menjenguknya?"ujar Deni.


"Nanti kamu tunggu saja dia dipindahkan ke kamar inap.


...****************...


Gladys nampak sedang melamun sejak tadi. Entah apa yang ia pikirkan sampai saat ini. Tidak ada yang ia kerjakan sejak tadi pagi.


Entah apa yang ia rasakan terakhir ini. Dia merasa bahwa dia telah jatuh hati kepada kakak iparnya. Hari - hatinya merasa lebih terisi saat bersama dengan kakak iparnya itu.


"Dulu kenapa aku tidak ada rasa dengan dia?" tanya Gladys dalam hati .


"Dia gagah, cekatan." ujarnya sambil tersenyum bahagia.


"Tapi apakah akan begini terus? dia adalah suami kakakku, tapi kan kak Ana tidak suka sama dia, semoga setelah sehat mereka berpisah." ucap Gladys tersenyum sendiri.

__ADS_1


Gladys mengeluarkan ponselnya, dia mencari nomor Farhan. Entah kenapa dia sangat ingin mendengarkan suara lelaki ini saat ini.


__ADS_2